
Sebanyak 400 santri Pondok Pesantren Al-Fattah Buduran Sidoarjo mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional di tengah terik pagi. Dengan disiplin dan khidmat, mereka menegaskan peran santri sebagai generasi berilmu yang siap menjaga NKRI.
Tagar.co – Mentari pagi di Buduran Sidoarjo telah meninggi saat jarum jam menunjukkan pukul 06.50 WIB. Hangatnya sinar matahari tak menghalangi langkah sekitar 400 santri Pondok Pesantren Al-Fattah Buduran yang bergegas menuju lapangan utama.
Pada Sabtu, 2 Mei 2026, seluruh santri tingkat SMP dan SMA bersama asatiz dan asatizah mengikuti upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan penuh khidmat.
Baca juga: DDII Jatim Targetkan 600 Dai, ADI Jadi Kunci Kaderisasi Dakwah
Upacara kali ini dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fattah, Drs. KH. Ainun Rofik, M.Pd., yang bertindak sebagai pembina upacara. Kehadiran beliau bukan sekadar menjalankan tradisi seremonial, melainkan menjadi simbol kuat bahwa pesantren turut berada di garda depan dalam membangun pendidikan sekaligus menanamkan nilai-nilai nasionalisme.
Momentum ini menegaskan bahwa santri adalah bagian dari generasi bangsa yang berperan aktif menjaga keutuhan NKRI melalui ilmu dan amal.
Lapangan pondok tertata rapi: saf santri putra berada di sisi utara, saf putri di sisi selatan, sementara para asatidz berdiri di bagian depan utara menghadap ke selatan sebagai teladan (kudwah). Seluruh peserta mengenakan seragam batik, menciptakan suasana yang seragam dan penuh kebersamaan.
Tepat pukul 07.00 WIB, upacara dimulai. Komando tegas “Laporan siap, laksanakan!” dari pemimpin upacara, Ilham Putra, santri kelas X SMA, membelah keheningan pagi. Lagu Indonesia Raya kemudian dikumandangkan di bawah arahan dirigen, Khansa Amira, santri kelas X.
Suara paduan suara yang lantang dan harmonis menggema, diikuti sikap hormat seluruh peserta yang mendengarkan dengan penuh kesungguhan.

Rangkaian upacara berlangsung tertib, mulai dari pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan Pembukaan UUD 1945, hingga doa yang dipimpin oleh Ustaz Mas’al, S.Hi., M.Ag.
Seluruh petugas upacara berasal dari kalangan santri dan guru Al-Fattah, menunjukkan kemandirian serta kesiapan mereka dalam mengemban tanggung jawab.
Meski cuaca semakin terik, tak satu pun peserta beranjak dari barisan. Keteguhan ini mencerminkan karakter santri yang telah terlatih melalui berbagai riyadhoh seperti puasa Senin-Kamis dan kiamulail. Berdiri di bawah panas selama kurang lebih 45 menit bukanlah hal berarti dibandingkan dengan perjuangan para pendiri bangsa.
Upacara Hardiknas di Pondok Pesantren Al-Fattah pun menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan—ia menjelma sebagai ruang pembentukan karakter, disiplin, dan kecintaan terhadap tanah air. (#)
Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni












