
Lagu Rek Ayo Rek dihadirkan siswa Miosi dalam ajang MYPO 3.0. Mereka hadir bukan sekadar tampil, tetapi membawa warna khas budaya Jawa Timur yang ceria dan penuh semangat.
Tagar.co – Suasana sore di Kolej Profesional Mara Bandar Melaka, Malaysia pada Kamis (30/4/2026) terasa berbeda.
Riuh tepuk tangan dan sorak penonton mengiringi penampilan delapan siswa SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi) dalam ajang Moslem Youth Project Olympiad and Culture Exchange (MYPO) 3.0.
Mereka hadir bukan sekadar tampil, tetapi membawa warna khas budaya Jawa Timur yang ceria dan penuh semangat.
Penampilan dibuka dengan gaya unik yang langsung mencuri perhatian. Secara bergantian, para siswa melontarkan seruan khas kuliner Surabaya dengan penuh ekspresi:
“Tee sateee!” seru Haikal. “Rujak cingurr!” sambung Calista. “Rek ayo di tumbas bandeng e!” ujar Iben penuh semangat. “Rek ayo rek lontong kupang e!” tutup Rara, disambut gelak tawa penonton.
Dari pembuka yang ringan dan menghibur, suasana langsung berubah menjadi meriah ketika musik “Rek Ayo Rek” mengalun.
Dengan gerakan tari sederhana namun energik, para siswa menari kompak, menggambarkan keceriaan muda-mudi Surabaya yang berjalan-jalan di kawasan Tunjungan.
Setiap langkah dan ayunan tangan mereka seolah menghidupkan suasana jalanan kota pahlawan di panggung internasional.
Delapan siswa yang tampil adalah Muhammad Ibnul Mubarrok (IX A), Haikal Ferdie Hantero Rubbed (VII A), Alena Devi Amarta (VIII C), Alya Kirani (VIII C), Zafira Oktafia Rachmat (VIII C), Masayu Gandasari Ramadhani (VIII C), Callysta Elysia Putri (VII C), dan Alya Azzahra Ardyasa (VII C).
Meski berasal dari latar kemampuan yang beragam, mereka berhasil menyatukan energi dalam satu harmoni penampilan.
Di balik penampilan yang memukau, tersimpan proses panjang yang penuh tantangan. Guru pendamping, Arzeti Zalza Bilbina, S.Pd., mengungkapkan bahwa persiapan tim tidaklah mudah.
“Harapannya tentu mereka bisa menunjukkan hasil terbaik. Kesalahan saat latihan diupayakan seminimal mungkin agar penampilan bisa maksimal,” ujarnya.
Namun, perjalanan menuju panggung internasional itu tidak selalu mulus. Waktu persiapan yang terbatas, ditambah kesibukan masing-masing anggota menjadi kendala tersendiri. Beberapa siswa bahkan harus memulai dari nol dalam belajar menari.
“Sebagian masih merasa malu, kekompakan juga belum sepenuhnya terbentuk, dan cukup sulit mengumpulkan anggota secara lengkap saat latihan,” tambahnya.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat mereka. Justru dari proses itulah tumbuh rasa kebersamaan, keberanian, dan tanggung jawab.
Setiap gerakan yang ditampilkan di panggung menjadi bukti bahwa mereka telah melewati proses belajar yang tidak sederhana.
Penampilan ini bukan hanya tentang tari dan lagu, tetapi juga tentang identitas, kerja sama, dan keberanian tampil di tingkat internasional.
Lagu Rek Ayo Rek yang mereka bawakan menjadi jembatan budaya—menghubungkan semangat khas Surabaya dengan dunia yang lebih luas. (#)
Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh. Penyunting Ichwan Arif.












