
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik menargetkan pemerataan kualitas sekolah melalui model standarisasi layaknya sistem franchise, agar mutu pendidikan tidak lagi timpang antarwilayah dan mampu bersaing secara kolektif.
Tagar.co — Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, H. Yusuf Diachmad Sabri, S.T., M.B.A., menegaskan bahwa penguatan tradisi keilmuan, integrasi nilai dalam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta sinergi program menjadi kunci utama kemajuan pendidikan Muhammadiyah.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Halalbihalal dan Rapat Koordinasi Daerah Majelis Dikdasmen PNF PDM Gresik bersama kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik di Aula Mentari SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Sabtu (4/4/26).
Baca juga: Serap Energi Muhammadiyah, Hariyanto Dorong Kepemimpinan Positif di Sekolah
Dalam sambutannya, Yusuf mengawali dengan refleksi ringan namun sarat makna terkait budaya organisasi Muhammadiyah. Ia mengingatkan pentingnya kajian iftitah sebagai tradisi yang tidak boleh ditinggalkan.
“Tradisi di Muhammadiyah adalah sebuah kajian iftitah. Itulah dimana Muhammadiyah dimulai sehingga ini tetap harus kita hidupkan,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan momentum pasca-Ramadan dengan pesan Al-Qur’an tentang ketakwaan dan pentingnya bersegera dalam kebaikan. Menurutnya, puasa yang telah dijalani harus bermuara pada peningkatan kualitas diri, termasuk dalam semangat memohon ampun dan memperbanyak amal terbaik.
“Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik,” katanya, seraya mengaitkannya dengan konsep best practice dalam kerja-kerja perserikatan.
Masuk pada substansi organisasi, Yusuf menegaskan bahwa AUM bukan sekadar lembaga formal, tetapi sebuah sistem nilai yang utuh. “AUM itu adalah sebuah integrasi antara keimanan, keikhlasan, keilmuan dan amal saleh,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa iman menjadi fondasi, keikhlasan menjadi ruh kerja, keilmuan dan profesionalisme menjadi alat, hingga akhirnya bermuara pada amal saleh yang berdampak.

Lebih lanjut, ia menguraikan spektrum amal saleh dalam tiga level. Pertama, amal saleh individu—yakni kebaikan yang dimulai dari diri sendiri. Kedua, amal saleh sosial—ketika seseorang mengajak dan menggerakkan orang lain dalam kebaikan.
Ketiga, amal saleh publik—yang diwujudkan dalam kebijakan dan keputusan strategis untuk kemaslahatan bersama. “Itu bagian dari sebuah dakwah… menjadi tugas kita semua untuk berdakwah,” ujarnya.
Dalam dinamika organisasi, Yusuf tidak menutup mata terhadap potensi konflik. Namun ia menegaskan bahwa persoalan adalah bagian dari proses yang harus dikelola dengan bijak. “Ketika kita kemudian ribut di bawah itu hal yang lumrah, tapi jangan sampai kita hanya fokus pada hal yang kecil kita lupa pada tujuan yang besar,” pesannya. Ia mengingatkan bahwa konflik seringkali bersumber dari lemahnya komunikasi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat dan keterbukaan hati. “Inti dari sebuah organisasi adalah manajemen, inti dari manajemen adalah komunikasi, inti dari komunikasi adalah keterbukaan hati,” ungkapnya.
Menurutnya, tanpa keterbukaan, sistem sebaik apa pun akan mudah dipersoalkan, namun dengan hati yang terbuka, persoalan dapat diselesaikan secara dewasa.
Dalam bidang pendidikan, Yusuf menyampaikan visi besar Muhammadiyah Gresik untuk mewujudkan standar mutu sekolah yang merata. Ia mengibaratkan sistem pendidikan Muhammadiyah seperti franchise.
“Bagaimana agar sekolah-sekolah ini seperti franchise. Kualitasnya tidak akan jauh berbeda,” katanya. Ia mengakui bahwa tantangan masih ada, namun upaya menuju standarisasi harus terus dilakukan.
Sebagai langkah konkret, ia mendorong kolaborasi antar sekolah, termasuk pertukaran guru dan berbagi praktik baik. Ia mencontohkan beberapa sekolah yang telah memulai langkah tersebut dan berharap dapat direplikasi di wilayah lain agar tidak terjadi kesenjangan kualitas antar lembaga.
Selain itu, Yusuf juga menyoroti persoalan banyaknya program di tingkat daerah. Ia mengungkapkan bahwa terdapat ratusan program yang dirancang oleh berbagai majelis, namun perlu dilakukan efisiensi agar lebih berdampak.
“Kita berbicara pada efisiensi dan program yang berdampak dengan sebuah sinergi,” ujarnya. Dengan kolaborasi, menurutnya, kebutuhan anggaran dapat ditekan dan program menjadi lebih fokus.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan perspektif hukum dan hak asasi manusia di lingkungan sekolah. Menurutnya, berbagai persoalan antara guru, siswa, dan wali murid dapat dihadapi dengan lebih bijak jika sekolah memiliki wawasan tersebut. “Mewujudkan sebuah sekolah yang berwawasan keasasi manusia,” menjadi salah satu arah yang didorong.
Dalam aspek ekonomi, Yusuf mengingatkan amanat jihad ekonomi Muhammadiyah yang harus didukung bersama. Ia mencontohkan adanya unit usaha seperti layanan travel yang perlu dimanfaatkan oleh warga persyarikatan.
“Kita telah mencanangkan jihad ekonom, siapa yang membesarkan? kita semua,” tegasnya, menekankan pentingnya loyalitas terhadap usaha internal.
Tak kalah penting, ia juga menyinggung keseimbangan antara hak dan kewajiban, khususnya dalam pengelolaan keuangan sekolah. Ia mengingatkan bahwa ketika sekolah menuntut hasil—seperti jumlah siswa—maka kewajiban administratif dan finansial juga harus ditunaikan dengan baik dan terencana.
Di akhir sambutannya, Yusuf mengajak seluruh peserta untuk tetap optimistis dan berkomitmen dalam memajukan pendidikan Muhammadiyah.
Dengan nada reflektif, ia menutup dengan kalimat yang menggugah, “Ketika ada cahaya mengapa kita memilih lilin, ketika ada Muhammadiyah mengapa memilih yang lain,” sebagai penegasan bahwa Muhammadiyah adalah pilihan utama dalam membangun pendidikan berkemajuan. (#)
Jutnalis Mohammad Nurfatoni












