
Kunjungi makam pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, kesan sederhana langsung terasa. Menghormati KH. Ahmad Dahlan adalah dengan meneruskan cita-cita perjuangannya dan mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah
Tagar.co – Matahari bersinar terang, menambah semangat ketika wisata di Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026). Sebanyak 40 ibu-ibu dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik Jawa Timur hari itu telah menjadwalkan untuk berziarah. Tentu tujuannya adalah makam pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.
Ibu-ibu Aisyiyah ini antri dengan tertib saat memasuki gerbang makam yang lokasinya di sisi timur Masjid Jami’ Karangkajen. Memasuki pintu makam, di sisinya terdapat gambar KH. Ahmad Dahlan dan sebuah papan berwarna hijau bertuliskan Pahlawan Nasional.
Menyusuri jalan makam berpaving, terlihat sebuah tiang bendera yang diujungnya berkibar bendera merah putih. Tepat di depannya terdapat lima makam berjajar dalam sebuah pembatas berwarna putih. Mirip sebuah bingkai atau pigura yang tingginya hanya beberapa sentimeter, hampir rata dengan tanah.
Di dalam bingkai besar itu terdapat lima bingkai warna putih berbentuk persegi panjang berjajar dengan ukuran yang sama. Rumput hijau tumbuh di sela-sela. Terdapat lima nisan ukuran kecil dengan ujung runcing, bertuliskan nama-nama tokoh periode awal berdiri Muhammadiyah.
Sebuah papan besar berwarna hijau tertempel di tembok. Tertera tulisan, Makam Pahlawan Naional KH Ahmad Dahlan 1868-1923. Sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961.
Dari kiri ke kanan, tertulis nama KH Ahmad Badawi (1902-1969), KH Ibrahim (1874-1934), KH Ahmad Dahlan (1868-1923), KH Noor dan Aisyah Hilal.
Makam Para Tokoh Muhammadiyah
KH Ahmad Badawi adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1962-1965 berdasarkan keputusan Muktamar ke-35 di Jakarta, dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1965-1968 berdasarkan keputusan Muktamar ke-36 di Bandung. Penasihat pribadi Presiden pada tahun 1963.
KH Ibrahim adalah adik kandung Nyai Ahmad Dahlan, Penghulu Hakim Kesultanan Yogyakarta pada masa Kesultanan Hamengkubuwono VII. Ketua Umum Muhammadiyah kedua (1923-1932). Pendiri Fonds Dahlan yang bertujuan memberikan biaya pendidikan untuk anak-anak miskin.
KH Ahmad Dahlan adalah ulama besar dan tokoh Nasional, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1912 atau 18 November 1912. Memelopori pembaharuan di Indonesia. Perjuangannya di bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan. Gerakan pembaharuan ini diwujudkan dalam bentuk sekolah, rumah sakit, poliklinik, panti jompo, pondok pesantren dan perguruan tinggi.
KH Noor atau Kiai Lurah Nur adalah penghulu Keraton Yogyakarta. Seorang ulama dan alim yang berperan dalam proses pemakaman KH Ahmad Dahlan di Karangkajen.
Aisyah Hilal adalah putri KH Ahmad Dahlan, Redaktur pertama Majalah Suara Aisyiyah dan Ketua Aisyiyah selama 10 tahun. Juga memelopori Kongres Bayi atau lomba bayi sehat pada saat Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta

TPU
Ketua Tim Peningkatan Pelayanan Peziarah Makam KH Ahmad Dahlan, H. Suhardjo menjelaskan, makam ini merupakan makam umum warga Karangkajen.
“Hanya warga yang punya silsilah keluarga Karangkajen yang diizinkan dimakamkan di sini. Atau warga Karangkajen yang berjasa kepada negara,” ungkapnya.
Suhardjo menjelaskan, ada beberapa versi mengapa KH. Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman justru dimakamkan di Karangkajen. Pertama, karena KH Ahmad Dahlan adalah juragan batik seperti kebanyakan warga Karangkajen.
“Kedua, warga Karangkajen sangat antusias dan menyambut hangat ketika KH Ahmad Dahlan berdakwah. Hal itu dibuktikan dengan berdirinya beberapa Amal Usaha Muhammadiyah. Seperti TK Aisyiyah 1, Mushalla Aisyiyah dan Masjid Jami’ Karangkajen,” jelasnya.
Selain makam KH Ahmad Dahlan, tokoh-tokoh penting dalam pergerakan Muhammadiyah juga dimakamkan di Karangkajen. Diantaranya, KH. Hisyam (1883-1945), KH. AR. Fachruddin, KH. Ahmad Azhar Basyir, MA dan Prof. Lafran Pane.
Juga ada makam Drs. Said Tuhulele, Prof. Dr. KH. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag., Aisyah Hilal (Pemred Pertama Majalah Suara Aisyiyah), Drs. H Mohammad Djazman Al Kindi dan Mohammad Jazir (Takmir Masjid Jogokaryan).
Teladan Sederhana
Kampung Karangkajen RT 43 RW 11 Kelurahan Brontokusumo, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta merupakan letak makam KH. Ahmad Dahlan. Tepatnya berada di sebelah barat Masjid Jami’ Karangkajen. Dan bentuk makamnya sama dengan makam lainnya.
Menurut Suhardjo, Makam KH. Ahmad Dahlan terkesan sederhana. Tidak seperti tokoh Pahlawan Nasional umumnya. Hal itu karena, pertama, menghormati KH. Ahmad Dahlan adalah dengan meneruskan cita-cita perjuangannya dan mengembangkan amal usahanya.
Kedua, sosok KH. Ahmad Dahlan dalam kesehariannya dikenal sebagai seorang tokoh yang sangat sederhana. Dan ketiga, dengan tidak adanya keistimewaan makam KH. Ahmad Dahlan, diharapkan menjadi teladan bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya. (#)
Jurnalis Estu Rahayu. Penyunting Sugiran.












