
Tapak tilas berdirinya TK Aisyiyah 40 PPS dan KB Cahaya Aisyiyah mengungkap perjuangan swadaya, kreativitas, dan sinergi masyarakat hingga bertahan dan berkembang sampai kini.
Tagar.co – Suasana hangat menyelimuti sebuah pertemuan sederhana yang sarat makna. Di sebuah ruang terbuka Resto Utama Raya Situbondo, Sabtu (2/5/2026), sekelompok orang berkumpul, bukan sekadar untuk bersilaturahmi, tetapi untuk menelusuri kembali jejak panjang perjuangan yang pernah mereka ukir bersama.
Di balik berdirinya TK Aisyiyah 40 Pondok Permata Suci (PPS) dan KB Cahaya Aisyiyah PPS, tersimpan kisah yang jauh dari gemerlap. Kisah itu bermula dari sebidang tanah wakaf di perumahan PPS, Suci, Gresik, Jawa Timur, yang diperuntukkan bagi pendidikan anak-anak. Tanah itu menjadi titik awal lahirnya harapan.
Lima perempuan mengambil peran penting dalam langkah pertama tersebut. Mereka adalah Fitria selaku ketua, Muslimah sebagai sekretaris, serta Siri Juwariyah (Juju), Dia, dan Siti Azizah. Di Masjid At-Taqwa, mereka bermusyawarah, menyatukan niat, dan menyusun langkah.
Tidak ada kemewahan dalam proses itu. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa pendidikan harus diperjuangkan. Dari ruang musyawarah sederhana itulah, gagasan besar mulai tumbuh: anak-anak di lingkungan tersebut berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Tapak tilas ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga menghidupkan kembali semangat awal. Setiap cerita yang terucap menjadi pengingat, lembaga pendidikan yang berdiri hari ini tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh pengorbanan.
Baca Juga: Utama Raya Beach Situbondo Jadi Pilihan Family Gathering Aisyiyah Suci
Logistik Minim, Tekad Maksimal
Perjalanan tidak selalu mulus. Muslimah mengenang masa-masa awal dengan suara yang tetap menyimpan getar emosi. Ia menceritakan bagaimana keterbatasan logistik menjadi tantangan utama.
“Kami harus turun langsung mencari bangku dan seragam sampai ke Surabaya menggunakan kendaraan bantuan dari Pak Warno,” ujarnya.
Bersama Fitria, ia menempuh perjalanan dari Gresik ke Surabaya demi mendapatkan perlengkapan sekolah. Tidak ada anggaran besar, tidak pula fasilitas memadai. Semua mereka lakukan dengan usaha mandiri.
Keterbatasan dana memaksa mereka berpikir kreatif. Mereka tidak membeli seragam jadi. Sebaliknya, mereka memilih menjahit sendiri. Istri Drs. Mukhtamil Pranoto mengungkapkan keputusan tersebut dengan lugas.
“Karena biaya terbatas, seragam sekolah kami jahit sendiri agar lebih hemat,” imbuhnya.
Langkah itu mungkin tampak sederhana, tetapi di baliknya terdapat semangat kemandirian yang kuat. Setiap jahitan menjadi simbol perjuangan. Setiap perlengkapan yang berhasil mereka hadirkan adalah hasil dari kerja keras tanpa pamrih.
Tidak hanya soal fasilitas, tantangan juga datang dari sumber daya manusia. Minimnya tenaga pengajar membuat pergantian guru terjadi cukup sering. Situasi ini memaksa para pengurus untuk turun langsung.
Fitria, Hari, dan Muslimah tidak hanya mengurus administrasi. Mereka juga masuk ke kelas, mendampingi anak-anak belajar sebagai asisten guru. Peran ganda itu mereka jalani tanpa keluhan.

Dari TPA ke KB, dari Masjid ke Gedung Sendiri
Seiring waktu, kebutuhan pendidikan anak usia dini semakin berkembang. Dari aktivitas Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang awalnya berlangsung di masjid, muncul gagasan untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih representatif.
Kegiatan di masjid menghadapi kendala, terutama terkait kebersihan menjelang waktu Magrib. Kondisi itu mendorong lahirnya ide untuk membangun gedung sendiri di belakang masjid.
Langkah tersebut bukan perkara mudah. Namun, semangat yang sama kembali menjadi penggerak utama. Perlahan, gagasan itu terwujud.
Pada 2018, gedung tersebut resmi berfungsi sebagai KB Cahaya Aisyiyah PPS. Unit ini menjadi bentuk pengembangan dari TPA yang telah lebih dulu berjalan.
Pengelolaannya lanjut bersama ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah di bawah koordinasi Juju. Mereka menjaga kesinambungan perjuangan, memastikan semangat awal tidak padam.
Transformasi dari TPA ke Kelompok Bermain menjadi bukti, lembaga ini terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Dari ruang sederhana di masjid hingga memiliki gedung sendiri, perjalanan ini menunjukkan, keterbatasan bukan penghalang untuk berkembang.
Sinergi yang Menjaga Nyala
Di balik semua perjuangan itu, ada kekuatan lain yang tidak kalah penting: dukungan lingkungan. Drs. Mukhtamil Pranoto, narasumber yang hadir, mengungkapkan rasa syukurnya atas sinergi yang terbangun sejak awal.
Ia menilai bahwa dukungan dari pemerintah desa sangat besar. Pihak desa memberikan ruang dan kepercayaan penuh terhadap pengembangan lembaga pendidikan tersebut.
Tidak hanya itu, pihak perumahan juga menunjukkan komitmen serupa. Mereka menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan lingkungan.
Sinergi ini menjadi fondasi kuat bagi keberlangsungan TK Aisyiyah 40 PPS dan KB Cahaya Aisyiyah PPS. Tanpa dukungan tersebut, perjalanan panjang ini mungkin tidak akan sampai pada titik sekarang.
Kini, lembaga itu berdiri sebagai saksi hidup dari kerja kolektif. Ia bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga simbol dari gotong royong, ketekunan, dan keyakinan.
Tapak tilas bukan hanya tentang masa lalu melainkan menjadi pengingat, setiap langkah kecil yang ikhlas dapat melahirkan perubahan besar. Di balik setiap ruang kelas yang kini terisi tawa anak-anak, tersimpan kisah sunyi para perempuan tangguh yang pernah berjuang tanpa sorotan. (#)
Jurnalis Arofatuz Zumroh Penyunting Sayyidah Nuriyah










