
Selama dua bulan mendampingi siswa, mahasiswa PLP UM Surabaya sukses mengantarkan lahirnya antologi cerpen pertama karya pelajar SMA Yapita Surabaya. Haru, bangga, dan semangat literasi berpadu dalam momen penarikan yang tak terlupakan.
Tagar.co – Tangis haru dan rasa bangga tak terbendung dalam acara penarikan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya dari Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di SMA Yapita Surabaya, Senin (27/10/2025) siang.
Kegigihan para mahasiswa dalam mendampingi dan mengarahkan siswa selama dua bulan penuh akhirnya berbuah manis: lahirnya buku antologi cerpen bertajuk 4 Suara 1 Cerita.
Baca juga: Pentigraf: Cara Seru Siswa Yapita Belajar Menulis Kreatif
Sejak 26 Agustus 2025, lima mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UM Surabaya aktif menjalankan tugas PLP di sekolah tersebut.
Mereka adalah Fadhil Hibatullah, Ari Prasetyo, Beryl Imaneilla Mahsa, Wira Efriana Y.M., dan Vidilah Lu’lu’watun Halsa. Tak hanya mengajar, mereka juga menjadi teladan kedisiplinan bagi siswa.
“Alhamdulillah, selama PLP kelima mahasiswa ini memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya,” ujar koordinator guru pamong, Irawati, S.Kom.
Menurut Irawati, para mahasiswa datang lebih awal dan pulang paling akhir untuk memastikan semua tugas selesai. “Pendampingannya luar biasa. Sepertinya mereka sudah sangat layak jadi guru,” tambahnya sambil berkelakar.
Prestasi yang Membanggakan
Kebanggaan juga disampaikan Idhoofiyatul Fatin, M.Pd., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) PBSI UM Surabaya. Baginya, kehadiran mahasiswa di SMA Yapita tak hanya menambah pengalaman mereka sebagai calon pendidik, tetapi juga menumbuhkan kreativitas siswa dalam menulis.
“Buku ini adalah bukti keberhasilan mahasiswa melaksanakan PLP sekaligus keberanian siswa Yapita menulis hingga menjadi karya yang layak terbit. Itu prestasi yang membanggakan,” tegas Idhoo dalam sambutannya.
Senada dengan itu, Kepala SMA Yapita Surabaya, Mursalim, S.Pd., mengapresiasi kolaborasi yang terjalin selama PLP berlangsung.
“Menulis mungkin hal biasa bagi mahasiswa, tetapi bagi siswa kami ini adalah lompatan besar. Bisa menerbitkan buku pertama adalah pencapaian luar biasa,”
ujar Mursalim dengan bangga.

Tangis Haru Para Penulis Muda
Kebahagiaan terpancar di wajah para siswa yang karya cerpennya masuk dalam antologi. Fattah Habibullah, misalnya, mengaku terharu saat memegang buku yang memuat cerpen pertamanya.
“Saya senang dan terharu karena ini buku pertama saya,” ucapnya lirih.
Berbeda dengan Fattah, Aurelia Nur Rahmayanti sempat tak percaya namanya akan terpilih.
“Saya ngumpulkan cerpennya mepet deadline. Sudah pesimis, ternyata tetap masuk. Senang sekali!” ungkapnya sambil tersenyum.
Kolaborasi yang Layak Diapresiasi
Acara ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan berupa buku “4 Suara 1 Cerita” kepada pihak sekolah oleh DPL. Buku tersebut menjadi simbol kolaborasi hangat antara dosen, guru, mahasiswa, dan siswa dalam menghidupkan budaya literasi.
Kisah hari itu menyiratkan pesan sederhana: ketika mahasiswa, guru, dan siswa bergandengan tangan, karya besar bukanlah hal mustahil. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. (#)
Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni












