
Perjalanan pulang dari Ponorogo menuju Jember ini dipenuhi kejadian tak terduga—bus sempat keluar jalur, hujan berkali-kali menghentikan perjalanan, hingga akhirnya rindu pada rumah terbayar.
Tagar.co – Sabtu pagi, 14 Maret 2026. Jam baru menunjukkan pukul 05.30 WIB ketika langkah saya meninggalkan Terminal Seloaji, Ponorogo. Udara masih dingin, langit belum sepenuhnya terang, dan sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai.
Hari itu adalah hari yang telah lama saya nantikan: pulang ke rumah.
Enam bulan menjalani pengabdian sebagai alumnus mahasantri Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur terasa begitu panjang. Rindu pada keluarga di Ambulu, Jember, perlahan menumpuk dari hari ke hari. Maka ketika kesempatan pulang akhirnya tiba, rasanya seperti membuka pintu menuju kelegaan yang lama ditunggu.
Baca juga: Tak Semua Dakwah Berpanggung Besar: Kisah Dua Daiyah Muda ADI di Ponorogo
Bus yang saya tumpangi mulai bergerak meninggalkan Ponorogo, melaju perlahan menuju arah timur. Perjalanan mudik kali ini tidak saya jalani sendiri. Seorang mahasantri ADI Jawa Timur—adik tingkat yang sedang menjalankan program Kafilah Dakwah Ramadan di tempat yang sama dengan lokasi pengabdian saya—ikut menemani perjalanan.
Di dalam bus, suasana masih tenang. Penumpang sebagian besar tampak terdiam, sebagian lagi memejamkan mata menikmati sisa-sisa kantuk pagi. Jalanan yang dilalui pun relatif lengang.
Namun perjalanan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan.
Ketika bus memasuki wilayah Ngoro, Mojokerto, adik tingkat saya harus turun menuju tempat tinggalnya. Sejak saat itu, perjalanan harus saya lanjutkan seorang diri.
Tak lama setelah itu, kadarullah, sebuah kejadian yang cukup menegangkan terjadi.
Bus yang kami tumpangi tiba-tiba oleng dan sempat keluar jalur. Suasana mendadak hening. Beberapa penumpang refleks memegang kursi di depannya. Sopir dengan sigap menginjak rem dan berusaha mengendalikan kendaraan.
Keadaan sempat membuat jantung berdegup lebih cepat.
Tidak berhenti di situ. Dalam perjalanan berikutnya, insiden serupa kembali terjadi untuk kedua kalinya. Demi keselamatan bersama, sopir dan kondektur akhirnya mengambil keputusan: seluruh penumpang dipindahkan ke bus lain yang masih berada dalam satu perusahaan.
Satu per satu penumpang turun, membawa tas dan barang masing-masing. Dengan wajah yang masih menyimpan sisa ketegangan, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus pengganti.
Perjalanan kembali berjalan normal.
Penumpang mulai turun satu per satu di kota tujuan masing-masing, hingga akhirnya bus memasuki wilayah Jember.

Saya memutuskan turun lebih awal di Kecamatan Wuluhan, tepat di depan Masjid Jamik Baitul Muttaqin. Di sana, ayah saya telah menunggu untuk menjemput.
Perasaan hangat langsung menyelimuti hati ketika melihat sosok ayah yang berdiri menunggu di tepi jalan.
Namun sebelum benar-benar pulang ke rumah, saya mengajak ayah mampir terlebih dahulu ke rumah nenek di Kepel, Ampel, Wuluhan. Di wilayah itu pula beberapa mahasantri ADI Jawa Timur sedang menjalankan tugas dakwah.
Saya pun menyempatkan diri menjenguk tiga orang di antara mereka.
Sebagai tanda perhatian sederhana, saya membawa sedikit buah tangan: tiga bungkus bakso—masing-masing satu bungkus untuk mereka. Kami berbincang sebentar, saling bertukar kabar, lalu mengabadikan momen dengan berfoto bersama.
Setelah itu, saya kembali berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Beberapa keluarga dan saudara yang berada di sekitar sana juga sempat saya temui. Sudah lama tidak berjumpa, sehingga sambutan mereka terasa begitu hangat dan membahagiakan.
Perjalanan menuju rumah masih harus ditempuh sekitar satu jam dengan sepeda motor dari Wuluhan.
Namun perjalanan pulang itu ternyata belum selesai memberi kejutan.
Di tengah jalan, hujan turun cukup deras. Jalanan menjadi basah dan jarak pandang berkurang. Kami akhirnya memutuskan berhenti di salah satu desa untuk berteduh.
Di tempat berteduh itu, ada seorang lelaki yang juga menunggu hujan reda. Di sampingnya terdapat beberapa wadah berisi tapai singkong yang sedang ia bawa untuk dijual.
Dari percakapan singkat yang terjalin, kami mengetahui bahwa ia sedang dalam perjalanan mengantarkan dagangannya ke tempat berjualan.
“Namun, qadarullah, hujan menghentikan langkah saya di tengah perjalanan,” ujarnya dengan nada tenang.
Waktu menunjukkan pukul 17.10 WIB.
Melihat dagangan yang masih utuh di depannya, ayah saya kemudian memutuskan membeli beberapa bungkus tapai tersebut. Niatnya sederhana: sebagian akan dimakan, sebagian lagi akan dibagikan kepada orang lain.
Tak lama setelah itu, hujan mulai mereda.
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
Namun ketika hanya tersisa satu desa lagi menuju rumah, hujan kembali turun—kali ini lebih deras dari sebelumnya.
Sementara itu, waktu berbuka puasa sudah semakin dekat.
Akhirnya kami memutuskan berhenti di sebuah masjid terdekat.
Di dalam masjid, para pengurus dan jamaah sedang bersiap berbuka bersama. Ketika melihat kami datang dalam keadaan basah karena hujan, salah seorang pengurus dengan ramah menyapa,
“Makan dan minumnya, Pak, Mbak. Selamat berbuka.”
Sapaan sederhana itu terasa begitu menenangkan.
Kami pun ikut berbuka dengan hidangan yang mereka sediakan. Setelah itu, kami melaksanakan salat Maghrib berjemaah. Karena pakaian yang kami kenakan basah, kami meminjam perlengkapan salat yang tersedia di masjid tersebut.
Sebuah pengalaman kecil yang menghadirkan kehangatan di tengah perjalanan panjang.
Setelah hujan benar-benar reda, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Ketika akhirnya sampai di rumah, ibu dan adik saya sudah menunggu dengan penuh kegembiraan. Senyum mereka menyambut kepulangan yang telah lama dinanti.
Rasa lelah perjalanan seolah langsung hilang.
Perjalanan pulang hari itu ternyata bukan sekadar perjalanan dari Ponorogo menuju Jember. Ia menjadi rangkaian peristiwa kecil yang penuh pelajaran: tentang kehati-hatian di jalan, tentang kebaikan orang-orang yang ditemui, dan tentang bagaimana qadarullah sering kali hadir dalam bentuk yang tak terduga.
Pada akhirnya, sejauh apa pun seseorang pergi, rumah tetap menjadi tempat pulang yang paling menenangkan. (#)
Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammad Nurfatoni












