
Enam sekolah Muhammadiyah di Gresik mendapat predikat sekolah model implementasi pembelajaran mendalam serta koding dan AI dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah 2026.
Tagar.co – Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik dipenuhi sekitar 400 guru dan pegiat pendidikan dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah 2026, Kamis (7/5/2026).
Meski ruang pertemuan yang terletak di lantai depalan itu berpendingin udara, suasana forum tetap terasa hangat oleh antusiasme peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional itu.
Baca juga:Prof. Martadi Mengajak Sekolah Muhammadiyah Mendahului Perubahan
Salah satu agenda utama dalam simposium tersebut adalah penetapan enam sekolah Muhammadiyah di Gresik sebagai Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
Keenam sekolah itu yakni TK Aisyiyah 36 PPI, SD Muhammadiyah Manyar, SD Muhammadiyah 1 GKB, SMP Muhammadiyah 12 GKB, SMA Muhammadiyah 1 Gresik, dan SMA Muhammadiyah 10 GKB.
Kepala TK Aisyiyah 36 PPI, Iffah Nihayati, S.Psi., mengatakan pengenalan teknologi kepada anak usia dini perlu dilakukan dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan.
“Kami berharap sekolah tidak hanya mengasah kedalaman berpikir, tetapi juga memupuk kreativitas anak-anak agar mereka menghasilkan karya sesuai imajinasi,” ujarnya.
Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam mengenalkan teknologi seperti koding dan kecerdasan artifisial, baik melalui perangkat digital maupun metode unplugged tanpa perangkat elektronik. Karena itu, peningkatan kemampuan guru dan karyawan terus dilakukan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Hal senada disampaikan Kepala SD Muhammadiyah Manyar, Athiq Amiliyah, S.Pd. Ia menilai penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan adaptif.
“Semoga penghargaan ini mendorong guru untuk terus berkreasi dalam pembelajaran. Kami ingin membentuk siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan era digital,” katanya.
Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah 1 GKB atau Mugeb Primary School, Fony Libriastuti, M.Si., menyebut status sekolah model menjadi tanggung jawab untuk menciptakan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, sekolah telah mengintegrasikan pembelajaran mendalam (deep learning) dan kelas digital dalam kurikulum agar siswa mampu memahami serta memanfaatkan teknologi secara tepat.
“Tujuan kami adalah menciptakan pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman. Kami ingin Mugeb Primary School tetap konsisten melaksanakannya,” ungkap Fony.
Di jenjang menengah, Kepala SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas), Yugo Triawanto, M.Si., berharap sekolahnya dapat menjadi contoh dalam implementasi koding dan kecerdasan artifisial bagi sekolah lain.
Kepala Smamsatu Nurul Ilmiyah, S.Pd. turut menyampaikan harapannya. “Harapan saya, Smamsatu bisa mengimplementasikan apa yang menjadi tujuan pemerintah dari pelaksanaan sekolah model ini. Sehingga nanti pada akhirnya Smamsatu bisa berbagi dengan sekolah-sekolah lain utamanya berbagi dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah di kabupaten Gresik,” ujarnya.
Adapun Kepala SMA Muhammadiyah 10 GKB, Ulyatun Nikmah, M.Pd., menekankan bahwa penguatan teknologi harus tetap diimbangi dengan pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.
“Di era transformasi digital, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan. Kami harus membentuk karakter dan akhlak yang kuat. Implementasi AI kami arahkan agar teknologi tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman,” tegasnya.
Simposium ini mendapat dukungan dari berbagai lembaga pendidikan, mulai SD Alam Muhammadiyah Kedanyang hingga SMK Muhammadiyah 1 Gresik. Dukungan turut datang dari sektor industri dan perbankan, seperti PT Petrokimia Gresik dan Bank Muamalat Indonesia KCP Gresik. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












