Opini

Desa Internet ‎

×

Desa Internet ‎

Sebarkan artikel ini

Desa internet bukan sekadar fasilitas komunikasi, tetapi fondasi bagi peningkatan kualitas pendidikan, layanan publik, dan peluang ekonomi digital.
Ilustrasi

Desa internet bukan sekadar fasilitas komunikasi, tetapi fondasi bagi peningkatan kualitas pendidikan, layanan publik, dan peluang ekonomi digital.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – ‎Salah satu komitmen strategis terbesar di sektor digital saat ini adalah target pemerintah Indonesia untuk menghubungkan 2.500 desa yang selama ini belum memiliki akses internet hingga akhir tahun 2026.

‎Target ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, Desember 2025 lalu. Program ini bagian dari kerangka Indonesia Digital yang lebih merata dan inklusif.

‎Akses internet di desa dianggap bukan sekadar fasilitas komunikasi, tetapi fondasi bagi peningkatan kualitas pendidikan, layanan publik, dan peluang ekonomi digital.

‎Target ini datang setelah fase pembangunan infrastruktur digital skala besar pada 2023-2024, sehingga fokus kini bergeser kepada mempersempit kesenjangan digital antara kota dan desa.

Tantangan yang dihadapi pemerintah tidak kecil. Berdasarkan data resmi Komdigi, sekitar 2.333 desa di Indonesia masih belum terkoneksi internet. Termasuk 2.017 desa yang sama sekali belum mendapat layanan 4G, serta ratusan desa yang secara administratif belum memiliki jaringan yang layak.

Baca Juga:  Emas Melonjak, Tanda Resesi Bakal Datang

‎Angka ini menunjukkan bahwa walaupun penetrasi internet nasional sudah cukup tinggi, masih terdapat wilayah pedesaan yang belum merasakan manfaat akses digital.

‎Lebih jauh lagi, sekitar 60 juta warga Indonesia belum terkoneksi internet. Ini menegaskan ketimpangan akses bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga kesenjangan sosial ekonomi dan peluang digital.

Disparitas Digital

Meskipun pembangunan infrastruktur telah menunjukkan kemajuan, disparitas digital antarwilayah tetap tinggi, terutama di desa terpencil.

Ketimpangan ini memengaruhi akses pendidikan, informasi, dan peluang ekonomi, sehingga strategi pemerintah harus tepat sasaran agar pemerataan digital benar-benar berdampak bagi seluruh masyarakat desa.

Namun hal ini juga membuka peluang besar: dengan pendekatan yang terfokus, integrasi teknologi, dan kolaborasi lintas kementerian, desa-desa yang sebelumnya tertinggal bisa segera merasakan manfaat internet.

Konektivitas tidak hanya akan meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan publik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui UMKM digital, memperkuat keterampilan digital warga, dan memperluas akses informasi yang kritikal.

Dengan demikian, meski tantangannya besar, langkah-langkah strategis ini justru menegaskan bahwa pemerataan digital bukan sekadar target, melainkan investasi jangka panjang bagi inklusi sosial dan ekonomi seluruh desa di Indonesia.

Baca Juga:  Radio Visual

Kolaborasi Lintas Kementerian

Komdigi aktif melakukan kolaborasi lintas kementerian, misalnya dengan Kementerian Desa, untuk memetakan desa yang paling membutuhkan akses internet.

‎Program Kampung Internet 2025 telah membuka akses broadband untuk 1.194 titik desa di lima provinsi, termasuk pembangunan jaringan kabel optik yang memperkuat kualitas layanan digital bagi pendidikan, UMKM, dan layanan desa.

‎Desa Temon, Kulon Progo, DI Yogyakarta, sebelumnya termasuk kategori blank spot digital. Setelah program Kampung Internet, desa ini kini memiliki akses internet broadband di 15 titik utama, termasuk sekolah, balai desa, dan pusat UMKM.

‎Pelajar dan guru mulai memanfaatkan pembelajaran daring. UMKM lokal seperti kerajinan batik dan pangan olahan dapat menjual produknya secara online, dengan peningkatan pendapatan 30-50%.

‎Layanan publik desa, seperti administrasi kependudukan, kini dapat diakses digital tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

‎Studi kasus ini membuktikan bahwa target 2.500 desa pada 2026 bukan sekadar angka, tetapi memiliki dampak bagi pendidikan, ekonomi, dan layanan publik.

Target konektivitas desa bukan sekadar angka, tetapi cerminan komitmen pemerintah untuk memperkecil disparitas digital.

Baca Juga:  Janice Tjen, Lahirnya Bintang Tenis Baru‎

‎Dengan akses internet yang layak, pelajar dapat mengakses pendidikan digital dan sumber belajar global, UMKM dapat memperluas pasar mereka secara online, dan layanan publik menjadi lebih efisien serta inklusif.

‎Upaya sinergis pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya membangun jaringan, tetapi juga membuka kesempatan yang lebih adil bagi masyarakat desa untuk ikut serta dalam ekonomi digital dan perkembangan teknologi, dari kota hingga pelosok desa. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto