Opini

Guru: Penjaga Nyala Harapan

121
×

Guru: Penjaga Nyala Harapan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di balik papan tulis dan senyum yang tak pernah absen, ada luka yang jarang terdengar—tentang dedikasi yang diuji, kepercayaan yang goyah, dan harapan yang tetap dijaga meski dunia belum sepenuhnya berpihak.

Oleh Abdul Rahem; Dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Tagar.co – Di sebuah ruang kelas yang sederhana, ada cahaya yang tak pernah padam. Cahaya itu adalah para guru. Mereka datang bukan hanya membawa buku dan rencana pelajaran, tetapi juga menjadi “penjaga nyala harapan” yang diam-diam mereka titipkan pada setiap tatapan muridnya. Dengan sabar, mereka merangkai kata, menjelaskan makna, dan menuntun langkah-langkah kecil menuju masa depan murid-murid yang belum tergambar.

Pendidikan, pada dasarnya, adalah kisah tentang kepercayaan. Murid percaya kepada guru, dan guru percaya bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak diperjuangkan. Kisah itu menjadi lebih indah ketika orang tua dan wali murid ikut menjaga harmoni, bukan dengan amarah atau hardikan, melainkan dengan pengertian dan penghormatan.

Guru yang terdidik bukan hanya soal gelar, tetapi tentang hati yang terus mau belajar, tentang kesabaran yang tak mudah runtuh oleh tekanan. Mereka bukan sosok yang sempurna, tetapi mereka berusaha setiap hari menjadi lebih baik demi anak-anak yang dipercayakan kepada mereka.

Bayangkan jika setiap guru dipeluk oleh kepercayaan, bukan dilukai oleh prasangka. Betapa hangatnya ruang kelas itu. Betapa tenangnya langkah para guru saat mengajar, tanpa rasa takut akan disalahpahami. Dalam suasana seperti itu, ilmu tidak hanya berpindah dari guru kepada murid, melainkan tumbuh, mekar, dan menetap dalam jiwa.

Karena sejatinya, pendidikan adalah kerja bersama. Ia seperti taman yang hanya akan berbunga jika semua yang merawatnya saling menghargai. Dan di tengah taman itu, para guru berdiri bukan untuk dihardik, melainkan untuk didukung, agar mereka bisa terus menyalakan cahaya bagi generasi yang akan datang.

Di ruang-ruang kelas yang dahulu terasa hangat seperti pelukan pagi, kini ada sunyi yang tak selalu bisa dijelaskan. Para guru berdiri di depan papan tulis, membawa ilmu seperti biasa, tetapi di hati mereka terselip ragu yang tak pernah diajarkan di bangku pendidikan. Mereka tetap tersenyum, meski kadang senyum itu harus melewati luka yang tak terlihat. Hal ini terjadi karena maraknya kriminalisasi terhadap guru.

Baca Juga:  Hardiknas 2026: Abdul Mu’ti Tegaskan Pendidikan untuk Mencerdaskan dan Membentuk Karakter Bangsa

Guru Selalu Setia pada Panggilan Jiwa

Menjadi guru hari ini adalah tentang mencintai di tengah keraguan. Tentang tetap setia pada panggilan jiwa, meski langkah sering digoyahkan oleh prasangka. Mereka mengajar dengan hati, namun tak jarang dihadapkan pada tatapan yang siap menyalahkan. Setiap kata yang mereka ucapkan bisa dipelintir, setiap tindakan bisa disalahartikan, seolah mereka berjalan di atas garis tipis antara pengabdian dan penghakiman.

Ada dilema yang diam-diam mereka genggam setiap hari: ingin mendidik dengan tegas, namun takut dianggap melukai; ingin membimbing dengan tulus, namun khawatir dianggap bersalah. Di tengah semua itu, mereka tetap memilih bertahan. Bukan karena mereka tak lelah, tetapi karena mereka tahu ada masa depan yang bergantung pada ketulusan mereka hari ini.

Betapa pilunya ketika dedikasi yang mereka tanam justru dibalas dengan keraguan, bahkan tudingan. Mereka yang seharusnya dijaga justru kerap menjadi sasaran dari berbagai kesalahan di kelas. Namun anehnya, hati mereka masih cukup luas untuk memaafkan, masih cukup hangat untuk percaya bahwa pendidikan adalah tentang harapan yang tak boleh padam.

Dalam sunyi yang mereka rawat sendiri, cinta itu tetap ada—cinta pada profesi, pada murid-murid mereka, dan pada masa depan yang mereka bantu bangun meski namanya sering terlupakan. Guru, pada akhirnya, adalah puisi yang berjalan: lembut, sabar, dan tetap indah, bahkan ketika dunia tak selalu memberinya tempat yang layak.

Di antara derap waktu yang tak pernah menunggu, para guru berdiri seperti denyut yang setia—jantung peradaban yang bekerja tanpa banyak suara. Dari tangan mereka, huruf-huruf menjadi makna, dan dari kesabaran mereka, masa depan perlahan menemukan bentuknya.

Baca Juga:  Rektor UMM: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Motor Solusi Zaman

Namun ada ironi yang pelan-pelan mengendap: hati yang begitu mulia itu sering tak diperlakukan setara dengan jasanya. Banyak guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun, menyulam hari dengan dedikasi yang tak putus, tetapi nasib mereka masih menggantung, seperti langit senja yang indah namun tak pernah benar-benar menjadi malam yang utuh.

Mereka pulang dengan lelah yang sederhana, ditemani angka-angka yang nyaris tak sanggup disebut sebagai penghasilan. Ada yang hanya menerima tiga ratus ribu rupiah sebulan. Jumlah yang mungkin tak cukup untuk memenuhi banyak kebutuhan, tetapi cukup untuk membuktikan betapa besar cinta yang mereka berikan tanpa syarat.

Betapa romantis sekaligus getir: mereka menghidupkan mimpi-mimpi anak bangsa, sementara mimpi mereka sendiri kerap tertunda. Mereka menyalakan cahaya di mata murid-muridnya, meski cahaya dalam hidup mereka sendiri sering redup oleh ketidakpastian.

Namun mereka tetap bertahan, bukan karena dunia telah adil, melainkan karena mereka percaya bahwa ilmu adalah warisan paling abadi. Di balik segala kekurangan itu, para guru tetap menjadi puisi yang hidup: lembut, setia, dan tak pernah berhenti mencintai peradaban, meski peradaban belum sepenuhnya belajar mencintai mereka kembali.

Guru sebagai Pahlawan Pendidikan

Di ruang-ruang kelas, para guru menanam mimpi seperti petani yang setia pada musim—menyiram harapan, memupuk masa depan, dan percaya bahwa setiap anak berhak tumbuh setinggi langit. Mereka adalah pahlawan pendidikan, yang dengan sabar mengantarkan murid-muridnya menuju gerbang perguruan tinggi, membuka dunia yang lebih luas dari sekadar buku pelajaran.

Namun, ada ironi yang diam-diam mereka simpan di dada. Ketika murid-murid melangkah pergi membawa mimpi yang mulai nyata, mereka justru menatap anak-anak mereka sendiri dengan harapan yang tertahan. Bukan karena tak ingin, tetapi karena tak mampu. Biaya menjadi tembok yang tinggi, memisahkan cinta orang tua dari kesempatan yang seharusnya bisa diraih oleh anak-anak mereka.

Betapa puitis sekaligus pilu: tangan yang setiap hari menuliskan masa depan orang lain justru gemetar saat mencoba menuliskan masa depan anaknya sendiri. Mereka mengajarkan arti perjuangan, tetapi harus berjuang lebih keras dalam diam. Mereka menanam keberanian, namun sering menyembunyikan kegelisahan.

Baca Juga:  Mendikdasmen: Pendidikan Harus Memuliakan Manusia, Guru Jadi Pilar Utama

Di tengah riuhnya pembangunan dan gemerlap mimpi tentang masa depan, para guru adalah sosok yang tak pernah berhenti menjaga nyala peradaban. Mereka menulis harapan di papan tulis, menanam cita-cita di hati murid, dan percaya bahwa dunia bisa menjadi lebih baik, meski sering kali dunia belum sepenuhnya baik kepada mereka.

Namun entah sejak kapan, mereka menjadi pihak yang paling mudah disalahkan. Seolah setiap kegagalan menemukan jalannya sendiri menuju pundak mereka. Padahal guru bukanlah sosok yang sempurna; mereka hanyalah manusia yang memilih mengabdi dengan hati—mendidik, membimbing, dan terus belajar di tengah segala keterbatasan.

Barangkali melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, 2 Mei 2026, inilah saatnya kita semua—masyarakat dan pemerintah—mengubah cara pandang. Bukan lagi mencari celah untuk menyalahkan, tetapi membuka ruang untuk memahami. Memberi kepercayaan, bukan tekanan. Memberi dukungan, bukan prasangka.

Dan lebih dari sekadar kata-kata, keadilan perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata. Gaji yang layak bukanlah kemewahan, melainkan hak. Kesejahteraan bukan hadiah, melainkan bentuk penghormatan atas dedikasi yang tak terhitung. Sementara para guru honorer yang telah bertahun-tahun mengabdi tanpa kepastian, pantas diprioritaskan menjadi ASN—agar pengabdian mereka tak lagi berdiri di atas ketidakpastian.

Betapa indah jika suatu hari nanti para guru dapat mengajar tanpa beban yang menggantung. Jika mereka pulang dengan hati tenang, bukan hanya karena telah mendidik, tetapi juga karena hidup mereka dihargai dengan layak. Jika cinta yang mereka tanam setiap hari akhirnya berbalas dalam bentuk keadilan.

Sebab ketika guru dijaga, dimuliakan, dan disejahterakan, peradaban tak hanya tumbuh—ia akan berbunga. Dan dari sanalah masa depan bangsa akan lahir dengan lebih utuh, dari tangan-tangan yang tidak lagi disalahkan, melainkan dihormati sepenuh hati. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni