
Tidak semua murid diingat, tetapi yang berkarakter akan menetap dalam ingatan. Pertemuan ini menjadi cermin tentang arti keteladanan dan keberkahan ilmu.
Tagar.co – Sore itu, Sabtu, 14 Maret 2026, seharusnya menjadi perjalanan pulang kampung yang biasa. Sebuah rutinitas sederhana: melepas rindu kepada orang tua setelah sekian lama berjauhan.
Namun, siapa sangka, di balik langkah yang terasa biasa itu, tersimpan sebuah pertemuan yang mengubah hari saya menjadi penuh makna—pertemuan antara saya dan guru yang telah terpisah delapan tahun lamanya.
Baca juga: Mudik Penuh Kejutan: Bus Oleng, Hujan Menghadang, dan Rumah yang Menunggu
Di sebuah masjid yang berdiri tepat di depan sekolah, takdir mempertemukan kembali saya dengan guru semasa SD, Hadi Sucipto, S.Pd. Sosok yang dahulu membimbing saya di bangku kelas 6 itu kini menjabat sebagai kepala sekolah di tempat tersebut. Waktu boleh berlalu, tetapi ingatan rupanya tidak ikut pudar.
“Azka ini sudah tinggi dari dulu, sekarang tambah tinggi,” ucap beliau kepada ayah saya, seolah delapan tahun bukanlah jarak yang berarti.
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuka kembali lembar-lembar kenangan lama yang tersimpan rapi.
Saya masih mengingat jelas masa-masa terakhir di sekolah dasar. Di kelas 6, saya bukan sekadar siswa biasa. Dari 44 siswa dalam satu angkatan, saya konsisten menempati peringkat pertama. Namun, bagi Pak Cip—begitu kami biasa memanggilnya—prestasi akademik bukan satu-satunya alasan mengapa beliau begitu mengingat saya.
Lebih dari itu, saya dikenal sebagai pribadi yang aktif, memiliki jiwa kepemimpinan, bertanggung jawab, dan ramah kepada siapa pun, terutama kepada guru. Karakter itulah yang, tanpa saya sadari, tertanam kuat dalam ingatan seorang pendidik.
Setelah kelulusan pada 2018, saya sempat bertemu beliau sekali lagi saat pengambilan ijazah. Namun, tak lama berselang, Pak Cip berpindah tugas. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendapatkan kabar tentang beliau.
Hingga akhirnya, waktu mempertemukan kami kembali dalam cara yang tak terduga.
Di sela pertemuan singkat itu, Pak Cip menyampaikan sesuatu yang mengendap dalam benak saya.
“Delapan bulan lagi saya pensiun, nduk,” tuturnya pelan.
Ucapan itu seketika membawa saya pada satu memori lama. Saat masih duduk di kelas 6, di sebuah jam istirahat yang sederhana, beliau pernah berkata kepada saya, “Sembilan tahun lagi saya pensiun, nak.”
Kini, sembilan tahun itu benar-benar hampir genap.
Waktu, yang dahulu terasa panjang, ternyata bergerak tanpa terasa. Apa yang dulu sekadar ucapan, kini menjadi kenyataan yang hampir tiba.
Bagi saya, pertemuan ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat tentang makna hubungan antara guru dan murid—relasi yang tidak berhenti di ruang kelas.
Seorang guru, dalam perjalanan panjangnya, akan bertemu dengan ratusan bahkan ribuan murid. Sangat mungkin bagi banyak wajah untuk terlupakan. Namun, ketika seorang guru masih mampu mengingat satu murid dengan begitu jelas—bahkan hingga detail kecil seperti tinggi badan dan karakter—itu menandakan bahwa hubungan tersebut pernah meninggalkan jejak yang dalam.
Dan bagi saya, diingat oleh guru setelah bertahun-tahun adalah kebanggaan yang tak mudah dijelaskan.
Pak Cip bukan sekadar pengajar. Beliau adalah sosok guru yang sabar, teliti, dan tulus dalam menjalankan amanah. Beliau menikmati setiap proses mendidik, membentuk karakter, dan menanamkan nilai. Murid-muridnya kini telah tumbuh, bahkan sebagian menjadi guru, melanjutkan estafet pengabdian yang pernah beliau jalani.
Di ujung masa tugasnya, yang tinggal menghitung bulan, jejak beliau tidak hanya tertinggal di ruang kelas, tetapi juga dalam ingatan dan kehidupan murid-muridnya.
Pertemuan singkat di sebuah masjid itu pun menjadi lebih dari sekadar kebetulan. Bagi saya, ia adalah penegasan bahwa ilmu, keteladanan, dan kasih sayang seorang guru tidak pernah benar-benar usai—ia hidup dalam ingatan, dalam sikap, dan dalam perjalanan hidup murid-muridnya.
Dari hati yang paling dalam, saya hanya ingin menyampaikan satu hal yang sederhana, tetapi sarat makna: terima kasih.
Terima kasih untuk seorang guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga meninggalkan jejak yang tak pernah hilang. (#)
Jurnalis Sadidatul Azka| Penyunting Mohammad Nurfatoni












