Feature

Tak Semua Dakwah Berpanggung Besar: Kisah Dua Daiyah Muda ADI di Ponorogo

54
×

Tak Semua Dakwah Berpanggung Besar: Kisah Dua Daiyah Muda ADI di Ponorogo

Sebarkan artikel ini
Kedatangan mahasantri ADI Jawa Timur di Ponorogo sebagai bagian dari program Kafilah Dakwah Ramadan, Senin (17/2/2026). Dari kiri: Nurul Damayanti, Hj. Imanul Kholifah, dan Fatiya Zahida Istiqomah. (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Ramadan membawa dua mahasantri ADI Jawa Timur ke Ponorogo untuk menunaikan amanah dakwah. Di tengah ujian sakit, hujan, dan keterbatasan kendaraan, mereka tetap melangkah—membuktikan bahwa dakwah sering lahir dari langkah-langkah kecil yang penuh ketulusan.

Tagar.co — Ramadan selalu menghadirkan cerita-cerita kecil yang diam-diam menyimpan makna besar. Di balik aktivitas dakwah yang tampak sederhana, sering kali tersimpan kisah perjuangan, keteguhan, dan pengorbanan yang jarang diketahui orang.

Cerita seperti itu datang dari dua mahasantri putri Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur yang menjalani tugas dakwah Ramadan di Ponorogo. Mereka adalah Nurul Damayanti, mahasantri asal Mentawai, Sumatra Barat, dan Fatiya Zahida Istiqomah dari Mojokerto, Jawa Timur.

Baca juga: Jejak Panjang Salon Rosana Ponorogo: Dari Duka Menjadi Warisan Berkah

Keduanya tiba di Ponorogo pada Selasa, 17 Februari 2026, sebagai bagian dari program Kafilah Dakwah Ramadan, salah satu program pengabdian yang menjadi bagian dari pemenuhan sembilan kompetensi wajib dalam sistem pendidikan mahasantri ADI Jawa Timur.

Program ini memang dirancang khusus untuk bulan Ramadan. Para mahasantri dikirim ke berbagai daerah yang masih membutuhkan penguatan dakwah, sekaligus belajar langsung berinteraksi dengan masyarakat.

Baca Juga:  Berkembang, Bukan Tertinggal: Catatan Reflektif untuk Generasi Muda Beriman

Namun, perjalanan dakwah tidak selalu berjalan mulus.

Beberapa hari setelah menjalankan tugasnya, Nurul harus menghadapi ujian sakit. Kondisinya sempat menurun hingga ia harus dibawa ke pusat layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan.

Situasi itu membuat Fatiya harus melanjutkan berbagai kegiatan dakwah seorang diri.

Meski demikian, semangatnya tidak surut. Hujan yang turun hampir setiap hari tidak menghalanginya untuk tetap berangkat menghadiri agenda-agenda dakwah yang telah dijadwalkan. Bahkan ketika tidak memiliki kendaraan, ia tetap berusaha hadir di setiap kegiatan yang menjadi amanahnya.

Bagi Fatiya, setiap langkah menuju tempat dakwah adalah bagian dari ikhtiar mengumpulkan pahala di bulan suci Ramadan.

Belajar Dakwah dan Dunia Kerja

Selain menjalankan aktivitas dakwah, keduanya juga mendapatkan pengalaman baru yang tak kalah berharga: mengenal dunia kerja dengan sistem berbasis syariah.

Selama di Ponorogo, Nurul dan Fatiya ditempatkan di Salon Kecantikan Rosana, sebuah salon yang tidak hanya berfokus pada layanan kecantikan, tetapi juga berupaya menerapkan nilai-nilai syariat Islam dalam operasionalnya.

Baca Juga:  Mudik Penuh Kejutan: Bus Oleng, Hujan Menghadang, dan Rumah yang Menunggu

Di tempat ini, keduanya belajar berbagai hal yang sebelumnya mungkin belum pernah mereka bayangkan. Mereka mencoba menjadi kasir, menyambut tamu, hingga membantu menghitung pemasukan salon.

Dari situ, mereka belajar bahwa pelayanan yang baik kepada pelanggan juga bisa menjadi bagian dari praktik akhlak Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Meski dalam prosesnya mereka menghadapi berbagai kendala dan belum sepenuhnya berhasil menuntaskan seluruh pembelajaran, pengalaman tersebut tetap menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan dakwah mereka.

Perpisahan dua mahasantri Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur dengan karyawan Salon Rosana di Ponorogo, Kamis (13/3/2026). Dari kiri: Fatiya Zahida Istiqomah, Hj. Imanul Kholifah, penulis, Yayuk Wulandari, dan Tia Rahmadani. (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Perpisahan Sederhana yang Hangat

Waktu berlalu cepat. Tanpa terasa, masa pengabdian itu pun mendekati akhir.

Pada Kamis malam, 12 Maret 2026, diadakan pertemuan sederhana sebagai momen perpisahan. Penulis bersama ibu asuh sekaligus penanggung jawab kedua daiyah tersebut, Imanul Kholifah, seorang karyawan salon bernama Tia Rahmadani, serta Nurul dan Fatiya berkumpul untuk berbagi cerita.

Malam itu dipenuhi tawa, kenangan, dan rasa haru yang tersimpan dalam percakapan ringan. Sebuah foto bersama diabadikan sebagai pengingat bahwa perjalanan singkat itu pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.

Baca Juga:  Ramadan di Ujung Waktu: Belajar Menahan, Belajar Bertahan

Beberapa jam setelah pertemuan itu, Jumat (13/3/2026) pukul 02.15 dini hari, Nurul meninggalkan Ponorogo menuju rumah sahabatnya di Pamekasan, Madura. Sementara Fatiya dijadwalkan menyusul pulang ke kampung halamannya bersama penulis pada Sabtu (14/3/2026).

Dalam pesan perpisahannya, Imanul Kholifah menyampaikan harapan kepada kedua mahasantri tersebut.

“Alhamdulillah, walaupun belum genap satu bulan kalian bergabung dengan tim kami. Semoga hikmah dari belajar di dunia kerja syariah ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan kehidupan Islam. Selamat berjuang kembali, dan teruslah belajar di mana pun dan kapan pun kalian berada,” tuturnya.

Perjalanan mereka di Ponorogo memang singkat. Namun dari perjalanan itu terlihat satu hal: dakwah sering kali tidak lahir dari langkah besar, melainkan dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan ketulusan. (#)

Jurnalis Sadidatul Azka | Penyunting Mohammad Nurfatoni