
Wakil Rektor Unesa, Prof. Dr. Martadi, M.Sn., menegaskan sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya beradaptasi dengan disrupsi teknologi, tetapi harus mampu mendahului perubahan melalui penguatan spiritualitas, soft skill, dan pendidikan berbasis kasih.
Tagar.co — Lantai 8 Gedung Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) tampak padat, Kamis (7/5/2026). Ratusan pendidik berkumpul dalam Simposium Nasional Guru Muhammadiyah untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Di bawah sorot lampu aula megah tersebut, suasana diskusi memanas saat Prof. Dr. Martadi, M.Sn., Wakil Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), membedah tantangan pendidikan di era “Megatren” global.
Ketua FGM Kabupaten Gresik, Ria Puspita Sari, M.Pd., memandu jalannya diskusi panel dengan narasumber yang kompeten di bidangnya. Martadi mengawali paparannya dengan analogi tajam mengenai teknologi.
Menurutnya, teknologi layaknya pisau bermata dua. Jika berada di tangan yang tepat akan mendatangkan manfaat besar, namun jika salah kelola justru menjadi alat “bunuh diri” bagi lembaga pendidikan.
Baca juga: Sekolah Muhammadiyah Harus Jadi Rebutan Masyarakat
“Kita masuk dalam megatren global, perubahan besar akibat disrupsi teknologi,” ujar Martadi di hadapan para guru.
Ia menekankan bahwa lembaga pendidikan harus memiliki resiliensi atau daya tahan tinggi. Tanpa perubahan paradigma, sekolah akan tergilas zaman hingga kehilangan murid tanpa menyadari penyebabnya.
Ia menegaskan, menyesuaikan diri saja tidak cukup; sekolah harus mampu mendahului perubahan tersebut.
Menyeimbangkan Teknologi dan Akar Spiritualitas
Indonesia berada di persimpangan jalan yang unik. Di satu sisi, masyarakat bergerak menuju era materialistis dan hiper-inovatif. Namun, di sisi lain, akar nilai spiritual dan budaya masih mengikat kuat. Martadi mengkritisi wacana penghapusan pendidikan agama yang sempat mencuat, menyebutnya sebagai blunder besar bagi karakter bangsa.
“Tugas pendidikan adalah menjaga keseimbangan dialektika. Sekolah bertahan bukan hanya karena kemajuan pengetahuan, tetapi juga karena mampu memadukan teknologi dengan nilai spiritual yang kokoh,” jelasnya.
Ia mendorong sistem pendidikan Muhammadiyah untuk menyiapkan anak didik yang melek teknologi namun tetap berpijak pada nilai Kemuhammadiyahan.
Salah satu tantangan nyata adalah hilangnya jenis pekerjaan lama dan munculnya profesi baru. Martadi menekankan pentingnya soft skill sebagai kompetensi inti (core competencies). Karena hal ini tidak terwadahi secara khusus dalam mata pelajaran, sekolah perlu mendesain proyek sosial.
“Mendesain agar anak berpikir kritis dan tahan banting. Buka ruang kreatif, misalnya melalui proyek sosial dua kali setahun agar profil lulusan menjadi jelas,” tambahnya.
Pendidikan Berbasis Cinta dan Kurikulum Personal
Memasuki sesi lebih dalam, Martadi mengajak para guru melihat fenomena “generasi baru” yang jauh berbeda. Ia menyebut bahwa tantangan adab dan kompleksitas persoalan anak saat ini memerlukan pendekatan deep learning.
Teknologi harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan dianggap sebagai ancaman. Ia bahkan menyarankan agar guru berhenti memberikan ujian yang bersifat individual dan kompetitif.
“Hidup tidak pernah sendiri. Berhenti memberi ujian personal yang membuat anak individualis. Anak tidak kita siapkan untuk bersaing, melainkan untuk berkolaborasi,” tegas Martadi.
Ia juga mendorong Muhammadiyah agar berani mengkritisi kurikulum nasional yang bersifat standar. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah harus naik level dengan kurikulum internasional yang terpersonalisasi (bespoke curriculum).
Martadi membagikan kisah inspiratif saat ia menjabat sebagai kepala sekolah. Ada seorang siswa yang hingga kelas 6 SD belum lancar membaca, namun memiliki bakat luar biasa di bidang multimedia.
Berkat fasilitas yang tepat, kini anak tersebut sukses berbisnis di bidang tersebut. Ia pun mengusulkan agar kurikulum tidak lagi “sama rata sama rasa”. Anak yang memiliki potensi berbeda boleh mengambil subjek dengan kedalaman konten yang berbeda pula.
Guru Hebat: Mata Uang Berharga Berjiwa Kasih
Sebagai penutup yang menyentuh, Martadi menekankan bahwa roh pendidikan terletak pada dua hal: materi yang disampaikan dan sosok yang menyampaikan. Baginya, kurikulum sesungguhnya adalah guru itu sendiri. Meski teknologi AI, YouTube, dan Google menyediakan informasi melimpah, mereka tidak memiliki “hati”.
“Transformasi guru harus menyentuh hati, rasa, dan kasih sayang kepada anak. Definisi pedagogi cuma satu: pedagogy is love. Dimulai dari Rahman dan Rahim,” ungkapnya dengan penuh penekanan.
Ia meyakinkan para pendidik bahwa gelar akademik yang tinggi tidak akan berarti jika seorang guru kehilangan rasa cinta dalam mendidik.
Menurutnya, kekuatan sekolah Muhammadiyah terletak pada guru-guru hebat yang mampu menjadi penyeimbang kemajuan zaman. Martadi berpesan agar para guru tidak perlu risau selama masih memiliki dedikasi dan kasih sayang.
Dengan modal spiritualitas yang kuat, setiap lulusan Muhammadiyah diharapkan tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu merefleksikan nilai-nilai suci tersebut dalam kehidupan nyata dan karier profesional mereka di masa depan. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni













