Feature

Aliansi BEM Surabaya Gaungkan Kolaborasi Mahasiswa-Buruh untuk Keadilan Sosial

207
×

Aliansi BEM Surabaya Gaungkan Kolaborasi Mahasiswa-Buruh untuk Keadilan Sosial

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa dan perwakilan buruh berfoto bersama usai “Cangkruan dan Diskusi May Day Aliansi BEM Surabaya” di Universitas Bhayangkara Surabaya, Selasa (28/4/2026). (Tagar.co/Nur Amalia Fitri)

Isu eksploitasi tenaga kerja hingga peran negara dalam kesejahteraan menjadi sorotan dalam diskusi yang mempertemukan berbagai elemen gerakan menjelang peringatan Hari Buruh.

Tagar.co — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Surabaya tidak hanya diisi dengan aksi turun ke jalan, tetapi juga ruang dialektika yang mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan elemen buruh.

Aliansi BEM Surabaya menggelar diskusi publik bertajuk “Cangkru’an dan Diskusi May Day Aliansi BEM Surabaya” di Universitas Bhayangkara Surabaya, Selasa (28/4/2026), sebagai wadah konsolidasi dan refleksi bersama.

Baca juga: Aliansi BEM Surabaya Bangun Ruang Dialog Kritis dan Solutif dengan Pemkot

Mengusung tema “Mahasiswa & Buruh Bersatu, Mengkritisi Ketimpangan dan Mengawal Keadilan”, forum ini membedah persoalan ketenagakerjaan dan ketimpangan sosial yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari anggota DPRD Kota Surabaya M. Saifuddin; akademisi hukum Dr. Jamil; hingga perwakilan Dewan Buruh Nasional Konfederasi KASBI, Syahril Romadhon.

Acara dipantik oleh Presiden Mahasiswa BEM Ubhara Devano Faradiska Eka Candra dan Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya Nasrawi Ibnu Dahlan, serta dimoderatori Viky Dwi Nurviyanto.

Baca Juga:  Aliansi BEM Surabaya Bangun Ruang Dialog Kritis dan Solutif dengan Pemkot

Dalam pengantar diskusi, Devano menekankan bahwa May Day seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum reflektif atas realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Ia menegaskan pentingnya kehadiran mahasiswa dalam isu-isu kerakyatan.

Menurutnya, mahasiswa dan buruh memiliki semangat perjuangan yang sama dalam memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan. Karena itu, ruang diskusi dinilai penting untuk membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat solidaritas lintas elemen gerakan.

Senada dengan itu, Nasrawi Ibnu Dahlan menyoroti urgensi persatuan gerakan mahasiswa di tengah kompleksitas persoalan sosial-ekonomi. Ia menilai mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengamat.

Mahasiswa, kata dia, harus tetap kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, khususnya terkait ketenagakerjaan dan kesejahteraan buruh. Ia juga mendorong lahirnya gerakan mahasiswa yang progresif, kolaboratif, dan dekat dengan masyarakat.

Sementara itu, Dr. Jamil dalam pemaparannya mengulas akar historis ketimpangan ekonomi Indonesia melalui perspektif revolusi industri. Ia menilai Indonesia tidak mengalami revolusi industri seperti negara-negara Eropa.

“Belanda datang ke Indonesia bukan untuk membangun industri rakyat, tetapi untuk mengambil sumber daya yang kita miliki,” ujar Dr. Jamil dalam forum diskusi tersebut.

Baca Juga:  Ketimpangan Gaji Dosen di Bawah UMR, Refleksi Hari Buruh

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara welfare state yang seharusnya hadir secara aktif dalam menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan perlindungan hak pekerja.

Dari sisi legislatif, M. Saifuddin menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

“Mahasiswa harus mampu memanfaatkan kesempatan belajar dengan baik. Cari tahu apa yang belum diketahui dan terus tingkatkan kapasitas diri,” ungkapnya.

Adapun dari kalangan buruh, Syahril Romadhon berharap kolaborasi antara mahasiswa dan buruh terus diperkuat. Ia menilai kedua kelompok ini memiliki posisi strategis dalam mengawal kebijakan publik agar tetap berpihak kepada masyarakat kecil.

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengangkat berbagai isu, mulai dari eksploitasi buruh hingga tantangan generasi muda dalam dunia kerja.

Forum ini menjadi bagian dari upaya konsolidasi gerakan menjelang May Day, sekaligus mempertegas komitmen bersama dalam mengawal keadilan sosial di tengah ketimpangan yang masih berlangsung. (#)

Baca Juga:  Rapimda BEM Nusantara Jatim Perkuat Konsolidasi Gerakan Mahasiswa Jelang May Day

Jurnalsi Nur Amalia Fitri Penyunting Mohammad Nurfatoni