
Meluruskan sejarah Islam di Nusantara diperlukan karena narasi orientalis Belanda sudah lama tertanam dalam pengetahuan sejarawan lokal yang diajarkan di sekolah.
Oleh Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam Sidoarjo.
Tagar.co – Salah satu teori sejarah masuknya Islam ke Nusantara menyatakan Islam dibawa oleh pedagang muslim dari Gujarat, India, pada sekitar abad ke-13 Masehi.
Teori ini menyoroti peran perantara pedagang India dalam menyebarkan ajaran Islam ke wilayah pesisir Nusantara sebelum akhirnya berkembang menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
Teori Gujarat ini dikembangkan oleh para orientalis dari Belanda seperti Jan Pijnapple dan Snouck Hugronje dari Universitas Leiden.
Teori itu narasi penggelapan sejarah sejarah Islam di Nusantara. Dengan teori Gujarat ini para orientalis berupaya untuk menutupi fakta peran Islam di Nusantara. Karena itu kita perlu meluruskan sejarah ini.
Padahal sejarah mencatat, Islam masuk ke Nusantara itu terjadi pada abad 7 Masehi. Ada catatan sejarah yang menyebutkan pada tahun 651 M (30 H), Khalifah Utsman bin Affan mengirimkan utusan (Muawiyah bin Abu Sufyan) ke Kalingga untuk memperkenalkan Islam di wilayah Jawa.
Hubungan yang terjalin saat itu adalah hubungan keagamaan dan perdagangan, di mana Nusantara diakui sebagai bagian dari dunia Islam yang luas.
Oleh karenanya Teori Gujarat menuai beberapa kritik. Kesetaraan data tidak klop. Contoh islamisasi Samudera Pasai yang raja pertamanya wafat pada 698 H atau 1297 M. Pada masa itu Gujarat masih di bawah Kerajaan Hindu.
Ahli sejarah T.W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam (1968), menguatkan temuan bahwa penyebaran Islam di Jawa dibawa mubalig langsung dari Jazirah Arab sejak awal ke 7 Masehi. Dari sini awal kemudian berkembang pesat ke banyak daerah.
Literatur kuno Tiongkok juga menyebutkan, sekitar 625 Masehi telah ada perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera, di kota Barus. Demikian juga di daerah Leran Gresik ditemukan batu nisan di kuburan seorang muslimah bernama Fathimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 Masehi.
Dengan begitu temuan tersebut memperkuat bukti, dakwah Islam merambah Jawa Timur pada abad ke 11 Masehi.
Berdasarkan fakta ini, pakar sejarah Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin Islam masuk ke Nusantara saat Nabi Saw masih hidup di Makkah dan Madinah.
Demikian juga dikatakan sejarahwan Dr. Haikal Hasan. Ada cerita Ali bin Abi Thalib pernah datang dan berdakwah ke Garut dan Cirebon di Jawa Barat wilayah Tanah Sunda pada tahun 625 Masehi.
Setahun kemudian disusul Jakfar bin Abi Thalib memilih berdakwah ke Jepara yang menjadi pusat kerajaan Kalingga di Jawa Tengah pada 626 Masehi.
Hal itu dibuktikan ditemukannya artefak, Kerajaan Kalingga di Jepara, Jawa Tengah, pada 640 – 650 Masehi diperintah Ratu yang adil bernama Sima. Anaknya Ratu Jayisima pernah bersurat menyurat dengan Bani Umayyah di masa Muawiyyah bin Abi Sufyan.
Isi suratnya, kerajaan Kalingga meminta agar didatangkan juru-juru dakwah dari Jazirah Arab ke pusat kerajaan di Jepara dan wilayah lainnya. Penguatan bukti-bukti tersebut tersimpan di Museum Granada Spanyol berupa surat-surat Ratu Sima dengan ke Khalifahan Bani Umayyah di Damaskus, Suriah.
Ini bukti Nusantara menjadi tujuan dakwah para sahabat Nabi Saw. Usai masa Khalifah Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib, digantikan generasi tabi’in seperti Umar bin Abdul Aziz yang memerintah pada tahun 711 Masehi.
Tujuh tahun kemudian (718 Masehi), Umar bin Abdul Aziz bersama putranya Abdul Malik menginjakkan kakinya di Palembang , Sumatera Selatan, saat kerajaan Sriwijaya dipimpin dengan raja Budha bernama Srindra Varma yang kemudian memeluk Islam.
Keislaman Raja Srindra Varma bisa dilihat pada makamnya tertulis kalimat tauhid dua kalimat syahadat. Juga tercatat dalam sejarah ada dua sahabat Nabi Saw yang berdakwah di Aceh, yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Salman Al Farisi pada tahun 626 Masehi atau tahun 4 Hijriyah.
Oleh karenanya Aceh di juluki sebagai kota Serambi Makkah, karena daerah pertama masuknya Islam di Asia Tenggara. Jalurnya melalui Perlak dan Pasai, kemudian baru menyebar ke Nusantara.
Bukan hanya Aceh dijuluki sebagai kota Serambi Mekah. Kota Gorontalo, Sulawesi, juga berjulukan Serambi Madinah. Ini menunjukan, penyebaran Islam di Nusantara itu berasal dari Makkah dan Madinah atau Jazirah Arab, bukan dari Gujarat India.
Penggelapan Sejarah
Snouck Hurgonje ( 1857-1936) adalah orientalis Belanda yang berpura-pura masuk Islam menjadi Abdul Ghaffar. Menjadi konsul Belanda di Jeddah (1885) mengurusi penduduk muslim wilayah jajahan Belanda yang berada di Arab. Dari situ mempelajari Islam di Makkah. Pergaulannya sangat luas hingga sempat melaksanakan haji.
Tapi tetaplah dia seorang Kristen yang secara personal dan menggunakan pengetahuannya untuk melemahkan perlawanan Islam di Aceh. Di Indonesia, ia berfokus memisahkan Islam sebagai agama dari Islam sebagai doktrin politik.
Ia menasihati Belanda untuk menghormati adat tetapi menindak keras fanatisme Islam politik yang mengancam penjajahan. Saat mati, ia dikuburkan dengan cara Kristen.
Snouck Hurgronje menyimpangkan sejarah masuknya Islam di Nusantara terutama melalui teori Gujarat untuk kepentingan politik kolonial Belanda. Tujuannya memisahkan umat muslim Nusantara dengan pusat Islam di Makkah. Lewat cara ini spiritual, fanatisme, dan militansi Islam berkurang sehingga melemahkan perlawanan umat Islam kepada penjajah.
Dengan teori Gujarat, ia ingin menanamkan pandangan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara adalah Islam pinggiran yang bercampur adat istiadat. Tujuannya membantah keterlibatan langsung bangsa Arab, sehingga ikatan emosional dan ideologis umat muslim Nusantara dengan pusat Islam di Timur Tengah dapat diputuskan.
Sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda, Snouck melakukan tipu daya kepada umat Islam di Nusantara dengan cara mempelajari kelemahan masyarakat, khususnya di Aceh yang saat itu sangat sulit ditaklukkan.
Ia berargumen bahwa fanatisme keagamaan adalah bahaya utama bagi kekuasaan Belanda. Sejarah kolonial diwarnai kepentingan politik penjajah. Karena itu sepatunya kita meluruskan supaya tidak salah paham dengan Islam.
Sebab Al-Quran dalam surah Ali Imran ayat 54 mengajarkan
وَمَكَرُوا۟ وَمَكَرَ ٱللَّهُ ۖ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَٰكِرِينَ
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
Maksud ayat ini, adalah Allah membalas tipu daya mereka itu sehingga mereka gagal total dalam melaksanakan tipu dayanya. Bahkan Allah menguatkan Islam ini dengan tersebarnya dakwah tauhid. Wallaahu ‘alamu bishawwab. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












