Cerpen

Menjaga Napas Ayah dengan Doa

128
×

Menjaga Napas Ayah dengan Doa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di hari raya ketika orang-orang saling bergembira, aku hanya duduk di depan ruang operasi—memohon agar Allah masih menyisakan waktu untuk ayahku.

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handanyani, Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Bulan Ramadan tinggal menghitung hari. Setiap kali bulan suci itu datang, ingatanku selalu kembali pada sebuah peristiwa beberapa tahun silam—sebuah perjalanan panjang yang membuatku semakin memahami arti sabar dan syukur atas kasih sayang Allah kepada keluargaku.

Namaku Nilam. Aku anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara. Sejak kakakku meninggal dunia karena demam berdarah, aku menjadi anak tertua di keluarga. Hidupku berjalan sederhana, sebagaimana kehidupan keluarga pada umumnya, hingga akhirnya aku menikah dan tinggal jauh dari kedua orang tuaku di Jakarta.

Baca cerpen lainnya: Jalan Pulang

Setelah melalui berbagai tes yang melelahkan, aku akhirnya berhasil diangkat menjadi ASN di Kota Bandung. Sementara itu, Afan—suamiku—juga seorang ASN yang bertugas di Jakarta. Karena keadaan tidak memungkinkan bagi Afan untuk pulang-pergi setiap hari, akhirnya kami sepakat aku yang harus bolak-balik Jakarta–Bandung.

Perjalanan itu kulalui dengan penuh dedikasi. Setiap pekan aku menempuh perjalanan panjang demi pekerjaan dan keluarga yang baru saja kami bangun.

Dua tahun usia pernikahan kami, belum ada tanda-tanda hadirnya momongan. Meski terkadang dihantui kegelisahan, aku mencoba berserah kepada Allah.

Sampai suatu hari badai itu datang.

Tepat di bulan Ramadan, aku mendapat kabar bahwa ayahku jatuh sakit saat sedang memberikan tausiah kepada para jemaah di sebuah sekolah. Kabar itu seperti menghentikan langkah hidupku seketika.

Aku segera pulang ke Jakarta.

Sejak hari itu, hidupku seolah berubah arah. Impian yang selama ini kugenggam harus kulipat rapat dan kusimpan di sudut hati paling dalam.

Baca Juga:  Saf Salat yang Rapat dan Lurus: Disiplin Kecil, Makna Besar

“Ada penggumpalan darah di otak,” kata dokter.

Kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong.

Ibuku harus membuat keputusan yang sangat berat demi menyelamatkan nyawa ayah.

“Ada dua opsi yang bisa dipilih: operasi kraniotomi atau melalui metode drainase ventrikular,” jelas dokter.

Aku dan ibu saling berpandangan. Istilah medis itu terdengar asing dan menakutkan.

Dokter kemudian menjelaskan bahwa kraniotomi adalah prosedur bedah saraf dengan membuka sebagian tulang tengkorak. Mendengar penjelasan itu, dadaku terasa sesak. Sulit membayangkan ayah harus menjalani operasi sebesar itu di usia yang tidak lagi muda.

Sementara itu, ibuku tampak berusaha tegar. Namun dari sorot matanya, aku tahu hatinya sedang diliputi kegelisahan yang dalam.

Drainase ventrikular adalah penanganan dengan menggunakan selang kecil untuk mengeluarkan cairan dari otak,” lanjut dokter, mencoba menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah kami pahami.

“Kami pilih opsi kedua saja, Dok,” kata ibu dengan suara bergetar.

Meski terdengar lebih ringan, prosedur itu tetap rumit dan membutuhkan waktu yang panjang. Hari-hari kami dipenuhi kecemasan. Setiap detik terasa berat.

Ayah harus menjalani serangkaian perawatan medis yang menguras waktu dan tenaga. Rumah sakit menjadi tempat yang akrab bagi kami.

Di sanalah kami menghabiskan hari-hari panjang—menunggu, berharap, dan berdoa.

Ibuku terlihat tegar di hadapan kami. Namun setiap sepertiga malam, di atas sajadahnya, aku sering mendengar isak tangisnya. Tangis yang dipendam sepanjang hari akhirnya pecah dalam doa-doa sunyi.

Kami bergantian berjaga siang dan malam. Di antara suara alat monitor dan langkah perawat yang hilir-mudik, kami terus memanjatkan doa untuk kesembuhan ayah.

Baca Juga:  Zada yang Tak Pernah Diam

Namun ujian itu rupanya belum selesai.

Beberapa waktu kemudian, dokter menyampaikan bahwa ayah harus menjalani operasi ulang karena ada kendala pada tindakan pertama.

Rasa takut kehilangan kembali menghantam kami.

Air mata rasanya sudah kering. Yang tersisa hanyalah kekuatan untuk terus menyemangati ayah yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit.

Bahkan ketika umat Islam di seluruh dunia merayakan Idulfitri, kami tidak berada di rumah.

Takbir menggema dari televisi di lorong rumah sakit, sementara kami duduk diam di kursi plastik di depan ruang operasi. Hari raya yang biasanya penuh pelukan dan tawa, tahun itu berubah menjadi penantian panjang yang dipenuhi doa.

Setiap helaan napas kami hanya berisi harapan: semoga ayah selamat.

Dan di penghujung kepasrahan itu, Allah menunjukkan kasih sayang-Nya.

Operasi ayah berjalan lancar. Ia berhasil melewati masa kritis.

Beberapa bulan kemudian, setelah menjalani berbagai terapi, ayah akhirnya dinyatakan sembuh.

Dengan perasaan berat, aku kembali ke Bandung untuk melanjutkan pekerjaanku. Namun baru sebulan beraktivitas, sebuah kejutan datang.

“Nilam, ini hadiah untuk kamu,” kata Bu Sinta, atasanku, sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat.

Aku membukanya dengan penasaran.

“Selamat. Kamu tidak perlu lagi bolak-balik Jakarta–Bandung.”

Aku terdiam.

Ternyata aku mendapatkan surat mutasi ke Jakarta.

Bu Sinta memelukku erat. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.

“Masyaallah… terima kasih banyak, Bu,” ucapku.

Kabar itu menjadi kebahagiaan besar bagi keluargaku. Ayah dan ibu merasa lega karena aku tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh setiap pekan.

Baca Juga:  Fania dan Ketakutan-Ketakutan Kecil

Beberapa waktu kemudian, Hari Pendidikan Nasional tiba. Berbagai kegiatan digelar untuk memperingatinya. Salah satunya adalah undian berhadiah umrah bagi para pegawai.

Aku sama sekali tidak memiliki firasat apa pun.

Namun tiba-tiba namaku disebut sebagai pemenang.

“Nilam Sari dari Bidang Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Nonformal. Selamat, Anda mendapatkan hadiah umrah bersama pasangan.”

Aku terpaku. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“Iya, betul, Ibu Nilam,” kata pembawa acara meyakinkan.

Seketika aku bersujud syukur.

Kebahagiaan itu semakin bertambah ketika aku menghubungi ibu. Ternyata ayah dan ibu juga mendapatkan hadiah yang sama dari para jemaahnya—sebuah hadiah umrah sebagai ungkapan syukur atas kesembuhan ayah.

Rasanya seperti mimpi.

Kami akhirnya berangkat umrah bersama.

Di Tanah Suci, setiap langkah terasa seperti doa yang menjadi nyata. Setiap sujud terasa lebih panjang, dipenuhi rasa syukur atas keajaiban-keajaiban yang Allah hadirkan dalam hidup kami.

Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika beberapa bulan setelah pulang dari umrah, Allah menganugerahkan kami seorang anak laki-laki yang sehat.

Kini usianya telah genap satu tahun.

Aku sering memandang wajahnya sambil mengingat perjalanan panjang yang pernah kami lalui.

Aku belajar bahwa pengorbanan yang lahir dari cinta tidak pernah benar-benar menjadi kehilangan. Ia hanya berubah wujud—menjadi doa yang terkabul, menjadi ketenangan, menjadi hidup yang pelan-pelan dipenuhi cahaya.

Dan setiap kali melihat ayahku tersenyum sehat di rumah, aku selalu tahu satu hal:

Di antara doa-doa yang kami panjatkan dulu, Allah telah menjaga napas ayahku—dan juga menjaga hati kami. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…