
Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik mengikuti jelajah malam penuh tantangan untuk mengasah kepemimpinan, kemandirian, dan kerja sama tim dalam rangkaian kegiatan Mugeb on Scout Camp 2026.
Tagar.co — Udara dingin malam itu tidak menyurutkan semangat para siswa kelas IV SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School) Gresik. Di bawah temaram lampu sekolah, mereka berkumpul di lapangan timur untuk merayakan puncak Mugeb on Scout Camp (Most Camp) 2026. Mengusung tema “Berani Mandiri, Tampil Berbakti, Hebat tanpa Henti”, kegiatan ini mengubah suasana sekolah yang biasanya riuh dengan tawa menjadi arena petualangan yang mendebarkan, Jumat (6/2/2026)
Tepat pukul 21.00 WIB, suasana berubah menjadi lebih serius. Setelah pentas seni yang meriah, panitia segera menginstruksikan para siswa untuk berbaris sesuai regu. Agenda yang mereka tunggu-tunggu, yakni jelajah sekolah, resmi bermula. Ini bukan sekadar jalan-jalan malam biasa; ada tiga pos tantangan yang siap menguji fisik dan mental para siswa ini.
Tantangan bermula di Pos 1 yang terletak di halaman depan sekolah. Aturannya ketat: setiap siswa wajib menutup mata menggunakan hasduk masing-masing. Di hadapan mereka, para guru pendamping telah menyiapkan bungkusan kain berisi aneka rempah misterius. Tanpa penglihatan, para siswa harus mengandalkan indra penciuman mereka.
“Semua mata harus tertutup ya, ingat, Allah Maha Melihat. Semuanya hanya mendapatkan satu kali kesempatan mencium baunya. Ingat baik-baik dan diskusikan dengan kelompokmu. Waktunya hanya satu menit untuk menentukan jawaban,” tegas Retno Ari Susilo, S.Pd., guru yang berjaga di Pos 1, memberikan instruksi kepada peserta yang tampak tegang namun antusias.
Retno, sapaan akrabnya, menjelaskan, tantangan ini melatih kepekaan indera penciuman serta kerja sama tim.
Baca Juga: Karakter Ditempa, Dua Hari Menjadi Tangguh di Most Camp 2026
Sandi Kotak dan Ujian Kepercayaan
Setelah berhasil menebak aroma rempah, petualangan berlanjut ke Pos 2 yang berada di selasar kelas VI. Namun, perjalanan menuju ke sana justru menjadi tantangan tersendiri. Kecuali ketua regu, seluruh anggota harus tetap menutup mata. Mereka berjalan merayap di kegelapan sambil memegang pundak teman di depannya dengan erat.
Aturan mainnya sederhana tapi sulit: jika pegangan terputus, regu wajib mengulang perjalanan dari titik awal. Kerja sama dan kepercayaan penuh kepada pemimpin menjadi harga mati.
Sesampainya di Pos 2, mereka tidak bisa langsung bernapas lega. Panitia menyodorkan lembar kerja berisi sandi kotak yang rumit. Di bawah tekanan waktu, setiap regu harus memeras otak untuk menerjemahkan sandi tersebut dengan akurat sebelum boleh beranjak ke pos terakhir.
Puncak adrenalin terjadi di Pos 3 yang berlokasi di lapangan futsal. Di sini, kesetiaan anggota regu benar-benar teruji. Dalam kondisi mata tertutup, mereka hanya boleh mengikuti instruksi suara sang ketua regu untuk mencapai titik akhir.
Tantangan terasa semakin berat karena para guru pendamping sengaja berperan sebagai “pengganggu”. Mereka membisikkan arahan palsu yang menyesatkan agar anggota regu keluar dari jalur.
Situasi ini menjadi ujian kepemimpinan bagi ketua regu sekaligus ujian konsentrasi dan loyalitas anggota. Mereka harus tetap konsisten mendengarkan pemimpinnya, atau justru terpengaruh oleh suara lain.
“Ayo sini Shatta, fokus, dengarkan suaraku, jangan dengarkan yang lain! Ikuti arahanku, yang lain itu pengganggu, jangan didengarkan!” seru Keano Rendra Pradipta Putra Anggriawan, ketua Regu Hijau B dari kelas IV Camel, dengan suara lantang demi menyelamatkan anggotanya yang hampir tersesat.
Kunci Sukses ke Garis Finis
Drama sempat terjadi ketika salah satu anggota Regu Hijau B hampir keluar dari barisan karena terpengaruh bisikan “setan” dari para pengganggu. Namun, ketegasan Keano berhasil menarik kembali fokus teman-temannya. Momen menegangkan ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya kepemimpinan yang kuat dan loyalitas anggota dalam sebuah organisasi, sekecil apa pun itu.
Satu per satu regu akhirnya berhasil menembus kegelapan dan mencapai garis finis dengan selamat. Meskipun lelah, rona bahagia terpancar dari wajah para siswa. Mereka bukan hanya membawa pulang pengalaman seru, tetapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana tetap teguh pada pendirian di tengah distraksi yang mengelilingi.
Wali kelas IV Eagle, Novia Qurrati A’yunina, S.Pd., menjelaskan, permainan jelajah malam ini memang sengaja dirancang untuk menyentuh berbagai aspek karakter siswa. Menurutnya, pengalaman langsung jauh lebih efektif daripada sekadar teori di dalam kelas.
“Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa dalam setiap perjalanan, fokus, kerja sama, dan kepemimpinan yang kuat menjadi kunci untuk mencapai tujuan,” terang Novia saat memantau anak didiknya.
Malam itu, Mugeb Primary School bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis, melainkan kawah candradimuka yang menempa kemandirian para calon pemimpin masa depan. (#)
Jurnalis Mar’atus Sholichah Penyunting Sayyidah Nuriyah












