Opini

Suara Rocky Gerung: Dulu Ribut, Kini Rapi

52
×

Suara Rocky Gerung: Dulu Ribut, Kini Rapi

Sebarkan artikel ini
Suara Rocky Gerung menunjukkan satu hal yang lebih luas dari sekadar perubahan sikap individu. Ia menggambarkan bagaimana seorang intelektual diuji bukan saat berbicara di luar kekuasaan, tetapi saat harus menentukan posisi setelah kekuasaan itu terbentuk.
Dari kiri: Syahganda Nainggolan, Rocky Gerung, dan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.

Suara Rocky Gerung menunjukkan satu hal yang lebih luas dari sekadar perubahan sikap individu. Ia menggambarkan bagaimana seorang intelektual diuji bukan saat berbicara di luar kekuasaan, tetapi saat harus menentukan posisi setelah kekuasaan itu terbentuk.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – ‎Perubahan nada suara Rocky Gerung terhadap Gibran Rakabuming Raka tidak bisa dilepaskan dari satu variabel penting yang kerap dibicarakan di ruang publik: relasinya dengan Prabowo Subianto.

‎Pertanyaan awal yang paling jujur memang harus diletakkan di sini. Apakah pelunakan sikap itu merupakan efek kedekatan personal dan historis dengan Prabowo, atau justru hasil kalkulasi rasional yang lebih luas?

‎Secara historis, Rocky Gerung bukan figur yang asing dalam orbit diskursus Prabowo.

‎Ia pernah berada dalam spektrum yang sama, setidaknya dalam fase-fase tertentu politik Indonesia, sebagai bagian dari kelompok yang kritis terhadap kekuasaan lama dan memberi ruang pada narasi alternatif yang juga diusung oleh Prabowo.

‎Kedekatan ini tidak selalu berarti hubungan struktural, tetapi cukup untuk membentuk persepsi publik bahwa ada irisan kepentingan atau setidaknya kesamaan arah kritik.

‎Ketika Pemilihan Umum Presiden Indonesia 2024 menghasilkan kemenangan Prabowo-Gibran dengan legitimasi elektoral yang kuat, posisi Rocky menjadi lebih kompleks.

‎Jika ia mempertahankan kritik keras terhadap Gibran, maka secara tidak langsung ia juga menggerus legitimasi pasangan yang kini dipimpin oleh figur yang pernah berada dalam spektrum kedekatannya.

‎Di titik ini, pelunakan sikap suara Rocky bisa dibaca sebagai bentuk konsistensi relasional yakni menjaga jarak kritik agar tidak berseberangan total dengan poros kekuasaan yang memiliki kedekatan historis dengannya. Namun menjelaskan semuanya hanya dengan faktor kedekatan akan terlalu reduktif.

Baca Juga:  ICMI Jatim Desak Pemerintah Terbuka soal Mandat Indonesia di Board of Peace

‎Ada dimensi lain yang tidak kalah kuat, yaitu logika adaptasi terhadap realitas politik. Setelah hasil pemilu final, kritik terhadap legitimasi personal Gibran kehilangan daya guna politiknya.

‎Yang lebih relevan bagi publik adalah bagaimana ia bekerja dalam struktur kekuasaan baru.

‎Rocky, sebagai intelektual publik, tampak menggeser fokusnya ke wilayah itu dari pertanyaan “apakah layak” menjadi “apa yang bisa dibuktikan”.

‎Selain itu, ada faktor psikologi publik yang berubah cepat. Polarisasi yang tajam selama masa kampanye cenderung mereda setelah hasil diumumkan.

‎Audiens yang sama yang dulu menikmati kritik keras, kini lebih reseptif terhadap stabilitas dan evaluasi yang lebih tenang.

‎Dalam konteks ini, jika suara Rocky tetap berada pada frekuensi konfrontatif, ia berisiko kehilangan relevansi.

‎Maka pelunakan bukan hanya soal kedekatan dengan Prabowo, tetapi juga soal membaca arah angin opini publik.

‎Meski demikian, persepsi tentang pengaruh Prabowo tetap tidak bisa diabaikan. Dalam politik, persepsi seringkali lebih kuat daripada fakta itu sendiri.

‎Ketika publik melihat adanya korelasi antara kemenangan Prabowo dan perubahan nada Rocky, maka narasi “kedekatan memengaruhi sikap” menjadi sulit dihindari.

‎Di sinilah letak tantangan terbesar bagi Rocky adalah menjaga agar perubahan posisinya tetap terlihat sebagai pilihan intelektual, bukan sekadar konsekuensi relasi politik.

Baca Juga:  Membaca Langkah Prabowo ke Rusia

‎Pada akhirnya, jawaban yang paling mendekati kenyataan kemungkinan bukan “ini atau itu”, melainkan kombinasi keduanya.

‎Ada unsur kedekatan historis dengan Prabowo Subianto yang membentuk batas psikologis dalam mengkritik, tetapi juga ada kalkulasi rasional terhadap realitas kekuasaan dan perubahan preferensi publik.

‎Justru di persilangan dua faktor inilah perubahan sikap Rocky menjadi masuk akal sekaligus problematis.

‎Karena pada titik tertentu, publik tidak hanya menilai apa yang dikatakan seorang intelektual, tetapi juga mengapa ia mengatakannya sekarang, dan bukan sebelumnya.

Pergeseran dalam Kritik Publik

‎Dalam fase sebelum Pemilihan Umum Presiden Indonesia 2024, Rocky secara konsisten menempatkan Gibran dalam kerangka kritik legitimasi, terutama terkait polemik konstitusional yang melibatkan Mahkamah Konstitusi.

‎Isu tersebut menjadi pusat narasi dan diulang dalam berbagai forum, menunjukkan posisi yang tegas dan tidak ambigu.

‎Namun setelah hasil Pemilu menetapkan kemenangan sekitar 58% suara nasional bagi pasangan Prabowo Subianto–Gibran, terjadi pergeseran yang dapat diamati.

‎Kritik terhadap aspek legitimasi hampir menghilang dari permukaan, digantikan oleh komentar yang lebih bersifat umum dan evaluatif terhadap arah pemerintahan.

‎Ini bukan sekadar pengurangan intensitas, tetapi perubahan objek kritik itu sendiri.

‎Fenomena ini selaras dengan pola lebih luas dalam politik Indonesia, di mana oposisi keras cenderung melunak setelah konfigurasi kekuasaan menjadi final.

Dalam konteks Rocky, perubahan ini menjadi lebih signifikan karena ia bukan politisi praktis, melainkan intelektual publik yang selama ini menjual konsistensi argumentasi sebagai modal utama.

Baca Juga:  Pesantren Dulu dan Kini

Adaptasi Rasional atau Kompromi Terselubung

‎Perubahan ini bisa dibaca sebagai bentuk adaptasi yang rasional. Dalam sistem demokrasi, hasil pemilu adalah batas akhir dari perdebatan legitimasi, dan melanjutkan kritik pada titik itu bisa dianggap tidak produktif.

Dengan menggeser fokus ke kinerja, Rocky dapat tetap relevan sekaligus menjaga posisi sebagai pengamat yang kontekstual.

‎Namun di sisi lain, ada ruang kritik yang tidak bisa diabaikan. Ketika perubahan nada terjadi tepat setelah kekuasaan terkonsolidasi, sulit untuk menolak interpretasi bahwa ada unsur kompromi baik secara sadar maupun tidak.

Terlebih dengan latar kedekatan historis dengan Prabowo Subianto, publik memiliki alasan untuk mempertanyakan apakah batas kritik tersebut murni intelektual atau juga dipengaruhi oleh faktor relasional.

‎Di sinilah dilema muncul. Adaptasi memang perlu, tetapi tanpa garis batas yang jelas, ia mudah terbaca sebagai penyesuaian terhadap kekuasaan, bukan terhadap kebenaran.

‎Kasus suara Rocky Gerung menunjukkan satu hal yang lebih luas dari sekadar perubahan sikap individu. Ia menggambarkan bagaimana seorang intelektual diuji bukan saat berbicara di luar kekuasaan, tetapi saat harus menentukan posisi setelah kekuasaan itu terbentuk.

‎Pada akhirnya, ukuran seorang pengamat bukan hanya pada ketajaman kritiknya di awal, tetapi pada keberaniannya menjaga arah kritik ketika risiko sosial dan politik menjadi lebih besar.

Di titik itulah publik akan membedakan antara intelektual yang adaptif dan intelektual yang larut dalam arus kekuasaan. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto