Feature

Hijrah sebagai Etos Hidup: Ngaji Ar-Riqaq Subuh di Masjid Jamik eLKISI

84
×

Hijrah sebagai Etos Hidup: Ngaji Ar-Riqaq Subuh di Masjid Jamik eLKISI

Sebarkan artikel ini
Kitab Ar-Riqaq: Agar Hati Menjadi Lunak (Tagar.co/Istimewa)

Ngaji Ar-Riqaq di Masjid Jami eLKISI mengajak jemaah memaknai hijrah bukan sebagai slogan, melainkan sebagai etos hidup Qur’ani yang melahirkan keunggulan dan daya saing.

Tagar.co — Suasana Subuh di Masjid Jamik eLKISI Pungging, Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Tomur, kembali hidup dengan kajian rutin Ngaji Ar-Riqaq, Ahad (18/1/2026).

Selepas salat Subuh, jamaah larut dalam pengajian yang diasuh langsung oleh K.H. Dr. Fathur Rohman, Pengasuh Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI yang sekaligus penulis Kitab Ar-Riqaq: Agar Hati Menjadi Lunak, yang secara konsisten menjadi rujukan kajian Subuh di masjid tersebut.

Dalam pemaparannya, Fathur Rohman menegaskan bahwa konsep hijrah, bergerak cepat, dan berkompetisi bukanlah sekadar jargon motivasi modern atau produk budaya kerja kontemporer.

Baca juga: Geprek Anti Galau: Dari Masjid eLKISI, Santri Belajar Menjadi Tangguh

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, berakar kuat dalam ajaran Al-Qur’an dan merupakan perintah ilahiah yang menuntut respons nyata dalam kehidupan.

Hijrah, sebagaimana dia jelaskan, tidak berhenti pada makna geografis atau simbolik. Ia adalah keberanian untuk keluar dari kondisi stagnan menuju keadaan yang lebih baik—secara spiritual, intelektual, maupun sosial. Hijrah menuntut kesadaran untuk terus bertumbuh dan menolak diam di zona nyaman.

Baca Juga:  Innisaimun: Puasa sebagai Latihan Mengendalikan Diri

Lebih jauh, Fathur Rohman menguraikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara pada tataran normatif, tetapi juga memberikan panduan praktis tentang cara manusia menjalani hidup: sigap membaca peluang, progresif dalam amal, serta berlomba dalam kebaikan.

Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi lahirnya peradaban unggul, bukan semata etos kerja pragmatis yang kering dari makna.

Jemaah Berbagi Pengalaman

Pada sesi yang sama, Arief Setiawan menyampaikan testimoni personal yang secara tegas dibedakan dari materi utama pengasuh kajian. Ia berbagi pengalaman ketika berkarier di industri perhotelan bintang lima di Surabaya.

Dunia profesional, menurutnya, membentuk etos kerja yang keras melalui persaingan, target kinerja, dan sistem jenjang karier yang ketat.

“Dalam dunia kerja profesional, semakin tinggi posisi, semakin besar tanggung jawab dan persoalan yang harus diselesaikan. Dari situ, inisiatif, kreativitas, dan inovasi tumbuh secara alami,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa pengalaman tersebut merupakan refleksi pribadi, yang kemudian ia temukan selaras dengan nilai hijrah, kecepatan, dan kompetisi dalam kebaikan sebagaimana disampaikan KH. Fathur Rohman.

Baca Juga:  Mengapa Puasa Disebut Milik Allah?

Ngaji Ar-Riqoq ini pada akhirnya mengajak jemaah melakukan refleksi kritis: sejauh mana nilai hijrah, bergerak cepat, dan berlomba dalam kebaikan benar-benar diinternalisasi sebagai budaya kerja dan budaya hidup kaum Muslimin.

Jika dunia profesional sekuler mampu memetakan keberhasilan melalui perencanaan dan etos produktif, maka Al-Qur’an—sebagaimana ditegaskan dalam Ar-Riqaq—telah lebih dahulu menawarkan kerangka nilai yang komprehensif dan bermakna.

Melalui kajian ini, Masjid Jamik eLKISI diharapkan terus menjadi ruang pembentukan kesadaran spiritual sekaligus etos peradaban—agar umat tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga unggul, tangguh, dan kompetitif dalam kehidupan nyata. (#)

Jurnalis Muhammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni