Feature

Risma: Ibu Rumah Tangga Tak Perlu Minder

38
×

Risma: Ibu Rumah Tangga Tak Perlu Minder

Sebarkan artikel ini
Sesi diskusi Sarasehan Kartini di Gresik mengangkat kegelisahan ibu rumah tangga dan solusi nyata dari Risma tentang percaya diri dan pemberdayaan.
Maftuchatus Saidah, S.Pd., Wakil Ketua Bidang Lingkungan dan Kesehatan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Gresik. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Sesi diskusi Sarasehan Kartini di Gresik mengangkat kegelisahan ibu rumah tangga dan solusi nyata dari Risma tentang percaya diri dan pemberdayaan.

Tagar.co – Sesi diskusi dalam Sarasehan Hari Kartini di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Sabtu, 25 April 2026, membuka ruang yang lebih jujur. Tidak lagi sekadar panggung gagasan, tetapi tempat perempuan menyuarakan kegelisahannya.

Salah satu suara itu datang pada sesi tanya jawab. Maftuchatus Saidah (Iid), Wakil Ketua Bidang Lingkungan dan Kesehatan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Gresik bertanya.

“Saat saya kuliah, saya melihat Bu Risma susur sungai,” ujarnya menggali memori yang membuatnya bangga pada sosok yang kini duduk di panggung itu. Tepuk tangan pun terdengar mengiringi kekaguman mereka pada sosok DR. (H.C.) Ir. Hj. Tri Rismaharini, M.T.(Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana) yang terkenal totalitas saat menjabat Wali Kota Surabaya (2010-2020).

Iid lalu bertanya, “Saya ibu rumah tangga. Kadang kegiatan di rumah menjenuhkan. Ingin bekerja seperti wanita karir. Tapi ada tanggung jawab yang belum tuntas di rumah. Kadang merasa insecure, sehingga harga diri turun. Bagaimana agar kita tidak rendah diri?” tanyanya.

Baca Juga:  Mengasuh di Era Digital: Dari Layar Sentuh hingga Pola Asuh Pembentuk Karakter

Pertanyaan itu membuat ruangan kembali hening. Sebab yang ia sampaikan bukan sekadar pertanyaan, tetapi realitas yang sering tersembunyi.

Tri Rismaharini yang akrab dengan sapaan Risma pun menjawab tanpa berjarak. “Tidak usah kecil hati. (Ibu rumah tangga) Itu sudah sangat mulia,” ujarnya tegas.

Ia mengajak para ibu melihat kembali peran mereka dari sudut yang berbeda. “Bayangkan, ibu-ibu mendidik anak sampai berhasil dan sukses. Ibu sangat berperan luar biasa,” lanjutnya.

Wanita kelahiran Kediri, 20 November 1961 itu bahkan membawa kisah pribadinya sebagai penguat. “Saya bangga dengan ibu saya, meski hanya lulusan SD,” tuturnya. Bagi Risma, nilai seorang ibu tidak terukur dari jabatan, melainkan dari dampak yang ia hasilkan dalam keluarga.

Baca Juga: Tri Rismaharini: Di Rumah, Perempuan Kembali Jadi Ibu

Sesi diskusi Sarasehan Kartini di Gresik mengangkat kegelisahan ibu rumah tangga dan solusi nyata dari Risma tentang percaya diri dan pemberdayaan.
DR. (H.C.) Ir. Hj. Tri Rismaharini, M.T.(Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana. (Tagar.co/Fatma Hajar Islamiyah)

Produktif dari Rumah

Namun, ia tidak berhenti pada penguatan mental. Ia juga menawarkan solusi konkret bagi perempuan yang ingin tetap produktif tanpa meninggalkan rumah.

“Kalau waktu masih ada, gunakan untuk usaha di rumah. Sekarang lebih mudah. Bisa jualan daring,” sarannya.

Baca Juga:  Taawun Napas Gerak Muhammadiyah

Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Maju itu lantas menegaskan, karir tidak selalu berarti bekerja di kantor. “Berkarir tidak harus jadi pegawai. Pengusaha juga berkarir,” ujarnya.

Risma kemudian memberikan perspektif yang jarang wanita sadari. “Jadi wali kota atau menteri tidak bisa diwariskan ke anak. Tapi kalau panjenengan sukses menjadi pengusaha, bisa diwariskan ke anak,” katanya.

Kalimat itu seperti membuka sudut pandang baru: warisan terbaik bukan hanya jabatan, tetapi keberlanjutan usaha dan nilai kemandirian para perempuan yang menjalankan peran ibu. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni