OpiniUtama

Ingin Damai tapi Mengajak Perang

230
×

Ingin Damai tapi Mengajak Perang

Sebarkan artikel ini

Banyak yang menyerukan perdamaian, tetapi konflik justru kian meluas. Di baliknya, ada ego dan nafsu manusia yang tak pernah benar-benar usai.

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Kata damai dan perang menjadi topik pembicaraan di dunia saat ini.

Seperti syair lagu bergenre qasidah yang berjudul “Perdamaian” yang dinyanyikan oleh Nasida Ria Group. Ada bait liriknya: Perdamaian… perdamaian… Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai, bingung-bingung ku memikirkannya.

Syair ini diciptakan oleh K.H. Bukhori Masruri pada tahun 1982.

Peristiwa Damai dan Perang

Peristiwa ini sungguh terjadi saat ini. Jalur Gaza yang mengalami peperangan diupayakan damai melalui skema BoP (Board of Peace) dengan melibatkan beberapa negara. Tidak lama setelah deklarasi BoP, terjadi penyerangan Israel–AS ke Iran dengan slogan Epic Fury (kemarahan yang luar biasa).

Akhirnya terjadi perang yang melibatkan beberapa negara.

Perang sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Tanda-tanda berakhirnya perang belum terlihat. Entah kapan?

Namun, secara naluri, ada batas kejenuhan untuk terus berperang yang pada akhirnya mengarah pada perdamaian.

Baca Juga:  Silaturahmi Alumni FK ULM di Samarinda, Merajut Kembali Ikatan Guru dan Murid

Demikianlah kisah hidup manusia.
Ada awal dan ada akhir.

Nafsu Manusia

Nafsu manusia tidak akan habis hingga berakhir dalam kematian.

Kepemilikan harta benda didasari nafsu dunia. Punya satu barang atau wilayah, ingin bertambah lagi, dan terus bertambah.

Perang pun didasari oleh nafsu manusia: nafsu untuk tetap berjaya, mengembangkan jati diri, menguasai, dan nafsu-nafsu lainnya.

Kepribadian NPD

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau Gangguan Kepribadian Narsistik adalah kondisi kesehatan mental kronis yang ditandai oleh pola perilaku berpusat pada diri sendiri (egois), kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, serta rasa superior.

Para pemimpin yang memiliki kepribadian NPD juga dapat memicu perselisihan atau peperangan.

Ada 10 ciri NPD, yaitu:

  1. Merasa istimewa atau lebih baik dari yang lain.
  2. Mencari perhatian dan pengakuan dari orang lain.
  3. Berfantasi tentang kesuksesan atau kekuatan.
  4. Mudah tersinggung dan marah.
  5. Melebih-lebihkan prestasi dan kemampuan.
  6. Sulit mengatur perasaan.
  7. Depresi dan murung saat tidak mendapatkan yang diinginkan.
  8. Sensitif terhadap penolakan, kritik, dan kegagalan.
  9. Tidak ragu mengatakan hal yang dapat menyakiti orang lain.
  10. Menunjukkan perilaku arogan.
Baca Juga:  Pendidikan Gratis atau Makan Gratis?

Mengakhiri Perang

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Perang pada akhirnya pasti menuju damai—tinggal menunggu waktu.

Perang akan berakhir bila ego masing-masing pihak diturunkan. Selama ego tetap tinggi, perang akan terus terjadi.

Ego manusia ada waktunya. Ada kalanya mencapai titik tertinggi, dan ada masanya mulai menurun.

Yang saat ini merasa sebagai negara superpower, seiring waktu bisa menjadi underpower dan bahkan punah. Dunia terus berputar. Di situlah letak keterbatasan manusia.

Penutup

Damai dan perang telah menjadi bagian dari cerita dalam peradaban manusia.

Ego seseorang menentukan kapan perang dan damai terjadi.
Jagalah ego agar tetap bermanfaat bagi sesama manusia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni