Telaah

Puasa Media Sosial

71
×

Puasa Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Puasa media sosial menjadikan hidup lebih tenang. Tidak penasaran dengan derasnya postingan terbaru yang merasa harus diikuti, padahal informasi tak berguna.
Puasa media sosial

Puasa media sosial menjadikan hidup lebih tenang. Tidak penasaran dengan derasnya postingan terbaru yang merasa harus diikuti, padahal informasi tak berguna.

Oleh R. Arif Mulyohadi, Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim

Tagar.co – Ramadan selalu hadir sebagai bulan yang memanggil manusia untuk kembali menata diri. Bukan hanya momentum ibadah ritual, melainkan juga kesempatan untuk membersihkan hati, memperbaiki orientasi hidup, dan menata ulang hubungan manusia dengan Allah Swt.

Namun kehidupan manusia modern semakin dipenuhi layar HP, notifikasi, dan arus informasi tanpa jeda. Ramadan menghadapi tantangan tidak hanya berjuang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga diuji oleh kebisingan digital yang secara perlahan menggerus ketenangan batin.

Memasuki sepuluh malam terakhir, pada fase ini umat Islam diarahkan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak zikir, tilawah, qiyamul-lail, dan doa.

Sepuluh malam terakhir bukan sekadar penutup Ramadan, melainkan puncak perjalanan spiritual seorang muslim.

Allah Swt. berfirman, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 1–3).

Ayat ini menunjukkan bahwa malam-malam terakhir Ramadan merupakan ruang yang sangat istimewa untuk mendekat kepada Allah, sehingga memerlukan hati yang jernih, fokus, dan khusyuk.

Masalahnya, kehidupan digital hari ini justru menjauhkan manusia dari kualitas batin. Banyak orang tampak hadir di masjid, tetapi perhatiannya tertinggal di telepon genggam. Banyak yang membuka mushaf Qur’an, tetapi pikirannya tetap terikat pada pesan masuk, kabar terbaru, atau percakapan di media sosial.

Baca Juga:  Pidana Korporasi dalam KUHP Baru

Tidak sedikit yang menjadikan ibadah sebagai bagian dari tampilan digital: didokumentasikan, diunggah, lalu diukur dari respons publik.

Fenomena ini menunjukkan manusia modern sedang menghadapi krisis perhatian. Ia hidup dalam kelimpahan informasi, tetapi miskin keheningan. Ia mudah terhubung dengan banyak orang, tetapi sulit terhubung secara mendalam dengan Tuhannya.

Pembebasan

Ramadan seharusnya dibaca kembali sebagai bulan pendidikan ruhani. Puasa tidak hanya bertujuan menahan keinginan biologis, tetapi juga melatih pengendalian diri secara menyeluruh.

Allah Swt. berfirman, Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).

Tujuan utama puasa adalah takwa, dan takwa tidak akan tumbuh dalam jiwa yang terus-menerus dikuasai gangguan, kegaduhan, dan dorongan impulsif.

Karena itu, menahan diri dari kebisingan digital media sosial sesungguhnya merupakan bagian dari penghayatan makna puasa.

Sepuluh malam terakhir menjadi saat yang paling tepat untuk melakukan pembebasan dari dominasi media sosial di layar HP.

Bukan berarti Islam menolak teknologi, sebab teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Yang menjadi masalah ialah ketika alat tersebut mengambil alih kesadaran, menghabiskan waktu, dan mencuri kekhusyukan.

Umat perlu menyadari bahwa tidak semua yang ramai itu penting, dan tidak semua yang viral itu berguna.

Baca Juga:  Konten Ilegal Diblokir, Cuan Masih Mengalir

Dalam hadis yang sangat terkenal disebutkan, Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan hanya pedoman etika lisan, tetapi juga sangat relevan dalam budaya digital. Di tengah derasnya opini, komentar, dan respons spontan, seorang muslim perlu belajar menahan diri, menimbang manfaat, dan tidak larut dalam kegaduhan yang tidak membawa nilai ibadah.

Rasulullah Saw. juga memberikan teladan yang sangat jelas tentang keutamaan sepuluh malam terakhir. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah Saw. menghidupkan malam-malam, membangunkan keluarganya untuk ibadah.

Intensif Ibadah

Fase akhir Ramadan adalah momentum intensifikasi ibadah, bukan puncak kelalaian. Jika malam-malam itu dihabiskan dengan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, dari satu hiburan ke hiburan berikutnya, maka sangat mungkin manusia kehilangan inti dari kesempatan ruhani yang luar biasa besar.

Karena itu, puasa digital media sosial patut dipertimbangkan sebagai latihan spiritual yang kontekstual. Puasa media sosial berarti mengurangi penggunaan gawai pada waktu-waktu tertentu, menonaktifkan notifikasi yang tidak penting, dan menyediakan waktu hening tanpa gangguan layar HP.

Langkah ini bukan bentuk anti-teknologi, melainkan bentuk penguasaan diri agar manusia tidak diperbudak oleh perangkat yang seharusnya ia kendalikan.

Baca Juga:  Suara Pemerintah Kalah dengan Gemuruh Netizen

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda, di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Tirmidzi).

Hadis ini sangat relevan untuk menilai perilaku digital masyarakat hari ini. Betapa banyak waktu yang habis untuk hal yang tidak memberi manfaat, tidak menambah ilmu, tidak memperbaiki akhlak, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Hubungan Keluarga

Pembebasan dari kebisingan digital penting bagi kehidupan keluarga. Tidak sedikit keluarga yang secara fisik berkumpul saat Ramadan, tetapi secara emosional saling berjauhan karena tiap orang sibuk dengan layar HP.

Padahal teladan Nabi justru menunjukkan pentingnya menghidupkan malam bersama keluarga. Rumah semestinya menjadi ruang ibadah yang hangat, tempat tilawah terdengar, doa dipanjatkan, dan percakapan berlangsung dengan penuh makna.

Jika seluruh anggota keluarga larut dalam dunia digitalnya masing-masing, maka Ramadan kehilangan daya didiknya sebagai madrasah ruhani dan sosial.

Pada akhirnya, Ramadan datang untuk mengajarkan ketenangan, kesadaran, dan kendali diri. Jika umat mampu menjadikan sepuluh malam terakhir sebagai momentum untuk menata ulang hubungannya dengan dunia digital, maka Ramadan kembali pada makna aslinya: bulan penyucian jiwa.

Dari sana, manusia belajar bahwa keheningan bukan kekosongan, melainkan ruang tempat hati mendengar panggilan Tuhannya dengan lebih jernih.

Dalam keheningan itulah ibadah menemukan maknanya, doa menemukan kedalamannya, dan manusia menemukan dirinya sebagai hamba. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…