Opini

Mencari Ketua ICMI Jatim yang Baru

103
×

Mencari Ketua ICMI Jatim yang Baru

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

Pemilihan Ketua ICMI Jatim bukan soal siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu mengubah gagasan menjadi dampak nyata.

Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Jawa Timur Periode 2021–2026

Tagar.co – Pemilihan Ketua ICMI Jawa Timur, sama dengan pemilihan ketua organisasi massa lainnya, sering kali dipahami sebagai proses rutin organisasi. Padahal, di balik itu tersimpan pertaruhan yang jauh lebih besar: apakah ICMI akan tetap hanya menjadi ruang diskusi para cendekiawan, atau bertransformasi menjadi kekuatan strategis yang benar-benar memengaruhi arah kebijakan dan peradaban.

Baca juga: ICMI Jatim: 2026 Harus Jadi Tahun Lompatan Moral dan Keberpihakan pada Rakyat

Kesalahan paling mendasar yang kerap terjadi secara berulang adalah menyederhanakan makna “cendekiawan”. Seolah-olah kecendekiawanan cukup diwakili oleh gelar akademik, publikasi ilmiah, atau reputasi intelektual semata. Padahal, di era disrupsi seperti hari ini, kecendekiawanan yang relevan adalah yang mampu melampaui ruang kelas dan jurnal, yang sanggup menerjemahkan gagasan menjadi solusi konkret bagi masyarakat.

ICMI tidak membutuhkan sekadar orang pintar, tetapi membutuhkan cendekiawan yang membumi: yang memahami realitas sosial, mampu membaca perubahan zaman, dan berani melakukan intervensi nyata dengan pemikiran yang operasional. Sebab, jika tidak demikian, kecerdasan hanya akan berakhir sebagai wacana yang berputar di ruang seminar belaka.

Baca Juga:  Puasa Syawal: Enam Hari yang Menentukan Setahun

Kredibilitas akademik memang tetap penting, tetapi bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai fondasi. Yang lebih menentukan adalah sejauh mana seorang akademisi mampu memberi arah, menghubungkan ilmu dengan kebijakan, serta menjembatani teori dengan kebutuhan nyata masyarakat. Akademisi yang tidak mampu keluar dari menara gading hanya akan menjadi penonton perubahan.

Namun, harus diingat bahwa intelektualitas saja tidak cukup. ICMI membutuhkan kepemimpinan transformasional—kepemimpinan yang tidak sekadar mengelola organisasi, tetapi menggerakkan dan mengubahnya. Ketua ICMI ke depan harus menjadi arsitek gerakan intelektual: visioner dalam arah, tegas dalam keputusan, dan mampu mengorkestrasi potensi kolektif menjadi kekuatan nyata.

Di sisi lain, dimensi keislaman tidak boleh direduksi menjadi simbol. ICMI berdiri di atas nilai-nilai Islam yang inklusif dan berkemajuan. Karena itu, pemimpinnya harus menghadirkan Islam sebagai kekuatan pemersatu, bukan alat eksklusi. Dalam konteks masyarakat yang semakin majemuk, kedalaman pemahaman agama menjadi penentu apakah organisasi ini akan menjadi jembatan atau justru tembok pemisah.

Faktor lain yang sering diabaikan adalah kemandirian ekonomi. Padahal, independensi finansial sejalan dengan independensi sikap. Pemimpin yang bergantung pada kekuasaan atau donatur tertentu akan kesulitan menjaga objektivitas dan keberanian. Sebaliknya, kemandirian ekonomi memberi ruang bagi integritas untuk tetap tegak.

Baca Juga:  Kuota Haji, Diskresi Negara, dan Batas Pidana Korupsi

Di era kolaborasi, kekuatan jejaring juga menjadi kunci. Ketua ICMI tidak boleh menjadi figur yang terisolasi. Ia harus menjadi simpul strategis yang menghubungkan akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil. Tanpa jejaring, gagasan besar hanya akan berhenti sebagai retorika.

Lebih jauh lagi, kemampuan berinovasi dan beradaptasi menjadi keniscayaan. Dunia berubah dengan cepat; digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga dinamika geopolitik menuntut respons yang lincah. ICMI tidak bisa lagi bertahan sebagai forum diskusi semata. ICMI harus naik kelas menjadi pusat pengaruh kebijakan dan peradaban.

Kualitas kepemimpinan juga ditentukan oleh cara merespons kebijakan publik. ICMI harus hadir sebagai kekuatan moral sekaligus intelektual: kritis, tetapi konstruktif; berani, tetapi solutif. Bukan oposisi yang reaktif, dan bukan pula pendukung tanpa sikap kritis.

Di tengah kompleksitas tersebut, memilih ketua ICMI tidak bisa lagi didasarkan pada popularitas atau simbol akademik. Diperlukan kerangka penilaian yang utuh: intelektualitas, kepemimpinan, keislaman, jejaring, inovasi, respons kebijakan, hingga kemandirian ekonomi. Bukan mencari yang paling menonjol di satu sisi, tetapi yang paling seimbang dan matang secara keseluruhan.

Baca Juga:  Melatih Diri agar “Ketagihan” Membaca Al-Qur’an

Sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar tidak kekurangan orang pintar. Yang sering langka justru adalah pemimpin yang mampu menggerakkan, menghubungkan, dan mengarahkan. Di situlah letak tantangan ICMI Jawa Timur hari ini.

Saya sama sekali tidak memenuhi semua unsur yang tadi saya uraikan. Karena itu, saya mengajak semua potensi ICMI Jatim untuk bersama-sama kita gerakkan, untuk menjadikan Musyawarah Wilayah (Muswil) nanti sebagai momentum membangun ICMI Jatim yang lebih berdaya dan berdampak.

Kita jadikan periode kepemimpinan saya di ICMI Jatim selama lima tahun ini sebagai pelajaran berharga, agar kelemahan dan kesalahannya tidak terulang.

Selamat mempersiapkan Muswil. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni