Feature

Teologi Kepemimpinan: Kepala Sekolah Tak Cukup Menjabat, Harus Meninggalkan Legasi

4057
×

Teologi Kepemimpinan: Kepala Sekolah Tak Cukup Menjabat, Harus Meninggalkan Legasi

Sebarkan artikel ini
Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik M. Fadloli Aziz, menyampaikan gagasan tentang teologi kepemimpinan dalam acara silaturahmi dan buka bersama Forum Komunikasi Kepala Sekolah (Foskam) SD/MI se-Kabupaten Gresik di Hotel Horison GKB Gresik. (Tagar.co/Nurkhan)

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik M. Fadloli Aziz mengingatkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif, tetapi amanah spiritual yang harus meninggalkan jejak perubahan.

Tagar.co — Pesan tentang kepemimpinan yang bermakna disampaikan Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, M. Fadloli Aziz, dalam acara silaturahmi dan buka bersama Forum Komunikasi Kepala Sekolah Muhammadiyah (Foskam) SD/MI se-Kabupaten Gresik di Hotel Horison GKB Gresik, 2 Maret 2026.

Meski kegiatan tersebut telah berlangsung beberapa pekan lalu, gagasan yang disampaikan dinilai penting untuk terus diingat, terutama oleh para pemimpin lembaga pendidikan.

Baca juga: Kajian Ramadan Berbagi Smamsatu: Santri Diajak Mempraktikkan “Jalan Lapar” dalam Kehidupan

Dalam kesempatan itu, Fadloli Aziz mengangkat tema teologi kepemimpinan. Menurutnya, kepemimpinan tidak semata-mata persoalan jabatan administratif, tetapi amanah spiritual yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Ia menegaskan bahwa seorang kepala sekolah atau madrasah perlu memiliki tekad kuat untuk menghadirkan prestasi bagi lembaganya. Prestasi tersebut tidak harus selalu spektakuler atau berskala besar. Yang lebih penting adalah adanya perubahan nyata selama masa kepemimpinan.

“Seorang pemimpin harus meninggalkan prasasti,” ujar Aziz.

Prasasti yang dimaksud bukan batu bertulis seperti peninggalan sejarah, melainkan jejak karya dan perbaikan yang dapat dikenang oleh generasi setelahnya. Jejak itu bisa berupa peningkatan mutu pembelajaran, terbentuknya budaya disiplin, lahirnya program unggulan, atau perubahan kecil yang membawa dampak besar bagi siswa.

Baca Juga:  Menjaga Nyala Iman di Fase Lelah Ramadan

Kepemimpinan yang Mewariskan Legasi

Lebih jauh, mantan kepala SD Muhammadiyah Manyar (SMM) Gresik itu menekankan pentingnya warisan (legacy) dalam kepemimpinan pendidikan.

Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya bekerja untuk masa kini, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi masa depan lembaga. Ketika masa tugas selesai atau seorang kepala sekolah purna dari jabatan, harus ada sesuatu yang tetap hidup: program, sistem, maupun budaya baik yang terus berjalan.

“Legasi memiliki umur yang lebih panjang daripada jabatan,” jelasnya.

Jabatan kepala sekolah memiliki batas waktu. Bahkan dalam beberapa kasus, ada yang tidak sampai satu periode penuh. Namun legasi dapat terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat jauh setelah seorang pemimpin tidak lagi menjabat.

Karena itu, kepemimpinan tidak seharusnya berpusat pada “saya”, tetapi pada “kita”. Seorang kepala sekolah perlu membangun ekosistem yang membuat guru, karyawan, dan seluruh warga sekolah tumbuh bersama.

“Kepemimpinan bukan soal menonjolkan diri, melainkan bagaimana orang-orang di sekitar kita bisa berkembang,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masa kepemimpinan kepala sekolah sebenarnya sangat singkat. Dalam waktu yang terbatas itu, seorang pemimpin harus mampu menanam nilai, membangun budaya, serta menyiapkan generasi penerus yang lebih baik.

Baca Juga:  Serap Energi Muhammadiyah, Hariyanto Dorong Kepemimpinan Positif di Sekolah

Empat Legasi Kepemimpinan

Dalam pemaparannya, Fadloli Aziz juga mengajukan pertanyaan reflektif kepada para kepala sekolah: legasi apa yang akan ditinggalkan oleh seorang pemimpin?

Menurutnya, setidaknya ada empat bentuk legasi yang perlu diwariskan oleh seorang pimpinan, khususnya di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Pertama, legasi karakter. Karakter merupakan fondasi kepemimpinan. Seorang pemimpin perlu meninggalkan jejak integritas, kedisiplinan, dan keteladanan. Nilai-nilai tersebut akan menjadi budaya yang menular kepada guru, karyawan, dan siswa. Ketika pemimpin telah berganti, karakter itu tetap hidup karena telah menjadi kebiasaan bersama.

Kedua, legasi people (manusia).Kepemimpinan tidak boleh berhenti pada diri seorang pemimpin. Pemimpin yang baik adalah mereka yang memberdayakan orang lain, membina, serta menyiapkan kader penerus. Dengan demikian, ketika kepemimpinan berganti, lembaga tetap memiliki arah karena generasi berikutnya sudah siap melanjutkan.

Ketiga, legasi purpose (tujuan dan nilai). Setiap lembaga pendidikan perlu memiliki nilai dan arah perjuangan yang jelas. Seorang pemimpin perlu meninggalkan visi yang tegas: nilai apa yang harus dijaga, tujuan apa yang harus diperjuangkan, dan semangat apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan begitu, perjalanan sekolah atau madrasah tidak kehilangan ruhnya.

Baca Juga:  Menembus Ombak Menuju Gili Trawangan, Perjalanan Laut yang Menguji Adrenalin

Keempat, legasi sistem kepemimpinan. Lembaga pendidikan yang kuat tidak bergantung pada satu figur saja. Ia berjalan dengan tata kelola yang baik dan sistem yang tertata. Sistem inilah yang menjaga keberlanjutan lembaga. Ketika pemimpin berganti, organisasi tetap berjalan karena mekanisme kerja sudah terbentuk dengan jelas.

Memimpin sebagai Amal Jariah

Dari gagasan tersebut, para kepala sekolah diajak melihat kepemimpinan dari sudut pandang yang lebih dalam. Kepemimpinan bukan sekadar masa jabatan, melainkan proses menanam nilai dan perubahan.

Seorang pemimpin boleh saja selesai dari jabatannya. Namun karakter, kader, tujuan, dan sistem yang telah dibangun akan terus hidup.

Di situlah makna teologi kepemimpinan menemukan relevansinya: memimpin sebagai ibadah, bekerja sebagai pengabdian, dan meninggalkan legasi sebagai amal jariyah yang terus mengalir.

Pada akhirnya, jabatan memang akan berakhir. Tetapi legasi akan terus bercerita tentang siapa kita sebagai pemimpin. (#)

Jurnalis Nurkhan | Penyunting Mohammad Nurfatoni