Feature

Kehangatan 200 Porsi Rawon untuk Jemaah Masjid Taqwa Spemdalas GKB

58
×

Kehangatan 200 Porsi Rawon untuk Jemaah Masjid Taqwa Spemdalas GKB

Sebarkan artikel ini
Ratusan jemaah memadati Masjid Taqwa Spemdalas GKB untuk menimba ilmu agama lewat kajian kitab Ighatsatul Lahfan, lalu mempererat silaturahmi dengan menyantap 200 porsi rawon hasil gotong royong.
Jemaah dari segala usia menikmati 200 porsi rawon usai Kajian Ahad Pagi di Masjid Taqwa Spemdalas GKB. (Tagar.co/Iqbal Fathony Ramadhan)

Ratusan jemaah memadati Masjid Taqwa Spemdalas GKB untuk menimba ilmu agama lewat kajian kitab Ighatsatul Lahfan, lalu mempererat silaturahmi dengan menyantap 200 porsi rawon hasil gotong royong.

Tagar.co — Udara subuh di Gresik masih terasa dingin, namun gerbang Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB sudah terbuka lebar menyambut kedatangan ratusan jemaah. Pada Ahad, 19 April 2026, masjid ini tidak hanya menjadi tempat bersujud, tetapi juga ruang belajar yang hangat. Jemaah dari berbagai kelompok usia—mulai dari lansia yang berjalan perlahan hingga anak-anak yang masih mengantuk—mengisi ruang utama masjid dengan penuh antusias.

Pagi itu, Ustaz Nasyiruddin, Lc., ulama asal Desa Padangbandung, Kecamatan Dukun, Gresik, Jawa Timur, hadir membedah kitab Ighatsatul Lahfan. Kitab klasik ini mengupas tuntas cara manusia menyelamatkan hati dari berbagai jeratan setan. Dalam ceramahnya yang tenang namun tegas, Nasyiruddin mengingatkan jemaah agar tetap menempuh jalan syariat saat menghadapi musibah atau penyakit.

Ia menyoroti fenomena masyarakat yang sering kali mencari jalan pintas dengan mendatangi dukun atau paranormal ketika didera kesulitan. Bukannya sembuh, tindakan tersebut justru menambah beban spiritual dan masalah baru.

Baca Juga:  Memberi dan Empati sebagai Jalan Kematangan Spiritual

“Kalau memakai jalan tidak syar’i, mungkin sesaat bisa mereda. Tapi penyakit itu akan bertambah parah,” tegas Nasyiruddin di masjid yang beralamat di Jalan Jawa Nomor 60, Yosowilangun, Manyar, Gresik itu.

Ia kemudian mengutip Surat Jin untuk memperkuat argumennya bahwa siapa pun yang menempuh pengobatan tidak syar’i, maka Allah akan menambah beban penyakitnya. Solusi sejati, menurutnya, terletak pada keikhlasan dan kepatuhan pada aturan agama.

Ratusan jemaah memadati Masjid Taqwa Spemdalas GKB untuk menimba ilmu agama lewat kajian kitab Ighatsatul Lahfan, lalu mempererat silaturahmi dengan menyantap 200 porsi rawon hasil gotong royong.
Ustaz Nasyiruddin, Lc., ulama asal Desa Padangbandung, Kecamatan Dukun, Gresik, Jawa Timur, hadir membedah kitab Ighatsatul Lahfan. (Tagar.co/Istimewa)

Rukyah Syar’iyah dan Kendali Amarah

Melanjutkan materinya, Nasyiruddin memaparkan tata cara pengobatan hati yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad Saw. Salah satunya adalah rukyah syar’iyah. Ia menekankan, rukyah yang benar harus memiliki lafal yang jelas, keras, dan tidak melanggar batasan mahram.

“Perukyah harus menggunakan penghalang, tidak boleh bersentuhan kulit dengan kulit jika pasiennya lawan jenis. Tempatnya pun harus terbuka atau ada mahram yang mendampingi,” jelasnya mendalam.

Tak hanya soal gangguan gaib, sang ustaz juga memberikan tips praktis dalam mengendalikan penyakit hati berupa marah yang kerap muncul sehari-hari. Secara syar’i, ada enam hal yang dianjurkan.

Baca Juga:  Kajian Ahad Pagi PRM Sekapuk Kupas Lima Macam Rezeki

Ia menyarankan jemaah untuk membaca ta’awuz, diam sejenak, mengubah posisi tubuh, atau berwudu saat kemarahan memuncak. Menghindari lokasi konflik dan mengingat besarnya pahala bagi mereka yang mampu menahan amarah menjadi kunci ketenangan batin. Para jemaah yang memenuhi ruangan utama masjid menyimaknya dengan takzim.

Gotong Royong dalam Semangkuk Rawon

Setelah kajian berakhir dan jemaah menunaikan salat sunnah Isyraq, suasana berubah menjadi lebih cair. Aroma gurih rempah kluwek mulai tercium dari arah teras utara masjid. Di sana, 200 porsi nasi rawon telah tertata rapi di atas meja panjang, siap menyambut para jamaah yang lapar setelah menimba ilmu.

Di balik lezatnya hidangan pagi itu, tersimpan kisah gotong royong yang luar biasa. Ibu-ibu jemaah Masjid Taqwa Spemdalas GKB ternyata sudah sibuk sejak Sabtu sore. Mereka bahu-membahu menyiapkan bumbu dan mengolah daging sapi berkualitas tinggi untuk jamuan pagi ini.

Ketua Takmir Masjid Taqwa Spemdalas, Kaswandi Nadjid, menceritakan bahwa tradisi sarapan bersama ini merupakan hasil infak tulus dari jemaah sendiri, khususnya ibu-ibu. “Kemarin saya belikan daging sapi sebanyak 10 kilogram. Ibu-ibu kemudian memasaknya dengan penuh semangat hingga jam 10 malam,” ungkap Kaswandi dengan penuh syukur.

Baca Juga:  Spirit Islam Berkemajuan: Dari Dakwah hingga Rudal

Upaya tersebut membuahkan hasil. Jemaah menyantap rawon dengan lahap. Candra, salah satu jemaah yang rutin hadir, mengaku tidak keberatan menempuh jarak dari Pongangan dengan bersepeda demi mengikuti kegiatan ini. Sambil memegang piringnya, ia berujar singkat, “Mantap. Barakallah.”

Suasana kekeluargaan kian kental saat Muharjo, seorang jamaah paruh baya, menyeruput kopi hitamnya sambil melempar senyum lebar setelah menghabiskan seporsi rawon. Di sudut lain, anak-anak dan remaja tampak ceria duduk di tangga masjid, menikmati sarapan bersama kawan sebaya. Kajian Ahad pagi di Masjid Taqwa Spemdalas GKB bukan sekadar ritual ibadah, melainkan magnet sosial yang menyatukan hati melalui ilmu dan rasa. (#)

Jurnalis Iqbal Fathony Ramadhan Penyunting Sayyidah Nuriyah