Feature

Gim Ular Legendaris “Lahir Kembali” di Tangan Siswa SD, Kini Jadi Penyelamat Bumi

33
×

Gim Ular Legendaris “Lahir Kembali” di Tangan Siswa SD, Kini Jadi Penyelamat Bumi

Sebarkan artikel ini
Ujian koding siswa SD melahirkan gim kreatif. Dari ular legendaris pemakan sampah hingga misi kapal selam untuk mengangkut limbah di laut, mengajarkan kepedulian lingkungan sejak dini
Ghaisan Armand Mundovi dan Wicaksana Bima Aryoduta memanfaatkan Minecraft untuk menciptakan simulasi pembersihan desa dari limbah. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Ujian koding siswa SD melahirkan gim kreatif. Dari ular legendaris pemakan sampah hingga misi kapal selam untuk mengangkut limbah di laut, mengajarkan kepedulian lingkungan sejak dini

Tagar.co – Siapa sangka, gim ular legendaris yang dulu hanya memakan titik-titik sederhana kini berevolusi menjadi media kampanye lingkungan. Melalui ujian Koding dan Kecerdasan Artifisial, siswa kelas VI merakit gim edukatif bertema Green Earth dengan sentuhan kreativitas dan teknologi.

Rabu pagi, 6 Mei 2026, suasana kelas VI SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) tampak berbeda. Tidak ada lembar kertas ujian yang membosankan atau deretan pilihan ganda. Di depan kelas, para siswa justru sibuk memegang tetikus dan memaparkan baris-baris kode di depan layar smart TV. Inilah wajah baru ujian Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang pertama kali mengusung model presentasi kelompok.

Indra Setiawan, S.Pd., sang penguji, mengamati setiap pergerakan karakter di layar. “Kami baru pertama kali melaksanakan ujian dengan model presentasi seperti ini. Biasanya, setiap anak mengerjakan tugas secara individu,” ujarnya.

Tahun ini, ia mengambil terobosan dengan mewajibkan siswa bekerja secara berpasangan. Strategi ini bertujuan untuk melatih kolaborasi sekaligus kreativitas teknis dalam menerjemahkan tema besar: Green Earth.

Selama tiga pekan terakhir, para siswa merakit gim impian mereka menggunakan aplikasi Scratch atau Thynker. Aplikasi lain seperti Minecraft juga boleh, asalkan mereka memasukkan koding dalam pembuatannya.

Baca Juga:  Rahasia Stimulasi Sensori Integrasi Membantu Anak Istimewa Bertumbuh

Alhasil, mereka tidak sekadar bermain, tetapi membangun logika. Setiap kelompok mampu mendemonstrasikan bagaimana koding yang mereka susun dapat menggerakkan objek, hingga mengintegrasikan fungsi kecerdasan artifisial sederhana dalam permainan tersebut.

Baca Juga: Mugeb Primary School Jadi Sekolah Model Pembelajaran Mendalam dan KKA

Siswa kelas VI Mugeb Primary School bikin gim Trash Eater, terinspirasi dari gim ular legendaris. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Ular Pemakan Sampah dan Mengolah Limbah di Minecraft

Dari belasan gim yang tampil di ruang itu, yang paling mengundang nostalgia adalah karya dari Faizhaqqi Fahreza Farhat (Eza), Hafiz Ringga Perkasa, dan Albyan Ammar Efendi. Terinspirasi dari gim ular legendaris, mereka menciptakan Trash Eater—versi baru di mana ular tidak lagi memakan titik-titik, melainkan seikat kantong sampah.

“Hafiz yang pertama mengusulkan idenya karena suka bermain gim ular,” ujar Eza.

Ia juga menjelaskan keunggulan teknis gim mereka. Di mana pemain tidak perlu memutar tubuh ular untuk mundur sebagaimana pada permainan ular klasik, cukup menggunakan tombol arah ke bawah. Ular pun akan terus tumbuh seiring banyaknya sampah yang dimakan.

Menariknya, mereka berencana menambahkan fitur di mana ular bisa “mati” jika terlalu banyak mengonsumsi sampah. Sebuah metafora sederhana namun kuat tentang batas kemampuan lingkungan dalam menampung limbah.

Baca Juga:  Saijan: Pendidikan Bukan Jalur Instan

Ghaisan Armand Mundovi dan Wicaksana Bima Aryoduta memanfaatkan Minecraft untuk menciptakan simulasi pembersihan desa dari limbah. Mereka menghadirkan sistem sederhana di halaman rumah: tempat pembuangan sampah yang di dalamnya terdapat kaktus sehingga sampah akan langsung hancur. Ini menjadi simbol pengolahan limbah.

Baca Juga: Bersahabat dengan Canva, Guru Mugeb Racik Gim Digital

Gim Deep Sea Cleaner, kapal selam canggih yang bertugas menyapu limbah di dasar laut. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Misi Penyelamatan Laut Dalam

Kreativitas siswa tak berhenti di situ. Karya lain yang mencuri perhatian di kelas VI Cello adalah gim bertajuk Deep Blue Rescue. Karya ini lahir dari tangan kreatif Aira Java Quena dan Fathiya Izzatunnisa. Menggunakan Scratch, mereka menciptakan simulasi penyelamatan ekosistem laut yang sedang sekarat akibat polusi manusia.

Aira menjelaskan latar belakang di balik pembuatan gim tersebut dengan antusias. “Kondisi lautan dunia saat ini sedang kritis. Ribuan ton sampah plastik mengapung dan perlahan tenggelam, sehingga mengancam terumbu karang dan hewan laut,” ungkapnya.

Karena itulah, mereka menghadirkan proyek Deep Sea Cleaner, kapal selam canggih yang bertugas menyapu limbah di dasar laut. Fathiya kemudian mendemonstrasikan mekanisme permainannya. Pemain mengendalikan kapal selam yang melaju otomatis. Tantangannya adalah mengumpulkan sampah sambil menghindari bom laut.

Baca Juga:  Menutup Ramadan dengan Indah: Gaspol Ibadah

“Pemain mendapatkan satu poin untuk setiap sampah. Namun, jika menyentuh bom, permainan langsung berakhir, game over!” jelasnya.

Meski visualnya sudah imersif, Aira mengakui masih ada kekurangan. “Pemain belum bisa menang, hanya bertahan selama mungkin,” katanya jujur.

Indra pun memberi masukan agar mereka menambahkan musik latar dan narasi pembuka agar gim terasa lebih hidup.

Tiga Gim Terbaik

Akhirnya, Indra menutup sesi ujian tepat pukul 10.00 WIB dengan rasa bangga. “Karya-karya ini membuktikan, teknologi di tangan anak-anak bisa menjadi alat kampanye lingkungan yang luar biasa,” ungkap Indra.

Ia lantas mengumumkan tiga gim terbaik yang akan mewakili kelas tersebut dalam pameran sekolah. Posisi pertama diraih oleh tim Aira dengan Deep Blue Rescue, disusul tim Nares dengan gim air pollution challenge (tantangan menangani polusi udara), dan tim Nabila dengan gim edukasi pemilahan sampah.

Nares bersyukur gim buatan timnya termasuk tiga terbaik. Ia menjelaskan, di gimnya, truk penyebab polusi mengeluarkan asap. Lalu ada awan yang bertugas menyaring udara. Pemain bertugas mengarahkan awan agar bisa menangkap asap trus.

“Lalu di sampingnya ada indikator polusi. Kalau indikatornya mencapai 100, game over. Tandanya polusi sudah sudah menumpuk,” imbuhnya. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni