Feature

Guru Sekolah Kreatif Menganti Raih Penghargaan Terbaik Ketiga Praktik Baik Pembelajaran Mendalam

22
×

Guru Sekolah Kreatif Menganti Raih Penghargaan Terbaik Ketiga Praktik Baik Pembelajaran Mendalam

Sebarkan artikel ini
Tiga guru Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti meraih juara ke-3 praktik baik pembelajaran mendalam yang diserahkan dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah Kabupaten Gresik di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Kamis (7/5/2026). Tampak bersama Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Gresik M. Fadloli Aziz (tengah). Dari kiri: Fariatus Sholikha, Dwi Sri Wahyuni, dan Assidik Wibowo (Kepala SMP Muhamadiyah 15 Menganti), dan Ma’rifah Ramadhona. (Tagar.co/Nike Ardila)

Inovasi pembelajaran STEM melalui proyek “Kafe Mini Pecahan” mengantarkan tiga guru Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti meraih terbaik ketiga Praktik Baik Pembelajaran Mendalam Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Gresik. Karya mereka juga diabadikan dalam buku Pijar Berkemajuan.

Tagar.co – Apresiasi membanggakan diraih guru-guru Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah Kabupaten Gresik yang digelar dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Kegiatan bertema “Guru Inspiratif, Inovatif, dan Kolaboratif untuk Pendidikan Bermutu” tersebut berlangsung pada Kamis (7/5/2026) di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik.

Tiga guru Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti, yakni Ma’rifah Ramadhona, S.Pd.; Fariatus Sholikha, S.Pd.; dan Dwi Sri Wahyuni, S.Pd., berhasil dinobatkan sebagai karya terbaik ketiga Praktik Baik Pembelajaran Mendalam Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Kabupaten Gresik.

Baca juga: Karya Juara Praktik Baik Pembelajaran Mendalam Diabadikan dalam Buku Pijar Berkemajuan

Dalam ajang tersebut, ketiganya menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis STEM sederhana bertajuk “Saat Kelas Biasa Menjadi Luar Biasa”. Praktik baik ini diterapkan pada mata pelajaran Matematika kelas VI, khususnya materi pecahan, melalui proyek kreatif bernama “Kafe Mini Pecahan”.

Melalui proyek ini, suasana kelas disulap menjadi sebuah kafe mini yang dirancang langsung oleh siswa. Tidak hanya belajar menghitung pecahan di atas kertas, siswa juga diajak menerapkan konsep matematika dalam kehidupan nyata.

Baca Juga:  19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

Berbagai aktivitas seperti menentukan ukuran bahan, membagi porsi makanan, menghitung harga, hingga melayani pembeli menjadi bagian dari proses pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

Konsep STEM (science, technology, engineering, and mathematics) yang diintegrasikan dalam proyek ini membuat siswa tidak sekadar memahami teori, tetapi juga belajar berpikir ilmiah, kreatif, dan mampu memecahkan masalah secara nyata.

Kegiatan ini sekaligus melatih keterampilan abad ke-21, seperti komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan rasa percaya diri siswa.

Ma’rifah Ramadhona yang kini menjadi Kepala Sekolah Kreatif Menganti itu menjelaskan, proyek STEM ini mengacu pada tiga tahap utama pembelajaran mendalam, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Pada tahap memahami, siswa mempelajari konsep pecahan dan perkalian pecahan secara jelas dan konkret. Pada tahap mengaplikasi, siswa menerapkan konsep pecahan dalam kegiatan nyata, seperti mengukur bahan, membagi porsi, dan membuat menu di kafe mini buatan mereka sendiri.

Sementara pada tahap merefleksi, siswa meninjau kembali pengalaman belajar mereka, menyadari penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari, serta menilai proses dan hasil proyek secara kritis.

Baca Juga:  PDM Gresik Targetkan Mutu Sekolah Muhammadiyah Merata seperti Sistem Franchise

Menurutnya, tantangan terbesar dalam merancang pembelajaran ini adalah mengubah konsep perkalian pecahan yang abstrak menjadi pengalaman belajar yang konkret dan mudah dipahami siswa.

Selain itu, mereka juga berupaya menghadirkan pembelajaran yang aktif dan bermakna melalui pendekatan STEM agar siswa tidak hanya menghitung angka, tetapi juga memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin siswa merasakan bahwa matematika itu dekat dengan kehidupan mereka. Dengan hadirnya ‘Kafe Mini Pecahan’, siswa belajar sambil praktik langsung, bekerja sama dengan teman, berani berkomunikasi, dan percaya diri menjalankan peran mereka,” ungkap Fariatus Sholikha, salah satu guru tim pengembang proyek.

Pengalaman belajar yang menyenangkan pun dirasakan siswa. Salah satu siswa, Naufal Hazza, mengungkapkan, “Sekarang aku tahu pecahan itu bisa dipakai untuk membuat jus!”

Sementara itu, Aisyah Aqila Ajda menambahkan, “Ternyata matematika itu enak ya, kayak kue buatan kami!”

Model STEM “Kafe Mini Pecahan” tidak hanya menguatkan kemampuan numerasi, tetapi juga menumbuhkan karakter peduli, kerja sama, dan rasa percaya diri siswa. Sebagai guru, tim pengembang proyek meyakini bahwa ketika guru berani berinovasi dan menghadirkan pembelajaran kontekstual berbasis proyek, siswa akan menemukan makna belajar yang sesungguhnya.

Baca Juga:  Grafik Terus Naik, Sekolah Muhammadiyah Gresik kian Diminati, Siswa Tembus 14.875

“Kami ingin setiap siswa merasakan bahwa matematika itu dekat dengan kehidupan mereka, menyenangkan, dan bermanfaat,” ujar Dwi Sri Wahyuni.

Tidak hanya mendapat apresiasi dalam simposium, karya praktik baik pembelajaran mendalam tersebut juga diabadikan dalam buku Pijar Berkemajuan bersama karya guru Muhammadiyah lainnya di Kabupaten Gresik.

Melalui buku tersebut, praktik baik pembelajaran mendalam karya guru Muhammadiyah diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak sekolah dan pendidik di Indonesia. Informasi lengkap tentang buku tersebut dapat dibaca melalui.

“Meraih nominasi ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus berinovasi. Ini bukti bahwa pembelajaran yang kreatif dan kontekstual dapat membuat siswa benar-benar memahami dan menikmati matematika,” ujar Ma’rifah Ramadhona. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni