Feature

FLP Gresik Punya Nakhoda Baru, Siti Maulina Siap Lanjutkan Dakwah lewat Pena

58
×

FLP Gresik Punya Nakhoda Baru, Siti Maulina Siap Lanjutkan Dakwah lewat Pena

Sebarkan artikel ini
Serah terima jabatan Ketua FLP Gresik periode 2024-2026 Almaidatul Istibsyaroh (kiri) kepada Ketua FLP Gresik periode 2026-2028 terpilih Siti Maulina. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Musyawarah Cabang Ke-8 FLP Gresik menetapkan Siti Maulina sebagai ketua baru, melanjutkan estafet kepemimpinan untuk memperkuat literasi Islami dan ukhuah penulis di wilayah Gresik periode 2026-2028.

Tagar.co – Suasana ruang kelas SDIT Al-Ibrah tampak hangat pada Ahad, 26 April 2026. Belasan penulis yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Gresik berkumpul untuk menggelar agenda sakral dua tahunan, Musyawarah Cabang (Muscab) VIII. Acara ini bukan sekadar pergantian nakhoda, melainkan momentum kontemplasi tentang peran penulis sebagai penyampai kebenaran.

​Almaidatul Istibsyaroh, S.S., Ketua FLP Gresik periode 2022-2024, membuka sesi dengan pesan menyentuh. Ia mengutip sabda Rasulullah riwayat Bukhari Muslim disampaikan oleh Abu Hurairah mengenai pentingnya menjaga lisan dan tulisan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Menurutnya, organisasi ini merupakan wadah yang sangat bergantung pada kata-kata.

​”Saya berharap kita semua lebih berhati-hati dalam berkata maupun menulis. Berhati-hatilah saat menyampaikan kata-kata, serta teruslah memotivasi dan menyemangati satu sama lain,” ujar Alma, sapaan akrabnya, dengan nada lembut namun penuh penekanan.

Alma kemudian mengenang masa awal kepemimpinannya yang tak terduga. Dua tahun lalu, ia mengikuti Muscab secara daring karena harus mendampingi buah hatinya yang masih balita. Ia mengaku terkejut saat kameranya menyala dan forum menunjuknya sebagai ketua. Baginya, FLP adalah ladang pengabdian nirlaba di mana para anggota justru rela merogoh kocek pribadi agar roda organisasi tetap berputar.

Baca Juga:  Tri Rismaharini: Di Rumah, Perempuan Kembali Jadi Ibu

Tiga Pilar FLP

Kemudian ​Alma menegaskan, FLP berdiri kokoh di atas tiga pilar utama: keislaman, keorganisasian, dan kepenulisan. Saat seseorang memutuskan bergabung dengan FLP, maka secara otomatis mengemban misi sebagai dai melalui jalur dakwah bil qolam atau dakwah dengan pena.

​”Kita berupaya mengubah orang dari buruk menjadi baik. Insyaallah, setiap tulisan kita akan menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan kebaikan,” tambahnya.

Alma juga menceritakan tantangan regenerasi yang dialami berbagai cabang, sembari mengapresiasi karakter para pengurus FLP Gresik yang saling melengkapi, mulai dari kelembutan hingga ketegasan dalam memajukan organisasi literasi ini.

Ketua FLP Jatim Ika Safitri (kerudung hitam) menyampaikan sambutan. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

​Nakhoda Baru dan Niat Akhirat

​Setelah melalui proses musyawarah yang dinamis, forum akhirnya mufakat memilih Siti Maulina, S.Psi. sebagai Ketua FLP Cabang Gresik periode 2026-2028. Sebagai sosok yang berlatar belakang psikologi, Maulina menyadari betul beratnya amanah yang kini berada di pundaknya.

​Dalam sambutan perdananya, Moli, sapaan akrabnya, menekankan jabatan ini bukanlah sekadar posisi struktural, melainkan tanggung jawab besar yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik. Karena itulah, secara terbuka memohon dukungan dan bimbingan dari seluruh anggota untuk menjalankan visi organisasi ke depan.

​”Saya tidak bisa menjalankan amanah ini sendirian. Kita adalah organisasi yang ibarat satu bangunan. Ketika satu bagian merasa sakit, bagian yang lain pun ikut merasakannya. Saat satu bagian bergerak, semua harus ikut bergerak,” tutur Moli dengan penuh kesungguhan.

Baca Juga:  Sembuh melalui Iman: Terapi Islam Menjaga Kesehatan Mental

​Ia mengajak seluruh kader untuk merefleksikan kembali niat awal mereka bergabung di komunitas ini. Maulina menegaskan, setiap tugas merupakan peluang yang Allah berikan untuk menyiapkan bekal menuju kampung akhirat. Baginya, tidak ada tujuan lain yang lebih mulia selain meraih rida Allah SWT melalui karya-karya tulis yang bermanfaat.

​”Mari kita luruskan niat bersama-sama. Ketika niat sudah tertancap kuat dalam diri, tidak ada pilihan lain kecuali maju dan mengorbankan apa yang kita punya untuk menjadi sebaik-baiknya amal. Mari saling berangkulan untuk menjadikan FLP Gresik semakin jaya dan sukses di masa depan,” ajaknya yang disambut antusias oleh para peserta Muscab.

​Ketua FLP Jatim periode 2026-2028, Ika Safitri, turut memberikan apresiasi atas terpilihnya Moli. Ika mencatat, Moli sosok aktif yang kini berkiprah di divisi kaderisasi FLP Jawa Timur. Meski sempat merasa kehilangan figur aktif di tingkat wilayah, Ika menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Moli terkait pilihannya berkiprah di dua level struktural tersebut.

​Memperluas Jejak Literasi di Masyarakat

​Menutup rangkaian acara, Ika Safitri memberikan arahan strategis bagi kepengurusan baru. Ia mengingatkan, nilai seorang anggota FLP tidak diukur dari tingginya jabatan struktural, melainkan dari besarnya kontribusi yang diberikan untuk umat. Menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh adalah kunci utama keberkahan organisasi.

Baca Juga:  Kartu Ajaib untuk Menembus Pemahaman Kata Konotasi

​Ika memuji pencapaian divisi karya FLP Gresik yang telah berhasil menjalin kerja sama produktif dengan berbagai penerbit dan institusi pendidikan. Model kerja sama gratis yang terbuka bagi organisasi lain ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi cabang-cabang FLP lainnya di Jawa Timur.

​”Di bawah kepemimpinan Kak Maulina, saya berharap FLP Cabang Gresik semakin dikenal luas oleh masyarakat. Kita bisa menghadirkan bazar buku, mengaktifkan Rumah Cahaya, hingga menyelenggarakan pelatihan kepenulisan untuk umum,” saran Ika.

​Selain program eksternal, penguatan internal melalui silaturahmi rutin menjadi poin krusial yang ia tekankan. Menurutnya, pengurus memiliki kewajiban moral untuk membina anggota melalui kunjungan rutin guna menciptakan keterikatan hati yang kuat. Hubungan antaranggota harus berlandaskan ukhuah Islamiyah, bukan sekadar urusan duniawi semata.

​”Tidak masalah jika anggota bergabung dengan komunitas lain, yang menjadi masalah adalah jika mereka meninggalkan FLP. Perbedaan kita dengan komunitas literasi lainnya terletak pada aspek ukhuahnya. Inilah yang harus kita jaga agar semangat menulis dan berdakwah tetap menyala di hati setiap anggota,” pungkas Ika menutup agenda Muscab dengan optimisme tinggi. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni