
Lebaran boleh berubah cara, tapi kehangatannya jangan sampai ikut hilang. Zaman digital keramaian belanja Lebaran mulai berubah. Tidak sepenuhnya di pasar. Tapi di layar ponsel.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Menjelang Lebaran 2026, suasana terasa masih ramai. Lampu mulai menyala di rumah-rumah, aroma makanan khas mulai tercium, dan percakapan tentang pulang kampung terdengar.
Sekilas semuanya tampak sama seperti dulu. Tapi kalau diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang berubah.
Keramaian hari raya itu masih ada. Hanya saja tempatnya berbeda. Tidak lagi sepenuhnya ada di pasar, di toko, atau di jalanan yang hilir mudik orang berbelanja. Keramaian itu kini berpindah perlahan tapi pasti ke layar ponsel di genggaman kita.
Di waktu yang sama ketika suara takbir mulai terasa dekat, jutaan orang Indonesia juga sibuk membuka aplikasi belanja seperti Shopee, Tokopedia, TikTok, dan lainnya.
Bukan sekadar melihat-lihat, tapi benar-benar berbelanja. Transaksi meningkat tajam setiap Ramadan. Bahkan mencapai puncaknya saat sahur dan menjelang berbuka.
Di saat sebagian orang menahan lapar, sebagian lainnya justru menahan diri dari godaan diskon dan flash sale.
Di sinilah cerita itu dimulai. Dulu menjelang Lebaran adalah tentang perjalanan. Tentang pergi ke pasar bersama keluarga, memilih baju dengan penuh pertimbangan, dan menikmati proses yang kadang melelahkan tapi penuh makna. Ada tawa, ada tawar-menawar, ada cerita.
Sekarang semuanya diringkas menjadi satu gerakan sederhana: scroll, klik, bayar. Cepat. Praktis. Efisien. Tapi juga… diam.
Zaman Berubah
Perubahan ini terasa dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ibu yang dulu sibuk di dapur kini bisa membuka toko di Shopee atau berjualan lewat live di TikTok, menjangkau pembeli dari berbagai daerah tanpa harus keluar rumah.
Dalam satu malam, puluhan produk bisa terjual. Ini peluang baru yang dulu sulit dibayangkan.
Di sisi lain, seorang pekerja muda cukup berbaring di tempat tidur, membuka aplikasi, dan menyelesaikan semua kebutuhan Lebaran dalam hitungan menit. Tidak ada antre, tidak ada panas, tidak ada lelah.
Hanya satu hal yang terus berulang: notifikasi masuk, pesanan diproses, paket dikirim.
Dua cerita ini berbeda, tapi punya satu benang merah yang sama: kita sedang hidup di era di mana tradisi dan teknologi berjalan berdampingan.
Namun di balik semua kemudahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan berubah. Bukan hanya cara kita berbelanja, tapi cara kita merasakan momen.
Hari ini, banyak orang membeli bukan karena benar-benar butuh, tapi karena takut ketinggalan. Diskon besar, gratis ongkir, dan flash sale tengah malam menciptakan dorongan yang sulit ditolak.
Kita merasa harus cepat. Harus segera. Harus sekarang. Dan tanpa sadar, muncul standar baru yang halus tapi nyata bahwa Lebaran harus terasa baru. Harus terlihat rapi. Harus cukup pantas untuk dilihat orang lain.
Di titik ini, Lebaran tidak lagi hanya dirasakan, tapi juga ditampilkan. Padahal, di sisi lain, semua ini juga membawa kebaikan.
Banyak usaha kecil tumbuh, banyak orang mendapatkan penghasilan tambahan, dan ekonomi bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
Dunia memang berubah, dan kita ikut bergerak di dalamnya. Tapi mungkin, pertanyaannya bukan tentang benar atau salah. Melainkan tentang kesadaran. Apakah kita masih hadir sepenuhnya di momen itu?
Atau kita hanya lewat, sambil scroll, sambil klik, sambil menunggu paket datang?
Karena pada akhirnya, semua ini akan selesai. Diskon akan hilang. Flash sale akan berakhir. Paket terakhir akan sampai.
Dan yang tersisa bukan barang yang kita beli. Yang tersisa adalah suasana. Adalah tawa. Adalah kebersamaan yang mungkin sempat kita abaikan.
Tradisi Tidak Boleh Hilang
Lebaran boleh berubah cara.
Boleh mengikuti zaman.
Boleh menjadi lebih praktis.
Tapi jangan sampai kehilangan rasa.
Karena Lebaran bukan tentang seberapa banyak yang kita beli, melainkan seberapa dalam kita hadir.
Dan mungkin, di antara suara takbir yang mulai terdengar, dan notifikasi pesanan dikirim yang terus masuk, kita hanya perlu berhenti sebentar. Memilih mana yang benar-benar ingin kita rasakan.
Dulu orang menunggu takbir berkumandang. Sekarang, orang menunggu notifikasi: Pesanan Anda sedang dikirim.
Lebaran boleh berubah cara, tapi kehangatannya jangan sampai ikut hilang. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












