
Kajian Ahad Pagi PCM Menganti mengajak jemaah meneguhkan iman melalui sabar, syukur, dan kepedulian sosial. Rektor Umsida Hidayatulloh membedah makna ujian dan keberkahan dalam hidup sehari-hari.
Tagar.co – Udara sejuk Ahad pagi (14/12/2025) menyelimuti halaman Masjid Al Ishlah, Sidowungu, Menganti, Gresik, Jawa Timur, ketika jemaah mulai berdatangan untuk mengikuti Kajian Ahad Pagi yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Menganti.
Di kompleks SD Muhammadiyah 1 Menganti itu nilai sabar, syukur, dan keteguhan iman kembali dirawat melalui kajian pekan kedua yang menghadirkan refleksi keislaman tentang makna ujian hidup.
Baca juga:Terpilih Jadi Ketua Umum PC IMM Gresik, Egie Febriyota Bawa Dua Gagasan
Kegiatan yang dimulai pukul 06.00 WIB ini dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinann Cabang Muhammadiyah (PCM) Menganti, Nur Syamsi.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Hidayatulloh, M.Si., hadir sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Tanda Keimanan: Sabar, Syukur, dan Keteguhan di Masa Sulit.”
Dua Pilar Keimanan
Dalam pemaparannya, Ustaz Hidayatulloh menegaskan bahwa sabar dan syukur adalah dua pilar utama keimanan. Setiap manusia, katanya, pasti akan menghadapi berbagai ujian hidup, baik yang terasa berat maupun yang tampak menyenangkan. Iman diuji melalui respons batin dan tindakan nyata seorang hamba kepada ketentuan Allah Swt.
“Sabar bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, tetapi tetap berusaha sambil menjaga keyakinan dan ketaatan kepada Allah Swt.,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tersebit.
Sementara itu, syukur adalah sikap menerima dan menghargai setiap nikmat yang diberikan Allah, sekecil apa pun bentuknya. Ia mengingatkan, selalu ada orang lain yang berada dalam kondisi lebih sulit, sehingga rasa syukur harus terus dipupuk agar hati tetap lapang.
Hidayatulloh menekankan bahwa Allah Swt. tidak pernah memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Justru, ketika Allah hendak mengangkat derajat seseorang, ujian menjadi sarana pembuktian keimanan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 2–3.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”
Beragam Bentuk Ujian
Hidayatulloh menegaskan, ujian yang diberikan Allah Swt. sangat beragam, ada yang menyenangkan sekaligus yang menyulitkan. Kelimpahan harta, jabatan, kesehatan, kepandaian, maupun kedudukan juga termasuk ujian.
“Dalam kondisi seperti ini, seorang mukmin dituntut untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt. dan menjauhi sifat sombong,” tuturnya.
Sebaliknya, ujian juga bisa berupa sakit, kehilangan harta, musibah, atau bencana alam. Dalam situasi demikian, mukmin dituntut untuk bersabar dan menjaga kedekatan dengan Allah Swt. Bahkan dalam menjalankan perintah-Nya, seperti salat, mengaji, dan ibadah lainnya, ujian tetap hadir.
“Seorang beriman harus mampu memilah dan meluruskan niat setiap amal, apakah semata-mata karena Allah atau sekadar mengharapkan pujian manusia,” pesannya.
Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 155–156, Hidayatulloh menjelaskan bahwa manusia pasti akan diuji dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, dan berbagai musibah.
“Orang-orang yang sabar adalah mereka yang ketika tertimpa musibah mengucapkan istirjak, menyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya,” kta dia.
Kepedulian Sosial
Selain sabar dan syukur, kepedulian sosial juga menjadi bagian penting dari keimanan. Sesama muslim adalah saudara yang harus saling menolong dan menguatkan. Mereka yang diberi kelapangan rezeki memiliki tanggung jawab moral untuk membantu saudara-saudara yang sedang tertimpa kesulitan, baik melalui sedekah, infak, maupun bentuk kepedulian lainnya.
Hal ini, menurutnya, selaras dengan Surah Ali Imran 92, yang menegaskan bahwa seseorang tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum menginfakkan sebagian harta yang paling dicintainya.
Menutup kajian, Hidayatulloh menegaskan bahwa sedekah dan infak tidak akan mengurangi harta, melainkan justru mendatangkan keberkahan dan ketenangan batin. Nilai sabar, syukur, dan kepedulian sosial harus terus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari agar iman tidak berhenti pada tataran lisan, tetapi terwujud dalam amal nyata.
Kajian Ahad Pagi diakhiri dengan doa bersama agar Allah Swt. menganugerahkan keberkahan rezeki, kelapangan hati, serta kekuatan iman kepada seluruh jamaah, sehingga senantiasa dimampukan untuk istiqamah dalam kebaikan dan kepedulian terhadap sesama. (#)
Jurnalis Muhammad Zuhair Ujab Penyunting Mohammad Nurfatoni












