
Meski ada anggapan email mulai ditinggalkan di tengah dominasi pesan instan, data menunjukkan email tetap populer di berbagai usia dan negara. Siapa yang paling banyak menggunakannya?
Tagar.co – Di tengah berbagai spekulasi bahwa email mulai ditinggalkan, data terbaru justru menunjukkan bahwa email tetap menjadi bagian penting dari aktivitas online, termasuk di kalangan anak muda. Seperti ditulis Simon Kemp dalam datareportal.com.
Mengutip data.ai, Gmail masih menjadi penyedia layanan email terbesar di dunia, dengan sekitar 2 miliar perangkat mengakses aplikasi selulernya setiap bulan. Angka ini belum termasuk pengguna yang mengakses Gmail melalui inbox iPhone atau melalui peramban web.
Namun, lebih dari sekadar Gmail, email secara keseluruhan masih memiliki peran yang besar dalam dunia digital.
Email Tetap Populer di Seluruh Dunia
Penelitian global dari GWI menunjukkan bahwa email adalah salah satu layanan digital yang paling banyak digunakan. Sekitar 75 persen orang dewasa yang terhubung ke internet mengatakan bahwa mereka menggunakan email setidaknya sekali dalam sebulan. Bahkan, lebih banyak orang yang memeriksa email mereka dibandingkan dengan yang berbelanja online, mendengarkan musik, atau membaca berita.
Baca juga: Google Tetap Mendominasi, YouTube dan Facebook Ikuti di Peringkat Teratas Situs Web Terpopuler 2025
Lebih menarik lagi, dalam dua tahun terakhir, jumlah pengguna internet yang mengakses email setiap bulan terus meningkat. Penambahan pengguna dari kelompok usia 65 tahun ke atas setelah kuartal pertama 2024 memang berkontribusi pada peningkatan ini, tetapi tren kenaikan sudah terjadi sebelumnya.
Secara keseluruhan, tren penggunaan email tetap stabil dengan sedikit peningkatan dari waktu ke waktu. Meskipun ada fluktuasi kecil di awal 2024, angka tetap menunjukkan bahwa email masih menjadi salah satu alat komunikasi digital yang banyak digunakan secara global. Dalam dunia yang semakin didominasi oleh aplikasi pesan instan, email tetap relevan, terutama dalam komunikasi bisnis dan profesional.
Jangan Terjebak Stereotip
Banyak orang mengira bahwa email hanya digunakan oleh generasi yang lebih tua, tetapi data di atas menunjukkan bahwa penggunaan email cukup merata di seluruh kelompok usia antara 16 hingga 64 tahun. Bahkan, kelompok usia 16 hingga 24 tahun merupakan yang paling sering menggunakan email dibandingkan dengan kelompok usia kerja lainnya.
Artinya, generasi muda tetap menggunakan email, dan trennya justru semakin meningkat. Oleh karena itu, anggapan bahwa email sudah ketinggalan zaman tidaklah benar.
Laporan ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial dan aplikasi pesan semakin populer, email masih menjadi alat komunikasi penting di berbagai kelompok usia.
Negara Tertinggi Pengguna Email
Dalam laporan terbaru Special Report Digital 2025 yang dirilis Wa Are Social dan Meltwater pada 5 Februari 2025 , penggunaan email di kalangan pengguna internet berusia 16 tahun ke atas menunjukkan variasi signifikan di berbagai negara.
Afrika Selatan Memimpin, China di Posisi Terakhir
Afrika Selatan menempati posisi tertinggi dalam penggunaan email, dengan 97,1 persen pengguna internet di negara tersebut menggunakan layanan email setiap bulan. Negara-negara lain dengan tingkat penggunaan email tinggi mencakup Chile (96,7 persen), Nigeria (96,7 persen), Brasil (95,5 persen), dan Serbia (95,4 persen).
Sebaliknya, Cina mencatat persentase terendah, dengan hanya 43,3 persen pengguna internet berusia 16 tahun ke atas yang menggunakan email setiap bulan. Ghana dan Korea Selatan juga berada di peringkat bawah, dengan masing-masing 55,3 persen dan 67,9 persen.
Perbandingan Global
Laporan ini menunjukkan bahwa negara-negara di Amerika Selatan dan Afrika memiliki tingkat penggunaan email yang lebih tinggi dibandingkan beberapa negara maju seperti Jepang (70,0 persen) dan Hong Kong (71,0 persen). Hal ini mencerminkan perbedaan dalam kebiasaan komunikasi digital di berbagai kawasan.
Negara-negara Eropa seperti Jerman (85,7 persen), Prancis (80,1 persen), dan Inggris (91,1 persen) berada di tengah-tengah dalam penggunaan email, menunjukkan bahwa meskipun email tetap menjadi alat komunikasi penting, tingkat adopsinya bervariasi berdasarkan faktor sosial dan teknologi.
Data ini mengindikasikan bahwa meskipun email masih digunakan secara luas di banyak negara, perbedaannya cukup besar tergantung pada tingkat digitalisasi, preferensi komunikasi, dan akses teknologi di masing-masing negara. Cina, misalnya, memiliki tingkat adopsi aplikasi pesan instan yang jauh lebih tinggi, yang mungkin menjelaskan rendahnya penggunaan email di negara tersebut.
Dengan terus berkembangnya teknologi komunikasi, laporan ini memberikan wawasan penting bagi perusahaan dan individu dalam memahami bagaimana kebiasaan digital berubah di seluruh dunia. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni














