Opini

Radikalisasi Bertransformasi di Era Digital

35
×

Radikalisasi Bertransformasi di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Radikalisasi tidak selalu membutuhkan organisasi sebagai penggerak utama. Berbagai studi mencatat bahwa lebih dari 70 persen pelaku lone actor mengalami proses radikalisasi secara dominan melalui ruang digital.
Radikalisasi bisa melalu interaksi sosial di media sosial lewat bermain game digital.

Radikalisasi tidak selalu membutuhkan organisasi sebagai penggerak utama. Berbagai studi mencatat bahwa lebih dari 70 persen pelaku lone actor mengalami proses radikalisasi secara dominan melalui ruang digital.

Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – ‎Temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengenai 112 anak yang hampir terpapar radikalisme tidak bisa dibaca sekadar sebagai capaian penindakan.

Di tengah penetrasi internet yang telah menjangkau lebih dari 200 juta penduduk Indonesia, serta tingginya intensitas penggunaan platform interaktif oleh anak dan remaja, angka tersebut justru menjadi indikator awal dari masalah yang jauh lebih luas.

Secara global, lebih dari 60% remaja mengakses ruang digital interaktif setiap hari. Sebuah ekosistem yang sebagian besar berlangsung tanpa pengawasan efektif.

Dalam konteks ini, ruang digital bukan lagi sekadar sarana hiburan, tetapi telah berkembang menjadi medium strategis penyebaran ideologi.

Kasus yang melibatkan platform seperti Roblox memperlihatkan dengan jelas bagaimana pola radikalisasi mengalami transformasi.

Prosesnya tidak lagi dimulai dari doktrin ideologis yang keras, melainkan dari interaksi sosial yang tampak biasa. Percakapan ringan, pembentukan komunitas, hingga kedekatan emosional.

Baca Juga:  Longsor Cisarua, Duka Musibah di Jawa Barat

Dari sana, narasi identitas mulai disisipkan secara bertahap, menciptakan rasa memiliki dan solidaritas semu, sebelum akhirnya ideologi diperkenalkan secara perlahan.

Pola ini secara struktural menyerupai grooming dalam kejahatan siber, halus, bertahap, dan sulit terdeteksi.

Analisis Global

‎Fenomena radikalisme era digital bukan tanpa preseden. Dalam kasus rekrutmen digital oleh ISIS, berbagai laporan menunjukkan bahwa sekitar 30–40% rekrutannya berasal dari kelompok usia muda.

Kanal awal rekrutmen sering kali terjadi di ruang terbuka seperti forum, media sosial, dan bahkan komunitas game, sebelum berpindah ke kanal privat untuk proses pendalaman ideologi.

Pola ini menunjukkan adanya mekanisme seleksi bertahap yang efektif dalam mengidentifikasi individu rentan tanpa memicu resistensi awal.

‎Di sisi lain, kasus individu seperti Brenton Tarrant memperlihatkan bahwa radikalisasi tidak selalu membutuhkan organisasi sebagai penggerak utama.

Berbagai studi kontra-terorisme mencatat bahwa lebih dari 70% pelaku lone actor mengalami proses radikalisasi secara dominan melalui ruang digital.

Paparan awalnya sering kali bersifat ringan, meme, diskusi identitas, atau forum anonim. Namun secara kumulatif membentuk bias, memperkuat keyakinan, dan menciptakan isolasi informasi yang mempercepat radikalisasi.

Baca Juga:  Piala Dunia, Pengalaman RRI Dapat Hak Siar

Di Indonesia, temuan BNPT menunjukkan pola global tersebut telah beradaptasi secara lokal dengan tingkat subtilitas yang lebih tinggi.

Interaksi yang terjadi di ruang bermain anak tidak mengandung ekspresi ideologis yang eksplisit, melainkan dibangun melalui pendekatan personal dan relasional.

Ini menandakan masuknya Indonesia ke fase early-stage radical grooming, di mana proses radikalisasi dimulai dari pembangunan kepercayaan sebelum ideologi diperkenalkan.

Karakter ini membuat deteksi menjadi jauh lebih kompleks karena tidak bergantung pada kata kunci atau simbol yang mudah diidentifikasi.

Sintesis Risiko: Skala yang Tidak Terlihat

‎Jika dilihat secara analitik, angka 112 tidak merepresentasikan keseluruhan fenomena, melainkan hanya bagian yang berhasil terdeteksi.

Dalam kerangka analisis risiko, selalu terdapat kesenjangan antara kasus teridentifikasi dan kasus aktual.

Dengan mempertimbangkan rasio deteksi yang konservatif, jumlah anak yang terpapar secara tidak teridentifikasi berpotensi jauh lebih besar.

Hal ini semakin diperkuat oleh posisi Indonesia sebagai salah satu pasar game online terbesar di dunia, dengan dominasi pengguna usia muda yang tinggi.

Baca Juga:  RRI: Visi Nasional, Misi Lokal

Kondisi ini menciptakan lingkungan dengan eksposur luas dan pengawasan terbatas, kombinasi ideal bagi penyebaran ideologi secara tersembunyi.

‎Pada akhirnya, capaian penyelamatan 112 anak perlu ditempatkan sebagai bagian dari respons awal, bukan solusi akhir.

Data global menunjukkan bahwa lebih dari 60% remaja aktif di ruang digital setiap hari, lebih dari 70% proses radikalisasi modern terjadi secara online, dan hingga 40% rekrutmen kelompok ekstrem menyasar generasi muda.

Tanpa intervensi yang sistemik, tren ini akan bergerak seiring dengan pertumbuhan ekosistem digital itu sendiri.

‎Karena itu, ukuran keberhasilan tidak lagi cukup diukur dari jumlah yang berhasil dicegah, melainkan dari kemampuan menurunkan probabilitas paparan pada tingkat populasi.

Pendekatan ini menuntut integrasi antara pengawasan teknologi, peningkatan literasi digital, serta keterlibatan aktif platform dalam mendeteksi pola interaksi berisiko.

Angka 112 pada akhirnya adalah sinyal penting, bahwa ruang bermain anak telah berubah menjadi ruang kontestasi ideologi, dan tanpa respons yang terstruktur, ancaman tersebut akan terus berkembang dalam senyap. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto