Feature

Rahasia Stimulasi Sensori Integrasi Membantu Anak Istimewa Bertumbuh

52
×

Rahasia Stimulasi Sensori Integrasi Membantu Anak Istimewa Bertumbuh

Sebarkan artikel ini
PLPK Smamio menggelar workshop stimulasi sensori integrasi bagi guru pembimbing khusus untuk mengoptimalkan perkembangan anak berkebutuhan khusus melalui pemahaman indera primer dan sekunder secara mendalam.
Dwi Fitria Aini, S.Psi., Psikolog menjelaskan stimulasi sensori integrasi membantu anak istimewa. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

PLPK Smamio menggelar workshop stimulasi sensori integrasi bagi guru pembimbing khusus untuk mengoptimalkan perkembangan anak berkebutuhan khusus melalui pemahaman indera primer dan sekunder secara mendalam.

Tagar.co — Di Ruang Granada SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio), dua puluh guru berkumpul untuk belajar “merasakan” apa yang dirasakan oleh murid-murid mereka. Direktur Pusat Layanan Psikologi dan Konseling (PLPK) SMAM 10 GKB Gresik (Smamio), Ika Famila Sari, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menegaskan, peran Guru Pembimbing Khusus (GPK) kini jauh lebih krusial.

“Harapan kami, GPK tidak hanya menemani, tetapi juga memberikan stimulasi guna mengoptimalkan perkembangan anak. Kita melihat jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) terus meningkat. Mau tidak mau, kita harus siap melayani mereka,” ujar Ika dengan nada mantap, Jumat (30/1/2026).

Acara bertajuk Workshop Stimulasi Sensori Integrasi ini menghadirkan psikolog Dwi Fitria Aini, S.Psi., Psikolog. Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari 9 GPK SD Muhammadiyah 1 Driyorejo (SD Mudri), 3 guru BK SDM 1 GKB, 2 guru BK SDM 2 GKB, 3 guru BK SMPM 12 GKB, 2 guru BK SMAM 10 GKB, hingga staf PLPK Smamio, tampak antusias.

Baca Juga:  Guru Muhammadiyah Driyorejo Bedah 8 Nilai Guru Berkemajuan

Wakil Kepala Bidang Humas Smamio Yuliani Rizkiyah, S.Psi. menyampaikan harapannya. “Nanti bisa mengadakan workshop lagi seiring perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih modern, PLPK bisa menebarkan manfaat yang semakin luas,” ujarnya.

Kepala SD Mudri, Teguh Abdillah, S.Pd., M.Pd., menyambut hangat kolaborasi ini. Ia mengakui sekolahnya berkiblat pada GKB sebagai sekolah mitra dalam mengembangkan potensi siswa.

“Kami semangat mengembangkan potensi yang kami punya. Ke depan, kami akan menjalin kerja sama lebih lanjut dengan PLPK Smamio, mengingat kami akan terus menerima Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK),” ungkap Teguh.

PLPK Smamio menggelar workshop stimulasi sensori integrasi bagi guru pembimbing khusus untuk mengoptimalkan perkembangan anak berkebutuhan khusus melalui pemahaman indera primer dan sekunder secara mendalam.
Para guru fokus menyimak penjelasan Dwi Fitria Aini, S.Psi., Psikolog. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Membedah Fondasi Sensori yang Rapuh

Dwi, sapaan akrab sang narasumber, mulai membedah akar masalah yang sering dialami ABK. Menurutnya, semua hambatan pada diri anak bermula dari masalah sensorinya. Jika pada umumnya kita mengenal lima indera, dalam dunia psikologi perkembangan, manusia memiliki tujuh indera.

Selain indera sekunder seperti pendengaran, pengecap, pembauan, dan penglihatan, ada indera primer yang vital: vestibular (keseimbangan) dan propioseptif (kesadaran tubuh).

“Lihatlah gambar segitiga ini. Kalau pondasi dasarnya bermasalah, aktivitas pembelajaran pasti bermasalah. Bagaimana kita mau memberi pelajaran kalau anak belum paham instruksi atau belum bisa duduk tenang?” jelas Dwi sembari menunjuk diagram perkembangan berbentuk segitiga.

Baca Juga:  Olimpiade Smantis, Salurkan Energi dan Kreativitas Remaja Ponorogo

Direktur Biro Gemilang Consulting ini pun menerangkan, program sensori integrasi hadir sebagai intervensi untuk membantu anak mengolah rangsangan, mulai dari sentuhan, gerakan, hingga posisi tubuh. Dwi memberikan contoh nyata yang sering luput dari pengamatan. Ada anak yang menolak bersalaman bukan karena nakal, tetapi karena ia hipersensitif terhadap bau. Setiap orang memiliki aroma tubuh unik yang bagi anak tertentu bisa terasa sangat menyengat.

“Ketika memahami ABK, kita harus berada di ‘sepatu’ mereka. Masalah utama pada ADHD dan autisme terletak pada sensitivitas mereka terhadap rangsangan di sekitar,” tambahnya.

Kepala SD Mudri (kiri) Teguh Abdillah, S.Pd., M.Pd. bersama Wakil Kepala Bidang Humas Smamio Yuliani Rizkiyah, S.Psi. dan Direktur PLKPK Smamio Ika Famila Sari, S.Psi., M.Psi, Psikolog. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Vestibular dan Rahasia di Balik ‘Stimming’

“Pernahkah Anda melihat anak yang dipanggil namun tidak menoleh, atau anak yang bisa mendengar tetapi sulit bicara?” tanyanya.

Dwi kemudian menjelaskan, masalah tersebut sering kali berakar pada sistem vestibular yang terletak di telinga bagian dalam. Vestibular bertugas memilih suara mana yang harus dicerna sebagai informasi dan menyeimbangkan emosi serta tubuh agar anak bisa duduk tenang.

Anak dengan hipersensitif vestibular, kata Dwi, cenderung takut bergerak dan sangat berhati-hati. Sebaliknya, anak yang hiposensitif vestibular akan terus bergerak, berputar tanpa pusing, hingga memanjat tempat berbahaya tanpa rasa takut. Begitu pula dengan sistem propioseptif yang mengatur otot dan sendi.

Baca Juga:  Sukadiono Kenalkan Ibadah Ekologi dari Meja Berbuka

“Anak yang bermasalah dengan propioseptif sering tidak merasa sakit saat jatuh atau tidak merasa capek meski aktif seharian. Mereka melakukan stimming atau stimulasi diri, seperti menggerakkan kaki atau memicingkan mata sambil tertawa, untuk meningkatkan konsentrasi mereka,” papar Dwi.

Dwi juga menyoroti fenomena meningkatnya jumlah ABK dalam dua tahun terakhir. Ia menyebut pembatasan aktivitas selama pandemi Covid-19 sebagai salah satu pemicu. Anak-anak yang lahir di masa pandemi kehilangan stimulasi penting pada seribu hari pertama kehidupan mereka dan terpapar gawai sebelum usia dua tahun. Hal ini memicu kondisi seperti speech delay hingga risiko ASD jika tidak segera mendapatkan intervensi yang tepat. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni