Opini

Longsor Cisarua, Duka Musibah di Jawa Barat

148
×

Longsor Cisarua, Duka Musibah di Jawa Barat

Sebarkan artikel ini
Longsor Cisarua mengakibatkan Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, tertimbun tanah. Tim SAR gabungan dan relawan mencari sekitar 80-an warga yang diduga masih berada di reruntuhan rumah.
Kendaraan backhoe menggali timbunan longsor di Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Cisarua.

Longsor Cisarua mengakibatkan Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, tertimbun tanah. Tim SAR gabungan dan relawan mencari sekitar 80-an warga yang diduga masih berada di reruntuhan rumah.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran

Tagar.co – ‎Tanah dan batu di lereng Gunung Burangrang runtuh dahsyat. Menelan permukiman di Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Kejadian itu berlangsung dini hari sekitar pukul 02.30 WIB, Sabtu, 24 Januari 2026. Menghancurkan puluhan rumah, menewaskan 10 orang menurut laporan terbaru BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jawa Barat, membuat puluhan lainnya masih hilang.

Puluhan warga berhasil diselamatkan. Namun trauma dan kerugian tetap besar. Total jiwa terdampak diperkirakan sekitar 113 orang dari 34 kepala keluarga.

Material longsor menutup permukiman, mempersulit evakuasi, dan menempatkan korban serta tim SAR dalam risiko tinggi.

Setiap rumah yang hilang dan setiap korban yang belum ditemukan menjadi bukti betapa dahsyatnya kekuatan alam yang bertemu dengan kerentanan manusia.

Selain nyawa dan rumah yang hilang, dampak ekonomi terhadap warga juga terasa besar. Keluarga terdampak kini harus mencari hunian baru dan menanggung biaya hidup sementara. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan bantuan tunai sebesar Rp 10 juta per keluarga sebagai biaya awal untuk kontrak rumah dan kebutuhan harian pascabencana.

Baca Juga:  BPJS ‎dan Kasta Layanan Kesehatan

Ini sebuah indikasi bahwa kerugian materi di lapangan mencapai puluhan juta rupiah per kepala keluarga dan bisa jauh lebih besar ketika memperhitungkan biaya membangun ulang rumah serta kehilangan aset lain.

‎Kronologi dan Evakuasi

‎Berdasarkan laporan, tanah dan batu mulai bergerak sekitar pukul 02.30 WIB, menurunkan material longsor ke pemukiman.

Warga yang selamat menggambarkan suara gemuruh yang tiba-tiba, diikuti hancurnya puluhan rumah. Mereka berlari menyelamatkan diri ke lereng lebih tinggi, sementara sebagian keluarga terjebak di dalam rumah yang runtuh.

Sekitar pukul 03.00 WIB, warga yang berhasil keluar segera menghubungi posko BPBD dan relawan lokal. Tim relawan mulai menandai rumah yang tertimbun dan menyalurkan bantuan pertama.

Pukul 04.00 WIB, tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan BPBD mulai menembus material longsor. Jalan akses sebagian besar tertutup, sehingga evakuasi berlangsung lambat dan penuh risiko.

Pukul 06.00 WIB, media melaporkan korban pertama berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Beberapa luka serius, sementara yang lain selamat setelah bersembunyi di ruang aman atau melarikan diri ke lereng lebih tinggi.

Pukul 08.00 WIB, posko pengungsian mulai menerima warga yang kehilangan rumah. Distribusi logistik, makanan, air, dan selimut dilaporkan berjalan. Tim SAR terus bekerja menyisir reruntuhan untuk menemukan korban.

Hingga hari ini, BPBD Jawa Barat mencatat 10 kantong jenazah telah diterima di pos DVI (Disaster Victim Indentification), dengan 6 jenazah sudah teridentifikasi. Korban yang belum ditemukan sekitar 80-an orang. Medan sulit dan cuaca buruk menghambat pencarian.

Baca Juga:  Radikalisasi Bertransformasi di Era Digital

‎Dampak Longsor

‎Zona terdampak, terutama RW 10 dan RW 11 di Kampung Pasir Kuning, telah lama masuk daftar wilayah rawan longsor tingkat tinggi menurut peta risiko BPBD Kabupaten Bandung Barat 2024.

Dari 120 rumah yang berada di lereng bukit, lebih dari 25% pernah mengalami pergerakan tanah ringan sebelumnya.

Longsor kali ini menghancurkan sekitar 30 rumah. Sebagian besar berada tepat di jalur longsor utama. Beberapa rumah berada di lereng curam yang direkomendasikan untuk revitalisasi vegetasi penahan tanah.

Data historis menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, Cisarua mengalami minimal lima kejadian longsor dengan korban meninggal 2–3 orang per peristiwa.

Longsor 24 Januari 2026 menjadi yang terparah. Diperparah oleh hujan deras yang masih terjadi hingga sore ini. Memperlihatkan kombinasi ekstrem antara alam dan kelemahan mitigasi.

Kewaspadaan

‎Hujan ekstrem menjadi pemicu langsung longsor membuat lereng jenuh air kehilangan daya dukung. Namun faktor manusia memperburuk dampak. Pemukiman berada di zona rawan tinggi, vegetasi penahan tanah berkurang, dan sistem peringatan dini serta kesiapsiagaan masyarakat masih terbatas.

Tragedi ini adalah hasil kombinasi alam dan kelalaian mitigasi. Di mana nyawa warga menjadi taruhan.

Baca Juga:  Habis Lebaran Menunggu Lonjakan Ekonomi

Cuaca buruk yang terus terjadi hingga memperlambat operasi SAR dan meningkatkan risiko longsor susulan.

Jumlah korban yang masih hilang diperkirakan masih banyak. Kesiapsiagaan, koordinasi tim SAR, dan bantuan logistik menjadi sangat penting.

Tragedi ini menegaskan bahwa pemukiman di lereng berisiko tinggi tanpa perlindungan yang memadai adalah bencana yang menunggu waktu.

Dari perspektif ekonomi, setiap rumah yang hilang menimbulkan kerugian materi langsung berupa bangunan dan aset warga.

Dengan 30 rumah rusak berat, ditambah biaya kontrak rumah sementara dan pemenuhan kebutuhan hidup pascabencana, kerugian materi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk biaya pembangunan ulang rumah, perbaikan infrastruktur lokal, dan gangguan aktivitas ekonomi warga.

‎‎Longsor Cisarua adalah peringatan keras bagi pemerintah dan masyarakat. ‎Rumah hancur, nyawa hilang, dan trauma mendalam akan dirasakan warga bertahun-tahun ke depan.

Upaya tanggap darurat oleh BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan sudah maksimal, tetapi mitigasi bencana harus lebih serius.

Peta risiko diperbarui, vegetasi lereng diperkuat, tata ruang ditegakkan, dan masyarakat dididik untuk siap menghadapi bencana.

Tragedi ini menegaskan satu hal. Setiap hujan deras di lereng rawan tidak boleh lagi menjadi ancaman mematikan bagi warga. Nyawa manusia harus menjadi prioritas utama, bukan pembangunan yang mengabaikan risiko. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto