Feature

Serap Energi Muhammadiyah, Hariyanto Dorong Kepemimpinan Positif di Sekolah

158
×

Serap Energi Muhammadiyah, Hariyanto Dorong Kepemimpinan Positif di Sekolah

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pendidikan Gresik S. Hariyanto menilai Muhammadiyah sebagai sumber energi positif dalam pendidikan, sekaligus mendorong kepala sekolah untuk membangun kepemimpinan yang optimis, visioner, dan terus memantaskan diri.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik S. Hariyanto (tengah) bersama Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah (Pendma) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik dijabat oleh  Masfufah M.Pd.I.. dan Ainul Muttaqin (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Kepala Dinas Pendidikan Gresik S. Hariyanto menilai Muhammadiyah sebagai sumber energi positif dalam pendidikan, sekaligus mendorong kepala sekolah untuk membangun kepemimpinan yang optimis, visioner, dan terus memantaskan diri.

Tagar.co— Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Dr. S. Hariyanto, S.Pd, M.M. menekankan pentingnya energi positif, visi hidup, dan kesiapan diri dalam kepemimpinan pendidikan.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi panel pada acara Halalbihalal dan Rapat Koordinasi Daerah Majelis Dikdasmen PNF PDM Gresik bersama Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik di Aula Mentari SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Sabtu (4/4/26).

Kegiatan ini juga menghadirkan Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Gresik, Hj. Masfufah, M.Pd.I., dengan moderator Pengawas SMA/MA/SMK Muhammadiyah Kabupatn Gresik Ainul Muttaqin.

Dalam paparannya, Hariyanto menyampaikan bahwa dirinya selalu berusaha hadir ketika diundang Muhammadiyah. Ia mengaku ingin menyerap energi positif yang menurutnya kuat terasa, terutama dalam pengelolaan pendidikan.

“Setiap saya datang ke Muhammadiyah, saya ingin menyerap energi positifnya. Di sini luar biasa, terutama dalam pengelolaan pendidikannya,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah peserta.

Ia membandingkan dengan pengalamannya di berbagai forum lain, di mana tidak jarang kepala sekolah justru datang dengan keluhan. Menurutnya, kebiasaan tersebut merupakan bentuk energi negatif yang tidak layak dipelihara oleh seorang pemimpin.

Baca Juga:  Rajin Ibadah Bisa Gugur Jika Lima Hal Ini Tak Dijaga

Ia bahkan menyamakan energi negatif seperti keluhan itu dengan virus yang bisa menular dalam organisasi. Karena itu, ia mengaku memilih tidak menanggapi orang-orang yang datang hanya untuk mengeluh.

“Kalau pemimpin sering mengeluh, itu energi negatif. Dan itu bisa menular,” ujarnya.

Bagi Hariyanto, kepala sekolah harus memiliki hati yang baik—yang tercermin dari sikap optimis, tidak mudah mengeluh, dan mampu menyebarkan energi positif kepada lingkungan sekitarnya. Ia meyakini, karakter seperti inilah yang menjadi ciri orang-orang yang berhasil.

acara Halalbihalal dan Rapat Koordinasi Daerah Majelis Dikdasmen PNF PDM Gresik bersama Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik di Aula Mentari SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Sabtu (4/4/26). (Tagar.co/Ulul)

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya arah hidup yang jelas. Ia mengkritisi ungkapan “hidup mengalir seperti air” yang sering digunakan tanpa makna yang tepat. Menurutnya, air justru selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, sehingga hidup tanpa visi berisiko tidak berkembang.

Sebaliknya, ia menegaskan bahwa setiap orang harus memiliki mimpi dan target yang jelas. Ia menggambarkan mimpi sebagai penentu arah, seperti anak panah yang melesat menuju sasaran.

Pengalaman pribadinya menjadi ilustrasi. Sejak awal menjadi guru, ia sudah menetapkan target untuk menjadi kepala sekolah, bahkan melangkah lebih jauh hingga menjadi kepala dinas. Ia juga menargetkan untuk menunaikan ibadah haji sejak usia muda, yang kemudian berhasil dicapai.

Baca Juga:  Grafik Terus Naik, Sekolah Muhammadiyah Gresik kian Diminati, Siswa Tembus 14.875

Ia turut menceritakan proses perjuangannya dalam meningkatkan kapasitas diri. Saat menempuh pendidikan S2, ia harus menggadaikan perhiasan istrinya demi biaya kuliah. Namun hal itu tidak menjadi hambatan, justru menjadi bagian dari proses mencapai tujuan.

Dari situ, ia menekankan konsep “memantaskan diri”. Menurutnya, seseorang harus menyiapkan diri sesuai dengan cita-citanya. Jika ingin menjadi pemimpin, maka sejak awal harus membangun kapasitas dan kualitas diri sebagai pemimpin.

“Kalau ingin jadi kepala sekolah, ya harus memantaskan diri menjadi kepala sekolah. Kalau ingin jadi kepala dinas, juga begitu,” jelasnya.

Ia juga mendorong generasi muda, termasuk di lingkungan Muhammadiyah, untuk berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan hingga S3. Ia menegaskan bahwa langkah pertama yang penting adalah berani memulai, sementara urusan lainnya akan mengikuti.

Dalam bagian lain, Hariyanto juga menyoroti praktik baik di lingkungan Muhammadiyah, terutama dalam hal pemberdayaan. Ia melihat adanya upaya nyata untuk membantu sekolah-sekolah yang masih berkembang agar bisa meningkat kualitasnya.

Baca Juga:  PDM Gresik Targetkan Mutu Sekolah Muhammadiyah Merata seperti Sistem Franchise

Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena tidak semua lembaga pendidikan memiliki kondisi yang sama. Budaya saling mendukung inilah yang dinilai menjadi salah satu kekuatan Muhammadiyah.

Ia juga mengakui keterlibatannya dalam mendorong beberapa sekolah Muhammadiyah agar berkembang, baik melalui dukungan kebijakan maupun berbagi pengalaman.

“Itu yang luar biasa. Yang kuat membantu yang belum kuat. Ini budaya yang harus ditiru,” ujarnya.

Hariyanti menegaskan bahwa kunci utama dalam pendidikan tidak hanya pada sistem, tetapi juga pada kualitas pribadi para pemimpinnya—mulai dari energi yang dibawa, visi yang dimiliki, hingga kesiapan dalam memantaskan diri.

Kegiatan ini menjadi forum untuk memperkuat koordinasi sekaligus memperkaya perspektif dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Gresik. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni