
Ia datang hanya untuk potong rambut. Namun dari obrolan singkat di kursi salon, tersingkap kisah tentang sakit, ketabahan, dan cara berdamai dengan takdir.
Oleh Sadidatul Azka Daiah Pengabdian Akademi Dakwah Indonesia Jawa Timur
Tagar.co – Sore itu, Senin, 4 Mei 2026, suasana di Salon Rosana Jetis, Ponorogo, Jawa Timur, terasa seperti biasanya. Beberapa pelanggan datang silih berganti, suara hair dryer bersahutan, dan aroma sampo memenuhi ruangan. Di tengah aktivitas itu, seorang gadis muda datang dengan senyum hangat dan pembawaan yang begitu ceria.
Namanya Azzahra Fanesa Hayudya Varzah.
Gadis asal Sawo, Ponorogo itu belum genap berusia 20 tahun. Dari wajahnya, tak terlihat sedikit pun bahwa ia sedang memikul ujian besar dalam hidupnya. Ia datang ke salon untuk memotong rambut sekaligus keramas. Kebetulan, saat itu saya yang bertugas melayaninya.
Baca juga: Hangatnya Haflah di Ngabar: Merajut Ukhuah, Meneguhkan Dakwah
Sebagai mahasantri pengabdian Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur yang mengabdi di Salon Rosana Jetis hampir selama satu tahun, saya sudah biasa berbincang ringan dengan pelanggan. Maka, sebelum memulai potong rambut, penulis bertanya,
“Mau dipotong seberapa, Mbak?”
Dengan santai ia menjawab,
“Pendek aja, Mbak. Sebahu.”
Jawaban itu cukup membuat penulis terkejut. Rambut Azzahra panjang, sehat, dan tampak terawat. Saat proses keramas dimulai, obrolan kecil pun mengalir.
“Kenapa dipotong pendek, Mbak?”
Azzahra tersenyum kecil.
“Rambutku rontok, Mbak.”
Saya pun mengira alasan itu semata karena masalah rambut biasa. Namun beberapa saat kemudian, kalimat yang keluar dari mulutnya membuat suasana terasa berbeda.
“Sebenarnya aku sakit, Kak.”
Kalimat itu diucapkan tanpa nada mengeluh. Tidak ada raut putus asa. Bahkan, cerita yang ia sampaikan justru diselingi tawa kecil.
Di situlah saya merasa tersentuh.
Ada orang yang menangis keras ketika diuji sedikit kesulitan. Namun ada pula orang yang menyimpan rasa sakit begitu dalam, lalu memilih menghadapinya dengan lapang hati.
Azzahra termasuk yang kedua.
Dengan tenang, ia mulai bercerita bahwa dirinya mengidap penyakit autoimun lupus sejak tahun 2023. Penyakit itu sempat membuat hidupnya berubah drastis. Selama hampir satu tahun, ia tidak bisa beraktivitas normal dan hanya terbaring di tempat tidur.
Masa muda yang seharusnya diisi dengan semangat, pertemanan, dan mimpi-mimpi indah, justru harus dilewati dengan perjuangan melawan sakit.
Namun luar biasanya, Azzahra tidak menjadikan sakit sebagai alasan untuk menyerah.
Kini, ia bersyukur karena kondisinya perlahan membaik. Ia sudah bisa berjalan, berkendara, bekerja setelah lulus sekolah, dan menjalani aktivitas seperti biasa. Meski begitu, perjuangannya belum benar-benar selesai. Ia masih rutin mengonsumsi obat dan menjalani pemeriksaan darah setiap bulan di RSUD Moewardi, Solo.
Yang membuat kisah ini begitu berkesan bukan hanya tentang penyakit yang ia alami, tetapi tentang cara ia menerimanya.
Azzahra tidak meminta dikasihani.
Ia memilih berdamai dengan dirinya sendiri.
Dari sorot matanya, saya dapat merasakan bahwa ia telah belajar menerima takdir dengan ikhlas. Ia memahami bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi selalu ada cara untuk tetap melangkah.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa sakit tidak selalu berarti hukuman. Bisa jadi, itu adalah bentuk kasih sayang Allah Swt. kepada hamba-Nya yang dipilih untuk naik derajat melalui kesabaran.
Sering kali manusia melihat ujian hanya dari rasa sakitnya, padahal di balik itu ada pelajaran tentang syukur, ketabahan, dan kekuatan hati.
Azzahra sakit, tetapi ia tidak berisik.
Ia memilih tenang. Memilih kuat. Memilih tetap tersenyum.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Barangkali, ketegaran seperti inilah yang dimaksud dalam sabda tersebut—kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi mampu bangkit dan tetap percaya kepada Allah dalam keadaan sesulit apa pun.
Melalui kisah ini, ada pesan yang begitu dalam untuk siapa pun yang saat ini sedang berjuang melawan sakit, kegagalan, kelelahan, atau rasa ingin menyerah.
Kamu boleh lelah.
Kamu boleh beristirahat.
Tetapi jangan pernah berhenti melangkah.
Sebab hidup adalah perjalanan panjang. Dan seseorang tidak akan sampai pada mimpinya jika memilih menyerah di tengah jalan.
Jalani. Nikmati. Syukuri.
Karena kita boleh jatuh, tetapi kita juga harus belajar bagaimana caranya kembali berdiri.
Dan untuk Azzahra,
Terima kasih karena telah mengajarkan arti ikhlas lewat senyum sederhana.
Semoga Allah selalu menguatkan langkahmu, mengangkat sakitmu, dan menghadirkan masa depan yang lebih indah.
Kamu kuat.
Kamu hebat.
Dan kamu akan sembuh, menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa depan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












