Utama

Guru Muhammadiyah Harus Jadi Penggerak Perubahan

80
×

Guru Muhammadiyah Harus Jadi Penggerak Perubahan

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua PWM Jawa Timur Dr. Hidayatulloh, M.Si.,, menyampaikan keynote speech dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah memperingati Hari Pendidikan Nasional 2026 di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Kamis (7/5/2026). (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Wakil Ketua PWM Jatim Dr. Hidayatulloh menegaskan guru Muhammadiyah harus hadir sebagai penggerak perubahan, pembangun karakter, sekaligus teladan di tengah masyarakat.

Tagar.co – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Dr. Hidayatulloh, M.Si., menegaskan bahwa guru Muhammadiyah harus menjadi penggerak perubahan dan pembangunan peradaban.

Hal itu dia sampaikan dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah memperingati Hari Pendidikan Nasional 2026 di Hall Sang Pencerah lantai 8 Universitas Muhammadiyah Gresik, Kamis (7/5/2026).

Baca juga: Karya Juara Praktik Baik Pembelajaran Mendalam Diabadikan dalam Buku Pijar Berkemajuan

 Hidayatulloh menjadi keynote speech mewakili Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Fajar Riza Ul Haq yang berhalangan hadir secara mendadak.

Mengawali pidatonya, Dr. Hidayatulloh yang mengangkat tema “Guru Muhammadiyah yang Menggerakkan” mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, menjelang wafatnya.

“…Kiranya aku tidak lama lagi akan meninggalkan kamu sekalian. Aku tidak mempunyai harta benda yang akan kutinggalkan kepadamu. Aku hanya mempunyai Muhammadiyah yang akan aku wariskan kepadamu sekalian. Karena itu aku berpesan dan menitipkan Muhammadiyah ini kepadamu dengan sepenuh hati agar Muhammadiyah dapat berkembang dan maju selama-lamanya,” kutipnya.

Menurutnya, pesan tersebut menunjukkan bahwa salah satu gerakan strategis Muhammadiyah sejak awal adalah pendidikan. Karena itu, warga Muhammadiyah harus memahami bahwa Muhammadiyah dilahirkan bukan sekadar organisasi biasa, melainkan gerakan dakwah dan pembaruan melalui pendidikan.

Baca Juga:  Rektor UMG Ajak Guru Muhammadiyah Jadikan Siswa sebagai Pusat Pembelajaran

“Muhammadiyah tidak pernah memandang pendidikan sebagai aktivitas rutin semata, apalagi administratif. Pendidikan adalah gerakan transformatif,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa tugas kepala sekolah tidak hanya menjalankan administrasi pendidikan, tetapi juga memastikan guru-guru di sekolah Muhammadiyah terus mengalami perubahan dan perkembangan diri.

Hidayatulloh menjelaskan bahwa sekolah Muhammadiyah didesain untuk melahirkan manusia berkemajuan, yakni manusia yang cerah dan mencerahkan, maju dan memajukan, serta memiliki akhlak mulia dan keberanian untuk melakukan perubahan menuju kebaikan.

“Guru-guru Muhammadiyah tidak boleh membiarkan sesuatu yang tidak tepat. Guru harus berani melakukan perubahan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah harus memiliki peran sentral dalam mewujudkan transformasi sosial di tengah masyarakat. Karena itu, guru Muhammadiyah dituntut memiliki karakter yang mampu menggerakkan lingkungan pendidikan maupun sosial.

Menurutnya, karakter pertama yang harus dimiliki guru Muhammadiyah adalah kemampuan menumbuhkan kepercayaan. Guru Muhammadiyah harus memiliki kompetensi, kejujuran, tanggung jawab, sekaligus mampu membangun kedekatan dengan peserta didik dalam batas-batas yang tepat.

Selain itu, guru Muhammadiyah juga harus visioner dan inspiratif. Guru harus memiliki pandangan jauh ke depan, memahami visi dan arah keberhasilan, sekaligus mampu menunjukkan jalan menuju keberhasilan tersebut kepada peserta didik.

Baca Juga:  Pemkab Gresik Apresiasi Peran Muhammadiyah dalam Memajukan Pendidikan

“Guru harus tahu jalan menuju keberhasilan, mau menuju jalan keberhasilan itu, sekaligus menunjukkan jalan menuju keberhasilan itu,” jelasnya.

Undangan dan peserta Simposium Nasional Guru Muhammadiyah mengikuti rangkaian kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Kamis (7/5/2026). (Mohammad Nurfatoni/AI)

Ia juga menekankan pentingnya kepala sekolah dan guru untuk terus menghadirkan inspirasi dan motivasi di lingkungan pendidikan.

“Murid-murid kita harus merasa ada sesuatu yang kita berikan. Dengan begitu kehadiran guru akan selalu dirindukan,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa guru Muhammadiyah harus menjadi role model atau teladan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.

Dalam keynote speech tersebut, Dr. Hidayatulloh kembali menegaskan bahwa posisi guru Muhammadiyah sangat strategis karena menjadi ujung tombak pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Menurutnya, metode dan materi pembelajaran memang penting, namun keberadaan guru jauh lebih penting dari sekadar metode. Bahkan yang lebih utama lagi adalah jiwa seorang pendidik.

“Metode itu penting, materi juga penting. Tetapi metode lebih penting. Namun jangan berhenti di metode. Hadirnya seorang guru lebih penting daripada metode. Dan yang lebih penting lagi adalah jiwa seorang pendidik,” ungkapnya.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah Harus Jadi Rebutan Masyarakat

Ia menambahkan bahwa guru Muhammadiyah harus hadir dengan sepenuh jiwa dan raga dalam mendidik peserta didik.

Dalam materi yang disampaikan, Dr. Hidayatulloh menjelaskan bahwa guru Muhammadiyah bukan hanya profesi, melainkan panggilan jiwa untuk berdakwah dan membangun peradaban. Guru Muhammadiyah juga tidak hanya mengajar, tetapi menghidupkan hati, mencerahkan akal, dan menggerakkan tindakan.

Selain melakukan transfer of knowledge dan transfer of competence, guru Muhammadiyah juga harus melakukan transfer of values, yakni menanamkan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah kepada peserta didik.

“Nilai-nilai yang diperjuangkan Muhammadiyah harus dibawa oleh guru-guru Muhammadiyah. Kalau ini terus kita bawa, maka tidak ada guru Muhammadiyah yang menggerutu dan tidak ikhlas,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan konsep “guru yang menggerakkan”, yakni guru yang mampu menggerakkan diri untuk terus belajar dan berinovasi, menggerakkan murid agar berpikir kritis dan berani berkontribusi, menggerakkan sekolah menjadi pusat solusi dan perubahan sosial, serta menggerakkan lingkungan dengan hadir di tengah masyarakat. (#)

Jurnalis Ain Nurwindasari Penyunting Mohammad Nurfatoni