
Ratusan siswa dan guru turun ke jalan mengenakan busana adat, menghidupkan semangat emansipasi Kartini yang tetap relevan di dunia pendidikan masa kini.
Tagar.co – Semangat emansipasi R.A. Kartini terasa hidup di lingkungan SMK Muhammadiyah 4 Sangkapura (SMK Muda), Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Selasa (21/4/2026). Seluruh warga sekolah turut ambil bagian dalam pawai bersama untuk memperingati Hari Kartini, menciptakan suasana yang meriah dan penuh makna.
Sejak pukul 07.00 WIB, halaman sekolah telah dipenuhi warna-warni kebaya, jarik, dan beskap. Para guru, staf tata usaha, hingga siswa tampil anggun dan gagah dalam balutan pakaian adat Jawa.
Baca juga: Kartini dan PR Kita: Pendidikan yang Belum Sepenuhnya Merdeka
Diiringi alunan gamelan dari pengeras suara, barisan pawai bergerak menyusuri rute Jalan Raya Sekolah – Jalan Daun – Jalan Mutiara Indah – dan kembali ke sekolah. Sorak sorai “Habis Gelap Terbitlah Terang” menggema sepanjang perjalanan, disambut antusiasme warga sekitar yang turut mengabadikan momen.
Wakil Kepala Kurikulum SMK MUDA, Mutmainnah, S.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Menurutnya, pawai menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai perjuangan Kartini yang tetap relevan hingga kini.
“Pelajar perempuan di jurusan Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL) dapat menjadi akuntan hebat, sementara pelajar laki-laki di jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO) tetap mampu menghargai peran perempuan. Setara, tetapi tetap menjunjung budaya,” ujarnya haru.

Peringatan Hari Kartini akan berlanjut pada Rabu (22/4/2026) melalui Lomba Kolase Foto bertema “Kartini Masa Kini di SMK”.
Sebanyak 29 tim dari kelas X, XI, dan XII, yang berasal dari jurusan AKL dan TKRO, akan berpartisipasi. Para peserta akan berkreasi menggunakan berbagai bahan, seperti potongan koran bekas, biji-bijian, hingga kain perca.
Guru Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK), Ida Puji Hartiningsih, yang akan bertindak sebagai juri, menyampaikan optimismenya terhadap kreativitas siswa.
“Saya yakin siswa TKRO yang terbiasa memegang kunci inggris juga mampu telaten dalam membuat kolase. Emansipasi bukan tentang bertukar peran, melainkan saling menghargai,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan pembacaan puisi “Ibu Kita Kartini” oleh perwakilan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Frishella Agustin, siswi kelas XII AKL, dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Meski lelah dan berkeringat, senyum bangga terpancar dari wajah para siswa.
Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya mengenakan kebaya, tetapi juga mulai memahami nilai-nilai perjuangan Kartini: berani bermimpi, berani berkarya, serta tetap menjaga jati diri. (#)
Jurnalis Firlana Izaty Penyuntng Mohammad Nurfatoni












