
Belanja online terus berkembang pesat! Laporan terbaru menunjukkan peningkatan transaksi digital, tren BNPL, dan dominasi mobile shopping. Simak bagaimana e-commerce mengubah gaya hidup dan masa depan belanja.
Tagar.co – Laporan terbaru dari We Are Social dan Meltwater yang dirilis Februari 2025 menunjukkan bahwa belanja online kini bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 58 persen masyarakat telah membeli produk atau jasa secara online. Bahkan, 34,4 persen di antaranya memanfaatkan e-commerce (perdagangan elektornik) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tren Baru dalam Belanja Digital
Salah satu tren menarik yang berkembang adalah peningkatan pembelian barang bekas. Sebanyak 11,2 persen konsumen telah membeli produk second-hand melalui platform digital. Selain itu, penggunaan layanan perbandingan harga juga meningkat hingga 14,3 persen, menunjukkan bahwa konsumen semakin cermat dalam memilih produk.
Layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) juga semakin populer. Sebanyak 37,9 persen pengguna telah memanfaatkan skema cicilan ini, membuktikan bahwa fleksibilitas pembayaran menjadi faktor penting dalam belanja online.
Pasar E-Commerce Kian Berkembang
Kepercayaan terhadap belanja digital terus meningkat. Pada tahun 2024, jumlah pembeli online telah mencapai 65,7 juta orang, naik 12 persen (+7 juta) dari tahun sebelumnya. Total pengeluaran e-commerce juga melonjak menjadi USD 50,2 miliar (Rp822.578,4 triliun), naik 11,3 persen dibanding tahun lalu.
Rata-rata belanja per orang di e-commerce kini mencapai USD 765 (Rp12.539.880) per tahun. Menariknya, 67,5 persen dari total transaksi dilakukan melalui ponsel, membuktikan bahwa mobile shopping menjadi kebiasaan utama.
Saat ini, belanja online telah menyumbang 9,9 persen dari total nilai belanja ritel, menandakan semakin banyak konsumen yang beralih ke transaksi digital dibanding belanja di toko fisik.
Produk Paling Diminati di E-Commerce
Beberapa kategori produk mendominasi pasar digital. Produk makanan menjadi yang paling populer dengan nilai transaksi mencapai USD 10,8 miliar (Rp177.033,6 miliar), diikuti oleh elektronik USD 9,55 miliar (Rp156.543,6 miliar) dan fashion USD 7,72 miliar (Rp126.546,24 miliar).
Kategori kecantikan dan perawatan pribadi juga mengalami pertumbuhan pesat dengan total transaksi USD 4,17 miliar (Rp68.354,64 miliar). Sedangkan DIY dan peralatan: USD 3,31 miliar (Rp54.257,52 miliar).
Selain itu, kebutuhan rumah tangga USD 3,31 miliar (Rp54.257,52 miliar), mainan dan hobi USD 2,90 miliar (Rp47.536,8 miliar), serta kebutuhan rumah tangga USD 2,37 miliar (Rp38.856,0 miliar) tetap diminati.
Kategori lain yang turut mendapat perhatian adalah media fisik seperti buku dan CD USD 2,32 miliar (Rp38.064,64 miliar), minuman USD 2,10 miliar (Rp34.423,2 miliar), tembakau USD 1,90 miliar (Rp31.144,8 miliar), furnitur USD 1,56 miliar (Rp25.571,52 miliar), obat-obatan tanpa resep USD 1,29 miliar (Rp21.145,68 miliar), kacamata USD 270 juta (Rp4.425,84 miliar).
*) Asumsi 1 USD = Rp16.392
Alasan Konsumen Memilih Belanja Online
Ada beberapa faktor utama yang mendorong konsumen untuk berbelanja secara digital. Yang paling dominan adalah gratis ongkir (52,9 persen), diikuti oleh ulasan pelanggan (51 persen) dan diskon atau kupon (50 persen). Kemudahan dalam proses checkout (43,8 persen) serta pengaruh media sosial (38,7 persen) juga berperan besar dalam keputusan belanja.
Selain itu, kebijakan pengembalian yang mudah (27,7 persen), metode pembayaran cash on delivery (26,8 persen), dan produk ramah lingkungan (26 persen) menjadi pertimbangan tambahan. Pengiriman keesokan hari (22,5 persen), poin loyalitas (15,2 persen), dan pembayaran tanpa bunga (14,8 persen) juga mulai menarik minat konsumen.
Masa Depan E-Commerce Semakin Cerah
Data ini menunjukkan bahwa digitalisasi terus mengubah cara masyarakat berbelanja. Pembayaran digital semakin diterima luas, dan e-commerce terus berkembang pesat, terutama melalui platform mobile.
Dengan akses internet yang semakin luas dan inovasi dalam layanan keuangan digital, masa depan belanja online terlihat semakin cerah. Bisnis yang ingin bertahan harus mampu beradaptasi dengan tren ini. Yang pasti, era digital telah mengubah cara kita bertransaksi—dan ini baru awal dari perubahan besar yang akan datang. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni
















