Rileks

Dari Córdoba ke Granada: Menapaktilasi Warisan Islam di Spanyol

81
×

Dari Córdoba ke Granada: Menapaktilasi Warisan Islam di Spanyol

Sebarkan artikel ini
Penulis dan istri di Jembatan Musa bin Nushair dengan latar Masjid Córdoba — perpaduan arsitektur megah yang menjadi saksi kejayaan peradaban Andalusia di masa lalu. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Perjalanan ini membuka lembaran sejarah Andalusia—tentang kemegahan arsitektur, kejayaan ilmu, dan pelajaran dari runtuhnya sebuah kekuasaan.

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Perjalanan tour Maroko–Portugal–Spanyol menghadirkan kisah yang bukan sekadar wisata, tetapi juga tapak tilas peradaban besar yang pernah berjaya di Eropa.

Baca juga: Menyusuri Jejak Islam di Tanah Portugal

Dua kota, Córdoba dan Granada, menjadi saksi bisu kejayaan tersebut—menyuguhkan perpaduan sejarah, arsitektur, dan pelajaran berharga tentang naik turunnya sebuah peradaban.

Menara Calahorra, Córdoba — benteng tua di tepi sungai yang kini menjadi pengingat harmoni lintas budaya di masa Andalusia. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Dari Badajoz ke Córdoba: Menyusuri Gerbang Andalusia

Perjalanan dimulai dari Badajoz, kota perbatasan Portugal–Spanyol, pada 28 April 2026 pukul 08.00 pagi. Dengan jarak sekitar 141 kilometer, rombongan tiba di Córdoba dua jam kemudian.

Kota ini langsung menyambut dengan atmosfer sejarah yang kental—seolah mengajak setiap pengunjung menyelami masa lalu Andalusia.

Didampingi pemandu lokal, Raffael Jesus Alvarez Córdoba—yang fasih berbahasa Indonesia—rombongan diajak mengunjungi berbagai situs penting.

Masjid–Katedral Córdoba — saksi bisu perpaduan dua peradaban besar yang meninggalkan jejak arsitektur luar biasa. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Córdoba: Kota Warisan Peradaban

Salah satu titik pertama adalah Jembatan Musa bin Nushair, jembatan bersejarah yang melintasi Sungai Wadi Al-Kabir. Awalnya dibangun oleh Romawi, jembatan ini kemudian diperkuat pada masa Islam dengan struktur yang kokoh dan desain megah, terdiri dari 17 lengkungan yang simetris.

Baca Juga:  Menelisik Resep Kemajuan Cina: Catatan Perjalanan ke Shenzhen

Tak jauh dari sana berdiri Menara Calahorra, benteng pertahanan kuno yang kini menjadi museum hidup Al-Andalus. Tempat ini merekam masa ketika Muslim, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan dalam harmoni.

Namun, ikon utama Córdoba adalah Masjid-Katedral Córdoba (Mezquita). Bangunan ini memiliki perjalanan panjang: dari gereja Visigoth, menjadi masjid megah pada era Abdurrahman I, hingga akhirnya berfungsi sebagai katedral setelah penaklukan oleh Raja Ferdinand III. Kini, kompleks tersebut menjadi simbol percampuran budaya yang unik—70 persen museum dan 30 persen katedral aktif.

Menariknya, meski Córdoba pernah menjadi pusat Islam di Eropa, kini hanya terdapat masjid kecil yang digunakan komunitas Muslim setempat.

Patung Mohamed Al Gafeolii, Córdoba — penghormatan bagi ilmuwan dan dokter mata yang berjasa dalam dunia kedokteran. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Jejak Ilmuwan dan Kota Istana

Córdoba juga menyimpan jejak tokoh ilmuwan seperti Mohamed Al Gafeolii, seorang dokter mata yang dikenal melalui karya The Right Guide to Ophthalmology. Patungnya masih berdiri sebagai penghormatan atas kontribusinya.

Keesokan harinya, rombongan mengunjungi Medina Az-Zahra, kompleks istana megah yang dibangun oleh Abdurrahman III sebagai pusat pemerintahan Kekhalifahan Córdoba. Meski kini tinggal reruntuhan, kemegahan masa lalu masih terasa dari struktur dan tata kotanya.

Baca Juga:  Benarkah Kita Telah Menang?
Situs Medina Az-Zahra, Córdoba — jejak kejayaan istana megah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kekhalifahan Andalusia. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Granada: Benteng Terakhir Andalusia

Perjalanan berlanjut ke Granada, sekitar 200 kilometer dari Córdoba. Kota ini menjadi penutup kisah panjang kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia.

Di kawasan Albaicín, rombongan melaksanakan salat di masjid yang kini menjadi simbol keberadaan Muslim modern di Granada. Masjid ini berdiri menggantikan bangunan lama yang telah beralih fungsi.

Masjid dan taman di Albaicín, Granada — ruang tenang di tengah kota tua yang menyimpan nuansa spiritual dan sejarah. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Alhambra: Mahakarya di Atas Bukit

Puncak perjalanan di Granada adalah kunjungan ke Istana Alhambra—kompleks istana dan benteng yang dibangun pada abad ke-13 oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar.

Berdiri di atas Bukit La Sabica, Alhambra menawarkan panorama kota Granada dari ketinggian sekaligus menampilkan keindahan arsitektur Islam dengan ukiran kaligrafi Al-Qur’an di dinding-dindingnya.

Dengan luas sekitar 14 hektar, Alhambra merupakan satu-satunya kompleks istana Islam yang masih utuh dari era Dinasti Nasrid—kerajaan Islam terakhir di Eropa Barat.

Namun, kejayaan itu berakhir pada 2 Januari 1492, ketika Granada jatuh ke tangan Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella I. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Spanyol.

Baca Juga:  19 Jam Menuju Maroko: Dari Casablanca ke Gerbang Andalusia
v\Istana Alhambra dari Albaicín, Granada — megah berdiri di kejauhan dengan warna cokelat khas yang menyatu dengan lanskap kota. (Tagar.co/Mohamad Isa)

Refleksi: Pelajaran dari Sejarah

Córdoba dan Granada bukan hanya destinasi wisata, melainkan cermin perjalanan peradaban. Di masa lalu, kota-kota ini menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya yang maju.

Namun, sejarah juga mengingatkan bahwa setiap kejayaan memiliki masa puncak dan masa penurunan.

Perjalanan ini meninggalkan satu pesan kuat: kemajuan peradaban lahir dari ilmu dan toleransi, tetapi keberlanjutannya bergantung pada bagaimana nilai-nilai itu dijaga. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni