
Kita sering merayakan simbol, tapi lupa pada gagasan. Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia lebih sibuk menulis dan berbicara, bukan sekadar difoto.
Oleh Ain Nurwindasari, aktivis Aisyiyah
Tagar.co – Setiap kali Hari Kartini tiba, suasana yang paling terasa justru sering berputar pada satu hal: kebaya. Anak-anak perempuan mengenakan kebaya lengkap dengan sanggul dan selendang, lalu berbaris untuk berfoto bersama.
Anak laki-laki pun tak ketinggalan, mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Tradisi ini sudah begitu melekat hingga terasa seperti bagian utama dari perayaan.
Baca juga: Perempuan Super Itu Mitos: Kartini Tidak Pernah Mengajarkannya
Namun, di balik kemeriahan itu, muncul satu pertanyaan sederhana yang layak direnungkan: sebenarnya apa yang kita peringati? Sosok Kartini, atau sekadar simbol pakaiannya?
Tidak ada yang salah dengan kebaya. Ia adalah bagian dari identitas budaya, warisan yang patut dijaga. Tetapi menjadi kurang proporsional jika sosok sebesar Kartini direduksi hanya pada apa yang ia kenakan. Kebaya hanyalah bagian kecil dari konteks zamannya, bukan inti dari perjuangannya.
Pertanyaan lain pun muncul: pada masa Kartini hidup, apakah semua perempuan memakai kebaya? Ataukah kebaya lebih lekat dengan kalangan tertentu, seperti bangsawan atau priyayi? Jika demikian, menjadikan kebaya sebagai simbol universal Hari Kartini terasa kurang tepat. Sebab yang diperjuangkan Kartini justru melampaui batas-batas kelas sosial.
Yang membuat Kartini dikenang bukanlah pakaiannya, melainkan pikirannya. Ia adalah sosok perempuan yang melampaui zamannya—gemar membaca, menulis, berdiskusi, dan berani mempertanyakan keadaan. Kartini tidak sekadar menerima realitas, tetapi mencoba memahaminya, bahkan mengubahnya.
Bayangkan jika Kartini hidup di era sekarang. Kemungkinan besar ia tidak hanya hadir dalam seremoni formal dengan kebaya. Ia mungkin aktif di ruang-ruang diskusi, menghadiri seminar, berbicara di forum pendidikan, atau menulis gagasan di berbagai platform digital.
Media sosial barangkali menjadi salah satu saluran ekspresinya, tempat ia menyuarakan pemikiran tentang pendidikan, perempuan, dan kemajuan masyarakat.
Kartini adalah representasi perempuan berkemajuan. Dalam konteks hari ini, kemajuan itu tidak hanya tercermin dari intelektualitas, tetapi juga dari proses pembelajaran diri yang berkelanjutan—termasuk dalam hal cara berpakaian yang selaras dengan nilai yang diyakini.
Kita melihat banyak perempuan masa kini yang mengalami perjalanan serupa: dari berpakaian biasa, kemudian berproses hingga memilih hijab, gamis, atau busana yang lebih longgar dan menutup aurat. Perubahan itu bukan karena paksaan, melainkan hasil dari pencarian, pemahaman, dan kesadaran diri.
Sebagai sosok yang haus ilmu, Kartini sangat mungkin mengalami perjalanan yang sama. Ia akan terus belajar, memperbaiki diri, dan mencari bentuk terbaik dari dirinya.
Dalam bayangan itu, Kartini masa kini bisa jadi adalah perempuan cerdas yang tetap anggun dengan hijabnya, aktif dalam kajian, produktif menulis buku, serta hadir di berbagai forum untuk memperjuangkan pendidikan dan hak perempuan.
Mungkin ia tidak selalu mengenakan kebaya. Bisa jadi ia lebih sering memilih gamis sederhana, tunik panjang, atau pakaian lain yang nyaman, sopan, dan mencerminkan nilai yang ia yakini. Karena pada akhirnya, yang paling penting dari Kartini bukanlah model bajunya—melainkan keluasan pikirannya, keberanian sikapnya, dan warisan gagasannya.
Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat itu. Bukan sekadar mengenang simbol, tetapi melanjutkan perjuangan: berpikir kritis, terus belajar, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












