Feature

Sekolah Muhammadiyah Harus Jadi Rebutan Masyarakat

104
×

Sekolah Muhammadiyah Harus Jadi Rebutan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Narasumber pertama, Direktur Penjaminan Mutu dan Pengembangan Sekolah Muhammadiyah Pahri, S.Ag., M.M. (Tagar.co/Yuanita Anggun Candra Yudha)

Direktur Penjaminan Mutu dan Pengembangan Sekolah Muhammadiyah, Pahri, menegaskan sekolah Muhammadiyah harus bertransformasi menjadi lembaga pendidikan unggulan yang diminati masyarakat melalui penguatan ideologi, kepemimpinan transformatif, inovasi kurikulum, dan kualitas pelayanan pendidikan.

Tagar.co – Suasana diskusi panel yang dipandu Ketua FGM Kabupaten Gresik, Ria Pusvita Sari, M.Pd., mendadak hangat saat Direktur Penjaminan Mutu dan Pengembangan Sekolah Muhammadiyah, Pahri, S.Ag., M.M., naik ke podium. Sosok yang juga menjabat sebagai Mudir Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) Gondanglegi itu langsung melontarkan pertanyaan reflektif kepada audiens.

“Apa itu unggul dalam pendidikan? Sederhananya, unggul berarti memiliki nilai lebih dibanding pesaing. Jika sekolah pesaing berprestasi, kita harus lebih berprestasi. Jika mereka hebat, kita harus jauh lebih hebat,” tegas Pahri dengan nada optimistis.

Baca juga: Guru Muhammadiyah Harus Jadi Penggerak Perubahan

Pahri menekankan bahwa sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak boleh terjebak dalam status layamutu wala yahya—hidup segan, mati tak mau. Bagi pria kelahiran Bangkalan itu, jumlah murid menjadi indikator kepercayaan publik.

Baca Juga:  Risma: Ibu Rumah Tangga Tak Perlu Minder

Ia mengibaratkan sekolah dengan pepatah Jawa “banyak anak banyak rezeki”. Semakin banyak murid, semakin luas jangkauan dakwah Muhammadiyah dan semakin besar peluang mencetak bibit unggul pejuang bangsa.

“Jika murid banyak, guru yang butuh AC tinggal tunjuk di toko bangunan, barang langsung sampai ke sekolah. Sebaliknya, tanpa murid, guru kehilangan semangat. Kita harus beralih dari sekolah yang ditolak siswa menjadi sekolah yang menolak siswa karena kuota membludak,” tambahnya.

Direktur Penjaminan Mutu dan Pengembangan Sekolah Muhammadiyah, Pahri, menyampaikan materi di hadapan peserta Simposium Nasional Guru Muhammadiyah dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2026 di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Kamis (7/5/2026). (Tagar.co/Mohammad NurfatoniO

Delapan Langkah Menuju Sekolah Jawara

Pahri yang telah mengabdi sebagai guru selama 32 tahun itu membagikan “resep dapur” berupa delapan langkah cepat mewujudkan pendidikan unggul. Fondasi utamanya adalah peneguhan visi Islam Berkemajuan.

Ia menceritakan pengalamannya mengunjungi sekolah Muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke. Kesimpulannya satu: sekolah yang bertahan adalah sekolah yang ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahannya berjalan kuat.

“Kiai Ahmad Dahlan mampu mempertahankan sekolah di tengah keterbatasan sarana karena ideologi yang mantap. Jika ideologi kuat, segala sesuatu tidak lagi diukur dengan uang,” jelas ayah tiga anak tersebut.

Baca Juga:  Pemkab Gresik Apresiasi Peran Muhammadiyah dalam Memajukan Pendidikan

Ia mencontohkan penerapan Morning Spiritual Gathering selama 30 menit setiap pagi sebagai cara memperkuat semangat perjuangan para guru.

Langkah kedua dan ketiga menitikberatkan pada kepemimpinan transformatif dan kompetensi pendidik. Pahri mengenang saat pertama kali menjabat kepala sekolah pada 2008. Kala itu, gedung sekolahnya lebih rendah dibanding pohon tebu di sekitarnya. Namun, lewat mimpi besar, ia berhasil membangun gedung tujuh lantai yang megah.

“Tidak ada sekolah besar tanpa kepala sekolah yang bermimpi besar. Sekolah petarung hanya lahir dari guru petarung. Performa guru mencerminkan performa sekolah sekaligus kesejahteraan yang mereka terima,” tuturnya sembari mengingatkan pentingnya penampilan guru yang rapi dan berwibawa di depan siswa.

Narasumber pertama, Direktur Penjaminan Mutu dan Pengembangan Sekolah Muhammadiyah Pahri, S.Ag., M.M. (Tagar.co/Yuanita Anggun Candra Yudha)

Inovasi Kurikulum dan Kekuatan Doa

Memasuki poin keempat hingga ketujuh, Pahri mengajak pengelola sekolah untuk tidak terjebak dalam kerumitan administratif kurikulum. Sekolah harus mengadopsi kurikulum yang adaptif dan integratif, serta aktif mencetak prestasi akademik maupun nonakademik melalui berbagai perlombaan.

Sarana dan prasarana yang modern, aman, serta ramah lingkungan juga menjadi harga mati untuk mendukung pembelajaran holistik.

Baca Juga:  Prof. Martadi Mengajak Sekolah Muhammadiyah Mendahului Perubahan

Target konkretnya ialah peningkatan keberhasilan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) hingga 200 persen. Sekolah unggul akan selalu menjadi rebutan orang tua karena kualitas layanan yang diberikan.

Pahri mencontohkan bagaimana ia mengubah Pesantren Al-Maun menjadi Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah sebagai bentuk adaptasi terhadap kebutuhan zaman.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa segala ikhtiar lahiriah harus bermuara pada kekuatan batin.

“Langkah kedelapan adalah doa. Ini merupakan ikhtiar batin kita untuk berbicara tentang masa depan lima hingga 10 tahun ke depan,” pungkasnya di hadapan para peserta yang tampak antusias menyerap ilmu dari praktisi pendidikan tersebut.

Hadir pula dalam diskusi itu Wakil Rektor Unesa, Dr. Martadi, M.Sn., yang turut memberikan perspektif mengenai pengembangan teknologi informasi untuk mendukung percepatan mutu sekolah di era digital. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni