
Di tengah suasana santai dan penuh canda, workshop menulis berita di SD Muri menghadirkan pembelajaran mendalam tentang praktik, ketepatan bahasa, serta pentingnya membangun kesadaran dalam menulis.
Tagar.co – Gelak tawa tak berkesudahan pecah di ruang Kelas I Ibrahim, SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri), Gresik, Jawa Timur, Jumat (24/04/2026). Siang itu, ruang sederhana yang biasanya dipenuhi suara siswa berubah menjadi arena belajar yang hidup, riuh, hangat, dan penuh energi.
Workshop bertajuk “Menulis Berita dengan Mengaktifkan Enam Indra” ini diselenggarakan oleh SD Muri bekerja sama dengan media berita daring Tagar.co. Namun, alih-alih kaku seperti pelatihan pada umumnya, suasana justru mengalir cair, bahkan cenderung “ramai rasa”.
Baca juga: Menulis dengan Enam Indra Perkaya Teknik Penulisan Berita
Di balik tawa yang bersahutan, terselip kesadaran: menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi menghidupkan rasa.
Belajar Dimulai dari Praktik, Bukan Teori
Adalah Mohammad Nurfatoni, Redaktur Pelaksana Tagar.co, yang siang itu “turun gunung” menjadi pemateri. Sosoknya hadir sederhana, namun energinya segera memenuhi ruangan.
Usai menunaikan salat Jumat dan berbincang singkat dengan Kepala SD Muri Riza Agustina Wahyu Setyawati, M.Pd., pria yang akrab disapa Ustaz Fatoni itu langsung memasuki ruang pelatihan.
Di luar, meski langit menggantungkan mendung tipis, udara di kelas terasa gerah dan pengap. Tiga kipas angin berputar setia, tetapi tak cukup mengusir sumuk yang merayap pelan.
Namun, suasana berubah begitu pelatihan dimulai.
“Langsung praktik dulu, ya,” ucap Fatoni santai.
Sejenak ruangan hening.
“Lho… praktik langsung?” gumam beberapa peserta, sedikit terkejut.
Tanpa menunggu kesiapan, Fatoni melanjutkan dengan tenang, “Praktik dulu itu mempercepat pemahaman dan memperkuat memori.”
Seolah tersihir, seluruh peserta yang terdiri atas guru dan karyawan SD Muri serta tiga guru dari SMP Muhammadiyah 4 Kebomas langsung fokus. Ponsel di tangan, mereka mulai menulis takarir (caption) secara spontan.
Dan dari latihan sederhana itu, lahirlah satu pemenang: Indah Khoirun Nisa’, S.Pd., guru kelas V SD Muri.

Bahasa yang Sederhana, Ternyata Tak Sesederhana Itu
Memasuki sesi berikutnya, Fatoni mengajak peserta menyelami dunia yang lebih “sunyi”: ketepatan bahasa.
“Hilangkan kata yang tidak menambah makna,” ujarnya.
Ia lalu melempar pertanyaan ringan yang justru membuat ruang kembali riuh.
“Siapa yang masih pakai ‘Bapak/Ibu’ atau ‘Ananda’ dalam menulis nama di berita?” tanyanya.
Hening sesaat.
Tiba-tiba suara lantang Abdul Rochim Ashari memecah suasana, “Mila!”
Tawa pun meledak.
Fatoni mendekat, mencari sosok yang dimaksud. “Mila siapa?”
“Mila Sopia…” sahut peserta lain.
“Mila Sopia… pakai ‘H’ nggak?” canda Fatoni.
Wajah Mila memerah, tangannya menutup muka. “Nggak pakai ‘H’, Pak…” jawabnya malu-malu.
Gelak tawa kembali pecah, menghapus penat siang itu.
Namun, di balik candaan, materi tetap mengalir tajam. Fatoni mulai menuliskan kata-kata di papan tulis kusam: indra atau indera, ustaz atau ustadz, salat atau shalat.
Jawaban peserta beragam. Banyak yang yakin, banyak pula yang keliru.
“Tagar.co pakai KBBI,” tegasnya.
Ia lalu melanjutkan dengan contoh yang lebih “menjebak”.
“Kita meneladani Nabi, benar atau salah?”
Sebagian mengangguk yakin.
Fatoni tersenyum, “Kalau meneladani itu artinya memberi teladan. Jadi kita memberi teladan ke Nabi? Tobat … tobat…”
Seisi ruangan langsung pecah dalam tawa panjang.
Belajar terasa ringan, meski sesungguhnya sedang membongkar kebiasaan yang selama ini dianggap benar.

Belajar Menulis, Belajar Merendahkan Hati
Workshop terus bergulir. Kata demi kata diperbaiki. Kalimat demi kalimat diluruskan. Hingga akhirnya pada puncak materi menulis berita dengan mengaktifkan enam indra dan ditutup dengan praktik menuliskannya.
akhirnya peserta sampai pada satu titik yang sama: menyadari bahwa menulis itu bukan perkara mudah taoi bisa dilakukan jika ada niat.
“Kalau penulisannya sudah benar, tugas editor jadi ringan,” ujar Fatoni, disambut tawa kecil yang kali ini lebih reflektif.
Di sudut ruangan, beberapa peserta saling pandang. Senyum tipis mengembang, bukan karena lucu, tetapi karena paham.
Bahwa selama ini, mereka masih perlu banyak belajar.
Fatoni, dengan kemeja putih dan celana hitamnya, terus bergerak ke sana kemari. Tangannya aktif, suaranya stabil, sesekali menyelipkan humor yang menghidupkan suasana.
Ia bukan hanya mengajar, tetapi menghidupkan ruang.
Di penghujung kegiatan, seorang guru berbisik pelan, “Belajar itu memang dari buaian sampai liang lahat…”
Ucapan itu diamini oleh yang lain.
Siang yang awalnya terasa pengap, perlahan berubah menjadi hangat. Bukan karena udara, tetapi karena kesadaran yang tumbuh bersama.
Bahwa menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan perjalanan panjang yang dimulai dari kerendahan hati untuk terus belajar. (#)
Jurnalis Qomariyah












