
Sebanyak 36 siswa SMP Muhammadiyah 2 Taman, Sidoarjo, menjelajahi Putrajaya—menyaksikan langsung konsep kota pintar, arsitektur ikonik, dan semangat masa depan dalam perjalanan edukatif MYPO 3.0.
Tagar.co — Langit sore di Putrajaya menyambut langkah 36 siswa SMP Muhammadiyah 2 Taman (Spemduta) Sidoarjo, Jawa Timur, dalam perjalanan internasional mereka.
Selasa (28/4/2026) menjadi pembuka kisah yang tak sekadar perjalanan, tetapi juga pengalaman belajar lintas batas dalam program Moslem Youth Project Olympiad and Culture Exchange (MYPO) 3.0 di Malaysia dan Singapura.
Baca juga: Hari Pertama di Malaysia, Rombongan Pelajar Muhammadiyah Sidoarjo Kunjungi Ikon Nasional
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Kuala Lumpur International Airport pukul 16.30 waktu setempat. Tanpa berlama-lama, rombongan yang didampingi tujuh guru langsung bergerak menuju pusat pemerintahan Malaysia. Di sinilah perjalanan mulai terasa berbeda—lebih dari sekadar kunjungan wisata.
Destinasi pertama adalah Dataran Putra, ruang terbuka luas yang berhadapan langsung dengan Perdana Putra. Di tempat ini, para siswa berdiri di jantung administrasi negara jiran, menyimak penjelasan pemandu lokal, Zuhairi, tentang bagaimana Putrajaya dirancang sebagai kota pintar yang mengintegrasikan pemerintahan modern dengan lingkungan yang tertata.
Kepala Spemduta, M. Arif Syaifudin, menegaskan bahwa perjalanan ini membawa misi yang lebih dalam. Baginya, pengalaman melihat langsung pusat pemerintahan modern akan membuka wawasan siswa tentang bagaimana sebuah kota dirancang dengan visi jangka panjang. Ia menyinggung bagaimana Indonesia tengah membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai langkah serupa menuju masa depan.
Langkah berikutnya membawa rombongan ke salah satu ikon Putrajaya, Masjid Putra. Kubah merah muda yang berdiri anggun di tepi danau menjadi daya tarik yang tak terbantahkan. Di sana, siswa tidak hanya mengagumi keindahan arsitektur yang memadukan unsur Melayu, Timur Tengah, dan modern, tetapi juga belajar tentang konsep green city serta pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik.
Kesan mendalam datang dari salah satu peserta, Asshifah Nur Aulia Al Asyari, siswi kelas 7E. Dengan spontan ia menggambarkan kekagumannya—gedung-gedung tinggi, fasilitas modern, hingga masjid berwarna pink yang menurutnya paling menarik perhatian. Ungkapan sederhana itu mencerminkan bagaimana pengalaman visual mampu meninggalkan jejak kuat dalam ingatan pelajar.
Hari pertama ditutup dengan makan malam bersama di Pelita Samudra Pertama (M) SDN. BHD. di Kuala Lumpur. Suasana hangat dan kebersamaan menjadi penutup yang pas sebelum mereka melangkah ke agenda berikutnya.
Rabu ini, rombongan dijadwalkan melanjutkan kegiatan Culture Exchange di Pondok Modern Al Abaqirah. Pertukaran budaya ini diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih luas—tidak hanya memahami dunia, tetapi juga memperkenalkan identitas mereka sebagai generasi muda Indonesia. (#)
Jurnalis Emil Mukhtar Penyunting Mohammad Nurfatoni












