Feature

DDII Jatim Targetkan 600 Dai, ADI Jadi Kunci Kaderisasi Dakwah

103
×

DDII Jatim Targetkan 600 Dai, ADI Jadi Kunci Kaderisasi Dakwah

Sebarkan artikel ini
Dr. K.H. Fakhur Rohman, M.Pd.I., Ketua DDII Jawa Timur, menyampaikan sambutan dalam Haflah Id 1447 di Ponpes Wali Songo Ngabar, Ponorogo, Ahad (26/4/2026), sekaligus menegaskan target pencetakan 600 dai di Jawa Timur. (Tagar.co/Nur Djamilah)

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur didorong menjadi pusat pencetak dai untuk memenuhi target 600 dai di Jawa Timur yang masih kekurangan ratusan kader.

Tagar.co — Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Jawa Timur mencanangkan target besar: mencetak 600 dai sebagai penguat dakwah di seluruh provinsi Jawa Timur. Komitmen ini ditegaskan dalam acara Haflah Id 1447 yang digelar di Auditorium Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Ponorogo, Ahad (26/4/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, serta perwakilan Dewan Dakwah Solo Raya. Tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi Idulfitri, Haflah Id kali ini juga menjadi momentum konsolidasi dan kebangkitan dakwah.

Baca juga: Dari Silaturahmi ke Gerakan: Pesan para Tokoh dalam Haflah Dewan Dakwah di Ngabar

Ketua DDII Jawa Timur, Dr. K.H. Fakhur Rohman, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan seruan tegas: “Jawa Timur harus selamatkan dakwah.”

Ia menegaskan bahwa DDII Jatim tengah menyiapkan 600 dai yang akan disebar ke seluruh kabupaten/kota. Target tersebut merupakan bagian dari program strategis periode 2026–2028.

Baca Juga:  Board of Peace: Ketika Kekecewaan Tak Harus Berujung Menyalahkan

“Kenapa 600? Karena kebutuhan umat sangat besar. Idealnya setiap desa memiliki satu dai. Artinya, Jawa Timur butuh ribuan dai. Angka 600 ini adalah tahap awal,” ujarnya.

Namun, ia juga mengungkapkan kondisi riil di lapangan. Saat ini, jumlah dai DDII Jatim yang telah memiliki surat keputusan (SK) resmi baru sekitar 100 orang. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan sekitar 500 dai yang harus segera dipenuhi.

Untuk mengejar target tersebut, DDII Jatim mendorong lahirnya dai-dai baru dari internal lembaga, khususnya melalui Akademi Dakwah Indonesia (ADI) dan pesantren binaan.

“Jangan sampai umat membutuhkan penceramah, tetapi yang hadir tidak memahami misi dakwah Mohammad Natsir,” tegasnya.

Ia mengakui, salah satu kendala utama adalah belum optimalnya dukungan daerah terhadap ADI. Padahal, lembaga tersebut menjadi pusat kaderisasi dai.

“ADI adalah kawah candradimuka dai kita. Tapi sampai hari ini belum mendapat dukungan maksimal dari daerah. Kalau ingin 600 dai tercapai, ADI harus dihidupkan bersama,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dakwah tidak boleh terkotak oleh perbedaan organisasi. Dai dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, maupun Al-Irsyad, menurutnya, tetap berada dalam satu rumah besar dakwah.

Baca Juga:  Kopas Fattah 2026/2027 Dilantik, Meneguhkan Disiplin dan Kepemimpinan Santri

“Kita ini satu rumah besar bernama Dewan Dakwah. Beda organisasi boleh, tapi tujuan dakwah sama: membangun Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya, disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga menegaskan bahwa DDII tidak memberi ruang bagi paham yang bertentangan dengan misi kebangsaan.

“Misi dakwah jelas: menjaga NKRI. Siapa pun yang ingin merongrongnya, tidak ada tempat di rumah ini,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan dua pesan penting. Pertama, wasiat Mohammad Natsir agar dakwah dilakukan di semua lini kehidupan, tidak hanya di mimbar. Kedua, pesan Ketua Umum DDII Syuhada Bahrie: “Selamatkan dai.”

Menurutnya, menyelamatkan dai berarti memastikan kesejahteraan hidup dan keluarganya.

“Jangan sampai dai berjuang di lapangan, tetapi keluarganya tidak terjamin,” ujarnya.

Ia kemudian mencontohkan seorang dai di Timor Leste yang telah berdakwah selama 45 tahun dengan penghasilan Rp550.000 per bulan, namun tetap istikamah. Kisah tersebut membuat hadirin terdiam.

DDII Jatim juga mencatat potensi besar dari 52 pesantren yang tergabung dalam keluarga besar DDII di Jawa Timur. Jika setiap pesantren mengirimkan 10 santri terbaik ke ADI setiap tahun, maka dalam dua tahun target 600 dai dinilai dapat tercapai.

Baca Juga:  Juara Hafiz Indonesia 2021 Aqeelah Elfadh, Menginspirasi Santri Al-Fattah Buduran

“Ini kekuatan besar. Tinggal bagaimana kita menggerakkannya,” katanya.

Di akhir sambutan, ia menekankan pentingnya program kerja yang berdampak nyata.

“Jangan hanya rapat. Pastikan masjid-masjid di desa terisi. Kalau setiap desa ada dai, maka generasi muda akan memakmurkan masjid. Itulah dakwah, itulah menyelamatkan Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh pengurus daerah untuk segera memetakan kebutuhan dai di wilayah masing-masing sebagai dasar pergerakan.

Menutup sambutan, ia mengutip ayat Al-Qur’an: “Wa‘bud rabbaka ḥattā ya’tiyaka al-yaqīn” — sembahlah Tuhanmu sampai ajal menjemput.

“Dakwah itu tidak mengenal pensiun,” tegasnya.

Dari Ngabar—yang secara filosofis berarti tempat berkumpul—ia mengajak seluruh dai untuk meneladani semangat Wali Songo dalam menyusun strategi dakwah.

“Dari Ngabar untuk Jawa Timur, dari Jawa Timur untuk Indonesia,” ujarnya. (#)

Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni