Opini

Bioskop dan Radio Tergerus Teknologi

2258
×

Bioskop dan Radio Tergerus Teknologi

Sebarkan artikel ini
Bioskop
Home theater menggeser posisi bioskop.

Bioskop sepi dan radio kehilangan suaranya, yang runtuh bukan sekadar dua media. Yang runtuh adalah ruang bersama untuk merasakan, memahami, dan berbagi cerita.

‎Oleh M. Rohanudian, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – Kita sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, dunia bergerak semakin cepat, serba instan, dan serba mudah diakses.

Di sisi lain, kita dihadapkan pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Apakah kemudahan teknologi itu justru sedang mengikis makna dari medium yang selama ini membentuk cara kita menikmati cerita dan memahami realitas?

‎Masihkah kita butuh bioskop dan radio? Pertanyaan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan ujian arah. Dua media ini sepertinya bakal bernasib sama dengan telepon, pos perangko, dan wesel. Membuat Telkom dan Kantor Pos bangkrut.

Jika bioskop dan radio hanya mengikuti tren digital tanpa mempertimbangkan nilai, maka kita sedang membiarkan dua pilar penting budaya kita perlahan kehilangan tempatnya.

‎Gagasan yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata Fadli Zon tentang pengaturan jeda tayang film Indonesia sebelum masuk ke platform digital bukan sekadar urusan teknis distribusi.

Ini adalah refleksi dari kegelisahan yang lebih dalam. Bahwa film bukan hanya produk yang bisa langsung dilempar ke semua kanal secara bersamaan. Tetapi sebuah pengalaman yang perlu ruang, waktu, dan konteks untuk dihargai secara utuh.

‎Tanpa jeda, film berisiko kehilangan nilai eksklusivitasnya, dan lebih jauh lagi, kehilangan maknanya sebagai peristiwa kolektif.

‎Bioskop bukan sekadar tempat menonton. Bioskop adalah ruang pertemuan. Di sana, penonton berbagi emosi dalam waktu yang sama, dalam ruang yang sama.

Ketika film terlalu cepat berpindah ke layar pribadi, yang hilang bukan hanya potensi pendapatan dari bioskop, tetapi juga pengalaman sosial yang tidak tergantikan.

Baca Juga:  Takbir di Bawah Bayang-Bayang Bom

Pengalaman Kolektif

Film perlahan berubah dari peristiwa menjadi konsumsi cepat. Dari pengalaman bersama menjadi tontonan individual yang bisa ditunda, dipotong, dan digeser sesuka waktu.

‎Jika ini dibiarkan, maka yang runtuh bukan hanya jumlah penonton bioskop, tetapi seluruh ekosistem yang menopang industri film. Dari produksi, distribusi, hingga nilai budaya yang melekat padanya.

Karena itu, keberpihakan pada bioskop bukan romantisme masa lalu, tetapi upaya menjaga keberlanjutan industri dan pengalaman kolektif yang tidak bisa digantikan oleh layar pribadi.

‎Namun di tengah pembahasan serius ini, muncul juga satu ironi yang sering kita temui.

Sebagian orang dengan mudah meremehkan film nasional, menyebutnya kurang menarik atau tidak sebanding dengan produksi luar negeri.

Pada saat yang sama, radio juga dianggap tidak lagi relevan, seolah-olah telah kalah oleh teknologi baru. Kritik semacam ini sering datang tanpa memahami bahwa kekuatan utama justru terletak pada hal yang mereka abaikan, adalah kedekatan dan konteks lokal.

Menariknya, banyak yang menikmati konten global tanpa mempertanyakan bahwa media global pun tetap bertumpu pada kekuatan lokal di negara asalnya.

Kehilangan Identitas

Sementara radio yang mereka anggap sederhana justru bertahan karena mengolah lokalitas dengan sangat kuat. Bahasa yang akrab, isu yang dekat, dan interaksi yang langsung dengan pendengar.

Di situlah letak ironi. Sesuatu yang dianggap kecil justru memiliki relevansi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Radio pernah menjadi pusat kehidupan sehari-hari. Ia hadir di ruang keluarga, di warung, di kendaraan, di tempat kerja.

Baca Juga:  Politik Luar Negeri Bebas Aktif Mulai Bau Penindas

Radio bukan hanya media informasi atau hiburan, tetapi teman yang menemani aktivitas manusia. Ia hidup karena kedekatannya dengan pendengar.

Lalu datang gelombang digital. Musik menjadi on-demand. Informasi menjadi personal. Podcast, streaming, dan algoritma mengambil alih perhatian publik.

Radio pun terdorong untuk ikut berubah mengikuti arus tersebut. Banyak yang meninggalkan identitas aslinya dan mencoba bersaing dalam kecepatan serta kuantitas, alih-alih memperkuat kedekatan dan karakter lokal yang menjadi kekuatannya.

‎Akibatnya, radio tidak mati secara tiba-tiba. Ia perlahan kehilangan tempatnya. Pendengar berkurang, keterikatan melemah, dan perannya bergeser menjadi sekadar suara latar yang mudah diabaikan.

Ini bukan semata kegagalan teknologi, melainkan kegagalan menjaga identitas.

‎Dan di sinilah pelajaran penting bagi film. Ketika film terlalu cepat masuk ke platform digital, ia sedang berjalan di jalur yang sama. Berisiko kehilangan statusnya sebagai pengalaman, dan berubah menjadi sekadar konten yang diperlakukan setara dengan hiburan instan lainnya.

Dalam proses itu, nilai uniknya terkikis. Film tidak lagi menjadi peristiwa yang ditunggu dan dirayakan, melainkan produk yang dikonsumsi cepat lalu dilupakan.

‎Karena itu, gagasan jeda tayang yang diusulkan Fadli Zon menjadi relevan.

Ini bukan pembatasan, melainkan upaya menjaga keseimbangan. Memberi ruang bagi bioskop untuk tetap hidup sebagai tempat pengalaman kolektif, sekaligus memastikan bahwa film tidak kehilangan nilai sosial dan budayanya dalam arus digital yang terlalu cepat.

‎Di sisi lain, radio juga membutuhkan langkah yang tidak kalah tegas. ‎ Bukan dengan meniru platform digital, tetapi dengan memperkuat apa yang tidak bisa ditiru, adalah lokalitas.

Radio harus kembali menjadi ruang yang hidup di tengah komunitasnya. Bukan sekadar memutar lagu, tetapi menghadirkan percakapan, isu lokal, informasi yang relevan, dan kedekatan emosional yang nyata.

Baca Juga:  Iran Balas Perang Intelijen Amerika

Di banyak tempat, radio justru tetap menjadi media yang paling cepat menjangkau masyarakat, terutama ketika akses internet tidak selalu merata.

Jika radio kembali pada kekuatannya, maka ia tidak akan kalah oleh digital. Ia akan berdiri di jalur yang berbeda, dengan nilai yang berbeda. Dan di situlah keberlanjutannya terjaga dan kembali punya tenaga.

‎Jika film membutuhkan jeda untuk menjaga nilainya, maka radio membutuhkan keberanian untuk kembali ke akarnya.

Keduanya membutuhkan kesadaran yang sama, bahwa tidak semua hal harus dipercepat, dan tidak semua hal harus mengikuti arus yang sama.

Kebutuhan Ruang Bersama

Film bioskop dan radio adalah dua medium yang berbeda, tetapi menghadapi ancaman yang serupa. Kehilangan identitas di tengah percepatan digital.

Jika keduanya tidak dijaga, maka yang hilang bukan hanya industri, tetapi juga cara kita membangun pengalaman bersama sebagai masyarakat.

Kita tidak kekurangan teknologi. Kita tidak kekurangan akses. Yang kita butuhkan adalah arah, dan keberanian untuk berpihak pada hal-hal yang menjaga makna, bukan sekadar mengikuti kecepatan.

Karena ketika bioskop sepi dan radio kehilangan suaranya, yang runtuh bukan sekadar dua media. Yang runtuh adalah ruang bersama untuk merasakan, memahami, dan berbagi cerita tentang kehidupan kita sendiri.

‎Masihkah kita butuh bioskop dan radio? Jawabannya bukan hanya ya, tetapi harus.

Selama kita masih ingin tetap terhubung sebagai manusia yang berbagi pengalaman, bukan sekadar mengonsumsi konten tanpa makna. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto