
Inovasi yang dikembangkan MI Muhammadiyah 2 Badas, Kediri, menjadikan di madrasah ini tak ada lagi guru dan siswa gaptek. Mereka telah melek teknologi digital dalam pembelajaran.
Tagar,co – Anak-anak itu suka sekali ketika giliran belajar Laboratorium Digital. Ini fasilitas baru MI Muhammadiyah 2 Badas Kabupaten Kediri. Dibangun pada November 2024 lalu.
Murid yang memasuki laboratorium ini senang belajar memakai laptop baru spesifikasi Core i5. Di lab ini tersedia sepuluh laptop yang dipakai bergantian. Terpasang jaringan internet Wi-Fi berkecepatan di atas 50 Mbps.
”Lab ini didesain bukan sekadar sebagai ruang komputer biasa, melainkan sebagai pusat pembelajaran multimedia dan interaktif yang terintegrasi dengan internet,” kata Kepala MIM 2 Badas, Luky Fajarianto, Senin (25/8/2025).
”Ini langkah maju yang mengubah paradigma belajar dari yang konvensional menjadi dinamis,” ujarnya lagi.
Laboratorium Digital MIM 2 Badas, sambung dia, merupakan pilar pertama pembelajaran modern sebagai infrastruktur digital. Dilengkapi dengan fasilitas canggih yang mendukung berbagai metode pembelajaran.
Dia menjelaskan, di dalamnya terdapat Google TV berukuran 65 inci yang menggantikan proyektor LCD.
Layar besar ini memungkinkan guru untuk menyajikan materi pelajaran secara audio-visual real-time. ”Bayangkan, guru tidak lagi terbatas pada slide presentasi statis,” tuturnya.
Mereka bisa langsung memutar video edukasi dari YouTube, menjelajahi lokasi geografis secara virtual dengan Google Earth, atau mencari informasi terbaru dengan Google Search–semuanya secara langsung di hadapan siswa.
”Siswa jadi tak bosan belajar. Ini pembelajaran yang hidup, yang merangsang indra dan memicu rasa ingin tahu siswa,” ujarnya. ”Lab ini mendukung pembelajaran interaktif yang sangat disukai Generasi Z dan Alfa.”
Guru dapat memanfaatkan berbagai platform edukasi online seperti Canva untuk membuat materi yang menarik secara visual, Kahoot! untuk mengadakan kuis interaktif yang terasa seperti permainan, atau Quizizz untuk evaluasi yang menyenangkan.
”Metode gamifikasi ini mengubah suasana kelas yang kaku menjadi arena kompetisi yang sehat. Siswa termotivasi untuk belajar sambil bersenang-senang,” katanya.
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang biasanya berupa kertas kini beralih ke format digital seperti PDF, Word, atau PowerPoint.
Siswa tidak perlu lagi menulis manual. Mereka bisa langsung mengerjakan tugas di laptop, mencari referensi tambahan dari internet, dan bahkan mempresentasikan hasil kerja mereka secara langsung dari perangkat yang sama.
”Ini tidak hanya menghemat penggunaan kertas, tetapi juga melatih keterampilan digital mereka secara praktis,” tutur Luky.
Koneksi cepat dan stabil ini guru dan siswa dapat mengakses sumber daya digital tanpa hambatan. Lab ini menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif dengan ruang sejuk ber-AC.

Pilar Kedua: Guru Unggul dan Melek Teknologi
Memiliki fasilitas canggih tanpa guru yang kompeten menggunakannya ibarat memiliki mobil balap tanpa pengemudi.
Karena itu, MI Muhammadiyah 2 Badas menjadikan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) guru sebagai pilar kedua dalam strategi inovasinya.
”Kunci keberhasilan transformasi digital terletak pada kemampuan guru untuk menguasai dan mengintegrasikan teknologi ke dalam setiap aspek pembelajaran,” tutur Luky lagi.
Tidak ada lagi guru gaptek. Caranya mengadakan bimbingan teknis (Bimtek) dan pelatihan pada liburan semester lalu.
Materi pelatihan seperti penggunaan perangkat keras, penguasaan platform dan aplikasi digital yang relevan.
Guru dibekali keterampilan Coding dan AI, yang membuka wawasan cara kerja teknologi di balik layar. Dilatih menguasai aplikasi kreatif seperti Canva untuk mendesain materi pembelajaran yang visual, serta platform gamifikasi seperti Kahoot! untuk merancang kuis interaktif yang menarik.
”Pelatihan ini untuk mengubah pola pikir dan mendorong menjadi pendidik inovatif yang mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat menciptakan pengalaman belajar,” jelas dia.
Misal, merancang kurikulum yang terintegrasi dengan teknologi. Siswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, juga produsen konten digital.
”Guru bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator yang membimbing siswa dalam eksplorasi pengetahuan digital,” tandasnya.

Pilar Ketiga, Implementasi Teknologi dan Integrasi Kurikulum
Program inovasi berikutnya membangun pilar ketiga berfokus pada implementasi teknologi dalam pembelajaran melalui penjadwalan yang rutin dan kewajiban bagi setiap guru.
Luky Fajarianto menjelaskan, untuk memastikan semua siswa mendapatkan manfaat dari Laboratorium Digital, MI Muhammadiyah 2 Badas menyusun jadwal penggunaan yang bergantian dan rutin.
Setiap kelas dijadwalkan melakukan pembelajaran di laboratorium ini secara berkala. Setiap siswa memiliki kesempatan merasakan pengalaman belajar berbasis teknologi ini.
Setiap guru juga wajib merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lab digital sebagai sumber dan media belajar.
”Kewajiban ini adalah bentuk komitmen madrasah untuk menjadikan teknologi sebagai bagian integral dari kurikulum, bukan hanya pelengkap,” katanya.
Guru, sambung dia, didorong berkreasi dan berinovasi, merancang skenario pembelajaran yang memanfaatkan Google TV, laptop, internet, dan aplikasi interaktif.
Aktivitas ini dilakukan secara rutin, setidaknya seminggu sekali untuk setiap kelas, memastikan bahwa proses pembelajaran digital menjadi kebiasaan, bukan sekadar acara khusus.
Contoh, guru pelajaran sains menggunakan Google Earth untuk membawa siswa mengunjungi ekosistem di seluruh dunia, atau menonton video eksperimen.
Pelajaran bahasa, siswa dapat membuat presentasi multimedia tentang budaya tertentu atau menggunakan aplikasi untuk berlatih percakapan.
Pelajaran matematika, guru dapat menggunakan platform gamifikasi untuk menguji pemahaman konsep secara cepat dan menyenangkan.
”Setiap mata pelajaran memiliki potensi untuk diintegrasikan dengan teknologi, dan MIM 2 Badas memastikan bahwa potensi ini dimaksimalkan,” ujar Luky..
Hasilnya, transformasi ini telah menunjukkan dampak besar. Guru mampu menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan relevan dengan dunia siswa.
Siswa juga senang dan nyaman mengikuti pembelajaran karena materi disajikan dengan cara yang sesuai dengan karakter mereka. Tidak lagi bosan, malah tertantang dan termotivasi. Pembelajaran menjadi sebuah petualangan yang menyenangkan.

Transformasi Masa Depan
Luky Fajarianto menyampaikan, inovasi MI Muhammadiyah 2 Badas sebuah cerminan dari visi ke depan. Guru tidak sekadar mengajar, tetapi juga mempersiapkan siswa menjadi warga digital yang cerdas dan kompeten.
Dengan tiga pilar: infrastruktur modern, SDM guru yang unggul, dan implementasi yang terstruktur, madrasah ini telah menemukan formula untuk menjawab tantangan dinamika zaman yang terus berubah.
”Laboratorium Digital dan program pelatihan guru ini adalah simbol dari komitmen MI Muhammadiyah 2 Badas untuk menjadi garda terdepan dalam inovasi pendidikan,” tuturnya.
Harapannya, kata dia, inovasi ini menghasilkan siswa dengan prestasi akademik tinggi, terampil di abad ke-21. Seperti berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan literasi digital.
Inovasi ini adalah sebuah investasi pada masa depan, memastikan bahwa generasi Alfa dan Z di MIM 2 Badas tidak hanya mengikuti arus teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kebaikan.
”Langkah progresif ini menjadikan MI Muhammadiyah 2 Badas sebagai model inspirasi bagi sekolah lain yang ingin beradaptasi dengan era digital,” tandasnya. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












