Opini

Pesantren Dulu dan Kini

56
×

Pesantren Dulu dan Kini

Sebarkan artikel ini

‎Pesantren yang berhasil menggabungkan pendidikan spiritual dengan praktik ekonomi produktif layak disebut sebagai institusi sosial‑ekonomi strategis.
Mengaji di pondok pesantren

Pesantren yang berhasil menggabungkan pendidikan spiritual dengan praktik ekonomi produktif layak disebut sebagai institusi sosial‑ekonomi strategis.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran

Tagar.co – Pondok pesantren (Ponpes) bagian tak terpisahkan dari sejarah sosial dan pendidikan Indonesia. Dalam pertumbuhannya, kini pesantren berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dengan lebih dari 37.600 pesantren yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia dan menaungi lebih dari 4,8 juta santri, peran lembaga ini terhadap kehidupan sosial‑ekonomi tidak bisa diabaikan.

‎Di balik angka besar ini, perdebatan sosial tentang relevansi pendidikan pesantren dengan dunia modern terus bergulir di ruang publik.

Opini yang viral di media sosial mencatat kritik bahwa beberapa pondok pesantren masih terlalu kaku, kurang adaptif terhadap perkembangan zaman, dan belum optimal dalam menyiapkan santri menghadapi tantangan ekonomi kontemporer.

‎Dari dinamika ini, penting untuk melihat bukan hanya kritiknya, tetapi juga data dan fakta faktual yang menunjukkan bahwa pesantren kini mulai merebut peran ekonomi yang lebih luas dan dampaknya nyata terasa di masyarakat.

‎Ekonomi Produktif

‎Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan dan spiritual. Banyak di antaranya kini mengembangkan unit usaha produktif.

Baca Juga:  Pink Moon dan Hujan Meteor Lyrid di Langit April

Dalam studi kasus yang terdokumentasi, Ponpes Syaichona Cholil di Bangkalan membangun usaha mikro yang melibatkan produksi sandal, air minum Adem, koperasi, serta toko retail.

Semuanya dijalankan oleh santri dan alumni dengan prinsip bisnis berbasis syariah dan didukung teknologi digital.

‎Model ini memicu pertumbuhan ekonomi mikro, di mana usaha pesantren berdampak langsung pada pemasukan santri dan operasional lembaga, serta menjadi peluang kerja bagi penduduk sekitar.

Ini menunjukkan bahwa dalam banyak pesantren, pendidikan agama dan pengalaman kewirausahaan berjalan seiring: santri tidak hanya belajar teori, tetapi langsung terlibat dalam aktivitas bisnis.

‎Pendekatan serupa juga terlihat dalam usaha lain seperti laundry dan layanan praktis yang dilakukan oleh Ponpes Imam Syafi’i di Brebes, Jawa Tengah.

Unit bisnis yang tampak sederhana ini berkontribusi pada ketahanan finansial pesantren sekaligus membebaskan santri dari tugas domestik rutin, sehingga mereka lebih fokus pada kegiatan belajar dan menghafal Qur’an. Suatu bentuk integrasi antara kebutuhan pendidikan dan praktik ekonomi sehari‑hari.

‎Di Ponpes Al‑Bahjah Cirebon, program pelatihan kewirausahaan berhasil meningkatkan kemandirian ekonomi santri dan masyarakat sekitar, menciptakan lapangan kerja baru dan mewujudkan pemerataan ekonomi lokal.

Baca Juga:  Elon Musk dan X Money

‎Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa memperkuat kewirausahaan di pesantren mampu meningkatkan ketahanan ekonomi pesantren, memberi keterampilan praktis kepada santri, dan memperluas kesejahteraan di komunitas sekitarnya, jauh melampaui fungsi tradisional pesantren sebagai tempat pengajaran agama.

Donasi

‎Data menunjukkan pesantren memiliki potensi besar sebagai lokomotif ekonomi umat, namun transformasi ini tidak otomatis terjadi tanpa strategi yang tepat.

Menurut penelitian akademik, kendala utama termasuk kurangnya akses modal, keterbatasan jaringan pasar, serta manajemen usaha yang masih bersifat informal.

‎Banyak pesantren masih bergantung pada sumbangan eksternal dan donasi masyarakat, sehingga belum sepenuhnya mandiri secara finansial.

Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya integrasi pendidikan formal kewirausahaan, perencanaan bisnis, dan dukungan teknologi dalam kurikulum pesantren.

‎Selain itu, kritik sosial yang berkembang di media sosial tentang budaya pesantren yang “kaku” dan kurang adaptif menunjukkan kebutuhan jelas untuk reformasi budaya lembaga.

Bukan hanya dalam konteks pendidikan agama, tetapi juga dalam pembentukan karakter santri yang siap menghadapi tantangan ekonomi modern.

‎Justru di situlah letak peluang terbesar. Pesantren bisa menjadi jembatan antara nilai spiritual yang kokoh dengan karakter kewirausahaan yang terbuka, sehingga mampu mencetak generasi yang tidak hanya bertakwa, tetapi produktif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan ekonomi masa kini.

Baca Juga:  Nestapa Anak-Anak dan Perempuan Korban Konflik

Center of Excellence

Lebih dari sekadar tempat belajar agama, Ponpes yang berhasil menggabungkan pendidikan spiritual dengan praktik ekonomi produktif layak disebut sebagai institusi sosial‑ekonomi strategis.

Peran mereka dalam melahirkan santri yang bukan hanya religius, tetapi juga ekonomis realistis, mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan  adalah kunci untuk menyinkronkan pendidikan klasik dengan dinamika pasar modern.

Indonesia dengan lebih dari 4,8 juta santri, memiliki sumber daya manusia besar yang jika diberdayakan secara optimal melalui pesantren, berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.

‎Transformasi ini memerlukan dukungan penuh dari kebijakan pemerintah, sektor swasta, dan partisipasi aktif masyarakat.

Dengan struktur ekonomi yang inklusif, pendidikan kewirausahaan yang kuat, dan jaringan pasar luas, pesantren dapat menjadi center of excellence dalam pengembangan ekonomi berbasis nilai budaya dan agama, relevan untuk Indonesia abad ke‑21. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto