Feature

Hariyanto Beber Resep Dispendik Gresik Jadi Dinas Terbaik: Dari Mimpi, Kolaborasi, hingga Nawakarsa

265
×

Hariyanto Beber Resep Dispendik Gresik Jadi Dinas Terbaik: Dari Mimpi, Kolaborasi, hingga Nawakarsa

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik S. Hariyanto (tengah) bersama Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah (Pendma) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik Masfufah M.Pd.I.. dan Ainul Muttaqin (Tagar.co/Ulul)

Kepala Dinas Pendidikan Gresik S. Hariyanto membeberkan “resep” di balik keberhasilan Dispendik Gresik menjadi salah satu dinas terbaik, mulai dari kekuatan mimpi, kolaborasi, hingga integrasi program Nawakarsa.

Tagar.co – Predikat Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Gresik sebagai salah satu dinas terbaik di daerah itu bukan sekadar klaim. Dalam beberapa tahun terakhir, capaian kinerja, penghargaan, hingga peningkatan indeks pendidikan menunjukkan tren yang konsisten menguat.

Namun, di balik capaian tersebut, ada proses panjang yang dibangun dari cara berpikir, kepemimpinan, hingga kerja kolektif yang dijalankan secara konsisten.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, S. Hariyanto, saat Halalbihalal dan Rapat Koordinasi Daerah Majelis Dikdasmen PNF PDM Gresik bersama kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik di Aula Mentari SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Sabtu (4/4/2026).

Baca juga: Serap Energi Muhammadiyah, Hariyanto Dorong Kepemimpinan Positif di Sekolah

Dalam forum tersebut, ia tidak hanya memaparkan capaian, tetapi juga membagikan “resep” di balik transformasi Dispendik Gresik.

Sejak awal, Hariyanto mengajak seluruh peserta untuk kembali pada fondasi paling dasar dalam membangun lembaga: mimpi.

“Bagaimana kemudian kita itu di manapun berada harus punya mimpi, termasuk mimpi untuk diri pribadi maupun lembaga,” ujarnya.

Dari mimpi itulah, menurutnya, arah organisasi dibentuk. Visi menjadi lebih jelas, langkah menjadi lebih terarah, dan kerja tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Di titik inilah, ia menekankan pentingnya kolaborasi sebagai kekuatan utama.

“Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik ini berkat semuanya yang ikut support, kolaborasi, kerja sama. Sekarang Dinas Pendidikan ini menjadi salah satu dinas terbaik di Kabupaten Gresik,” tegasnya.

Capaian Dispendik Gresik

Apa yang disampaikan Hariyanto tidak berhenti pada narasi. Dalam beberapa tahun terakhir, capaian Dispendik Gresik menunjukkan tren yang konsisten menguat dan terukur.

Kinerja organisasi, misalnya, tercatat berada di atas ekspektasi, baik dari sisi hasil kerja maupun perilaku kerja. Predikat individu dinilai sangat baik, sementara organisasi memperoleh predikat istimewa.

Pengakuan pun datang dari berbagai level. Dispendik Gresik mencatatkan 7 penghargaan tingkat nasional, 9 tingkat provinsi, dan 7 tingkat kabupaten, disertai nilai SAKIP “AA” serta penilaian Ombudsman RI dengan kualitas pelayanan sangat baik.

Tidak hanya pada aspek tata kelola, dampaknya juga terlihat pada indikator makro pendidikan. Indeks pendidikan Kabupaten Gresik terus meningkat hingga mencapai angka 84,22, sementara kerusakan lembaga pendidikan berhasil ditekan dari 75 persen menjadi 44 persen.

Rangkaian capaian tersebut menunjukkan bahwa perubahan yang dilakukan tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung—mulai dari tata kelola, kualitas layanan, hingga hasil pembangunan pendidikan.

Belajar dari yang Sudah Berhasil

Di tengah capaian tersebut, Hariyanto tidak menempatkan Dispendik sebagai satu-satunya aktor. Ia justru secara terbuka mengakui peran Muhammadiyah sebagai mitra strategis yang selama ini terbukti mampu membangun ekosistem pendidikan yang kuat.

Baca Juga:  Rajin Ibadah Bisa Gugur Jika Lima Hal Ini Tak Dijaga

“Saya banyak belajar dan banyak di-support dari Muhammadiyah,” ujarnya.

Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah tidak hanya pada jumlah lembaga, tetapi juga pada konsistensi pengelolaan dan budaya mutu yang sudah terbangun.

Karena itu, ia mendorong pendekatan yang sederhana namun efektif untuk mempercepat kemajuan—tidak harus selalu memulai dari nol.

“Sudah ada contoh baik, tinggal ATM—amati, tiru, modifikasi,” katanya.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, menjadi strategi percepatan yang realistis, terutama bagi sekolah yang ingin berkembang tanpa harus mengulang proses dari awal.

Dengan belajar dari praktik yang sudah terbukti berhasil, kemajuan tidak hanya menjadi mungkin, tetapi juga bisa dicapai lebih cepat dan terarah.

Menerjemahkan Visi Menjadi Kerja Nyata

Gagasan besar tersebut kemudian diterjemahkan dalam arah pengembangan yang lebih konkret. Dispendik Gresik tidak hanya berhenti pada visi, tetapi memastikan setiap gagasan memiliki pijakan yang jelas dalam implementasi.

Arah pengembangan itu dirancang secara menyeluruh, tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga memastikan pemerataan tenaga pendidik, peningkatan kualitas pembelajaran, serta ketersediaan infrastruktur yang memadai.

Secara paralel, Dispendik Gresik juga mempercepat transformasi digital, menekan angka putus sekolah, dan memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Dalam konteks ini, Hariyanto bahkan secara terbuka mendorong agar praktik baik yang sudah ada bisa direplikasi.

“Kita niru Muhammadiyah lah. Teman-teman kita sudah ada role model, sudah ada contoh baik,” ujarnya.

Pendekatan tersebut dinilai menjadi cara cepat untuk mendorong kemajuan lembaga pendidikan tanpa harus memulai dari awal.

Di saat yang sama, transformasi digital mulai didorong sebagai kebutuhan yang tidak bisa dihindari, seiring perubahan cara belajar dan perkembangan teknologi.

“AI, kemudian kecerdasan artifisial, ini sekarang menjadi tren,” ungkapnya.

Selain itu, perhatian juga diarahkan pada penurunan angka putus sekolah serta penguatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Seluruh upaya tersebut, menurut Hariyanto, harus berjalan beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

“Berangkat dari optimisme, berangkat dari visi yang jelas, berasal dari impian yang kuat, kita bisa mencapai segala sesuatu dengan baik,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang terstruktur sekaligus adaptif tersebut, Dispendik Gresik berupaya membangun sistem pendidikan yang tidak hanya merata, tetapi juga berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman.

Menjawab Tantangan, Bukan Menghindari

Meski capaian terus meningkat, Hariyanto tidak menutup mata terhadap persoalan di lapangan. Salah satu yang paling menonjol adalah angka putus sekolah yang masih cukup tinggi.

“Ternyata 5 ribu angka putus sekolahnya. Gresik ini salah satu tertinggi, nomor 13 di Jawa Timur,” ungkapnya.

Baca Juga:  19 Sekolah Muhammadiyah di Gresik Raih Penghargaan atas Kenaikan Jumlah Murid

Kondisi tersebut mendorong Dispendik untuk memperkuat jalur pendidikan nonformal, terutama melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan program Jaketku.

Namun, ketersediaan PKBM masih terbatas.

“Gresik baru ada 13 PKBM dari 18 kecamatan. Ini harus kita dorong bersama,” ujarnya.

Karena itu, ia juga mengajak berbagai elemen masyarakat, khususnya pegiat pendidikan, untuk ikut ambil bagian.

“Teman-teman yang aktivis pendidikan dirikan PKBM, nanti saya bantu,” katanya.

Selain persoalan putus sekolah, ketimpangan distribusi guru juga menjadi tantangan klasik yang belum sepenuhnya teratasi.

“Pendidik-pendidik yang berkualitas itu kumpulnya di kota-kota, tidak mau ke desa,” ujarnya.

Bagi Hariyanto, berbagai persoalan tersebut bukan untuk dihindari, melainkan menjadi fokus utama yang harus diselesaikan secara bertahap dan bersama-sama.

Menguatkan Inklusi dan Kesejahteraan

Di sisi lain, Dispendik Gresik juga menaruh perhatian serius pada pendidikan inklusif. Dengan jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) yang mencapai hampir 5.000 anak, semua sekolah didorong untuk lebih terbuka dan siap memberikan layanan yang setara.

“Setiap lembaga pendidikan tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus,” tegas Hariyanto.

Kebijakan ini sejalan dengan arah pendidikan nasional yang mendorong sistem pendidikan inklusif di semua jenjang.

Namun, menurutnya, keterbukaan saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah kesiapan sekolah dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

“Guru-guru ini perlu diberi pelatihan agar punya kemampuan menangani anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Untuk itu, Dispendik memperkuat peran UPT layanan ABK sebagai pusat layanan sekaligus pelatihan, termasuk penyediaan Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang terus ditingkatkan kapasitasnya.

Selain pendekatan teknis, Hariyanto juga menekankan pentingnya membangun empati di kalangan pendidik.

Ia bahkan mengajak para guru untuk melihat langsung kondisi anak-anak berkebutuhan khusus agar tumbuh kesadaran dan rasa syukur.

“Kalau melihat langsung, kita akan tumbuh rasa syukur,” ungkapnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Dispendik juga menyediakan layanan antar-jemput bagi siswa ABK agar mereka tetap bisa mengakses pendidikan dan layanan terapi dengan lebih mudah.

Di sisi lain, peningkatan kualitas pendidikan juga diperkuat melalui perhatian terhadap kesejahteraan guru. Pemerintah daerah melalui Dispendik Gresik memberikan berbagai insentif, khususnya bagi guru non-sertifikasi.

Salah satunya adalah pemberian insentif sebesar Rp600 ribu per bulan bagi guru swasta non-sertifikasi yang langsung ditransfer ke rekening masing-masing.

“Itu langsung masuk ke rekening masing-masing setiap bulan,” ujarnya.

Selain itu, guru PAUD dan TK non-sertifikasi juga mendapatkan dukungan insentif, disertai program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memberikan apresiasi sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di sektor pendidikan.

Dengan pendekatan tersebut, Dispendik Gresik tidak hanya mendorong akses pendidikan yang inklusif, tetapi juga memastikan kualitas pembelajaran tetap terjaga melalui penguatan kapasitas dan kesejahteraan tenaga pendidik.

Baca Juga:  Grafik Terus Naik, Sekolah Muhammadiyah Gresik kian Diminati, Siswa Tembus 14.875

Selaras dengan Nawakarsa

Seluruh upaya tersebut, menurut Hariyanto, tidak berdiri sendiri. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan pendidikan di Gresik saat ini sudah terintegrasi dengan Program Nawakarsa Pemerintah Kabupaten Gresik, khususnya dalam pilar Gresik Cemerlang.

“Program Nawakarsa-nya Pak Bupati ini, pendidikan masuk di Gresik Cemerlang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai program yang dijalankan Dispendik merupakan bagian dari dukungan terhadap kebijakan tersebut, sekaligus menjawab kebutuhan riil di lapangan.

Mulai dari pemberian insentif pendidikan bagi siswa SD dan SMP di luar BOS dan Bosda, hingga peningkatan kesejahteraan guru melalui berbagai skema bantuan.

“Sekolah negeri kan sudah ada BOS, Bosda. Tapi kita juga dorong yang di luar itu,” katanya.

Selain itu, program Jaketku (Kejar Paket Tuntaskan Putus Sekolah) juga terus diperkuat untuk menekan angka putus sekolah, seiring dengan dorongan pengembangan pendidikan nonformal.

Di sisi lain, perhatian terhadap guru juga ditingkatkan, baik melalui insentif bagi guru PAUD dan TK non-sertifikasi, maupun peningkatan kesejahteraan guru swasta.

“Sekarang guru-guru swasta non-sertifikasi diberikan insentif langsung ke rekening masing-masing,” ujarnya.

Tak hanya itu, Dispendik juga mendorong peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk layanan bagi anak berkebutuhan khusus, seperti antar-jemput untuk terapi dan asesmen.

Dengan berbagai program tersebut, Hariyanto menegaskan bahwa kebijakan pendidikan di Gresik tidak berjalan parsial, melainkan menjadi bagian dari gerak pembangunan daerah secara menyeluruh.

“Ini bagian dari upaya kita bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” pungkasnya.

Kunci Utama: Tidak Bisa Sendiri

Pada akhirnya, Hariyanto kembali menegaskan satu hal yang menjadi benang merah dari seluruh paparannya: pendidikan adalah kerja bersama.

“Saya tidak bisa sendiri dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.

Ia menekankan, keberhasilan yang dicapai selama ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk peran besar Muhammadiyah sebagai mitra strategis dalam pengembangan pendidikan di Gresik.

“Salah satu support terkuat adalah dari Muhammadiyah,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah, sekolah, hingga organisasi masyarakat—untuk terus menjaga dan memperkuat kolaborasi.

Menurutnya, hanya dengan kebersamaan, berbagai tantangan pendidikan dapat dijawab sekaligus mendorong kualitas pendidikan Gresik terus meningkat.

Dengan semangat tersebut, Dispendik Gresik tidak hanya menargetkan capaian jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi pendidikan yang berkelanjutan di masa depan.

Dari sinilah, menurutnya, kekuatan utama Dispendik Gresik terbentuk—bukan hanya untuk meraih predikat sebagai salah satu dinas terbaik, tetapi juga untuk memastikan kualitas pendidikan terus meningkat secara berkelanjutan. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni