Feature

Guru Muhammadiyah Sidoarjo Unjuk Inovasi Pendidikan di Hadapan Akademisi Malaysia

114
×

Guru Muhammadiyah Sidoarjo Unjuk Inovasi Pendidikan di Hadapan Akademisi Malaysia

Sebarkan artikel ini
Asma’ Binti Ahmad Shukri dari Dewan Penilai KPM Bandar Melaka memberikan komentar dan evaluasi kepada para peserta Best Practice School dalam sesi uji publik. (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Lewat forum Best Practice School, para guru mempresentasikan karya ilmiah inovatif dan mendapat penilaian langsung dari dosen KPM Bandar Melaka, Malaysia.

Tagar.co — Guru-guru Muhammadiyah Sidoarjo menunjukkan komitmen kuat terhadap peningkatan mutu pendidikan melalui uji publik program Best Practice School bertema Innovative and Contextual Educational Best Practices for Quality and Inclusive Schools.

Kegiatan ini berlangsung di perpustakaan pada Kamis (30/4/2026), dengan menghadirkan dewan penilai dari Kolej Profesional Mara (KPM) Bandar Melaka, Malaysia.

Baca juga: Siswa Miosi Sidoarjo Kenalkan Batik Lokal lewat Pop-Up Book, Raih Penghargaan Internasional

Dalam forum tersebut, para guru mempresentasikan karya ilmiah berbasis inovasi pendidikan yang telah mereka terapkan di sekolah masing-masing. Penyampaian dilakukan melalui kombinasi video presentasi dan poster ilmiah, yang kemudian mendapatkan tanggapan, penilaian, serta masukan konstruktif dari para akademisi KPM.

Dewan penilai terdiri dari enam dosen KPM Bandar Melaka, yakni Mohd Amirul Hafiz Bin Ramly, Asma’ Binti Ahmad Shukri, Noor Idayu Binti Abu Bakar, Muhamad Fauzi Bin Zainal Abidin, Ashikin Binti Salleh, dan Masfufah Binti AB Rahim.

Baca Juga:  SMP/MTs Muhammadiyah Sidoarjo Siap Unjuk Prestasi di MYPO Malaysia–Singapura

Dalam sambutannya, Asma’ Binti Ahmad Shukri menekankan bahwa kegiatan best practice merupakan bagian penting dari semangat kompetisi yang sehat di kalangan guru. Menurutnya, kompetisi tersebut menjadi pendorong utama dalam pengembangan kompetensi profesional.

“Best practice ini merupakan bagian dari semangat guru untuk berkompetisi, dan di dalamnya tentu ada dorongan untuk terus meningkatkan kompetensi,” ujarnya.

Sementara itu, Mohd Amirul Hafiz Bin Ramly memaparkan sejumlah aspek penilaian yang digunakan. Untuk artikel ilmiah, penilaian mencakup struktur penulisan, kelengkapan data, metodologi, serta unsur kebaruan. Adapun untuk poster dan video presentasi, fokus penilaian terletak pada kualitas konten serta kemudahan dipahami oleh audiens.

Asma’ juga memberikan evaluasi terhadap karya para guru. Ia mengapresiasi variasi gaya penulisan yang ditampilkan, mulai dari yang sudah setara standar doktoral hingga yang masih seperti pelajar. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa guru tidak boleh berhenti belajar.

Lebih lanjut, ia menyoroti pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, termasuk kemudahan akses terhadap literatur berbahasa Inggris yang cepat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hal ini dinilai sebagai peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh para pendidik.

Baca Juga:  Naik Kereta Gantung Genting Highlands, Siswa Sidoarjo Rasakan Pengalaman Baru

Ia juga mengangkat inspirasi dari kondisi pendidikan di Palestina yang tetap bertahan di tengah konflik.

“Kita belajar dari Palestina, meski dalam kondisi perang, mereka tetap mencari ilmu—karena ilmu dapat mengubah sebuah negara,” ungkapnya.

Di akhir sesi, ia mengingatkan bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan investasi jangka panjang yang bernilai hingga akhirat. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi harus menjadi komitmen berkelanjutan.

Sementara itu, Guru SMP Muhammadiyah 2 Taman, Bachtiar Adi Saputra, M.Pd., menekankan pentingnya publikasi praktik baik dalam pembelajaran.

“Mengajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Praktik baik bisa dipublikasikan dan disebarluaskan agar memberi dampak lebih luas,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi pendidikan terus tumbuh dari ruang-ruang kelas, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas negara dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. (#)

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni